4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Saatnya Berpikir Ulang Jika Mau Bicarakan Keburukan Orang Lain

http://1.bp.blogspot.com/_53W_Evve3yA/So40Db8bz9I/AAAAAAAAAHI/kk_M9yW5EDo/s200/lisan.JPG

Mulai sekarang berpikirlah dua kali jika ingin membicarakan orang lain, karena setiap kata yang keluar dari mulut kita bisa memperlihatkan sifat dan kepribadian asli kita. Bahkan yang kita tidak disadari, atau menjadi petunjuk apakah kita orang yang baik atau jahat.

Studi terbaru menyimpulkan, cara kita memandang orang lain akan bercerita banyak tentang diri kita, termasuk karakteristik yang baik dan buruk. “Persepsi kita terhadap orang lain akan mengungkap kepribadian kita,” ujar Dustin Wood, PhD, asisten profesor psikologi di Wake Forest University.

Melihat orang lain dengan positif akan memperlihatkan sifat positif kita. Sebaliknya, kata-kata negatif yang kita lontarkan tentang orang lain, dikaitkan pada sifat narsisisme, perilaku anti sosial, atau bahkan neuroticsim atau orang berkarakter labil, ujar tim peneliti.

Dalam studi ini, semua sukarelawan adalah mahasiswa yang diminta untuk menilai karakteristik positif dan negatif dari mahasiswa lain yang mereka kenal. Dan para peneliti menemukan fakta, sukarelawan yang memiliki kecenderungan menggambarkan orang lain secara positif, akan menjadi indikator untuk menunjukkan sifat-sifat positif yang para sukarelawan miliki.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology juga menemukan, seberapa positif kita melihat seseorang akan menunjukkan seberapa besar pula tingkat kepuasan kita dalam menjalani hidup, dan seberapa banyak kita dicintai oleh orang lain.

Sedangkan sebaliknya, persepsi negatif pada orang lain dikaitkan dengan tingginya tingkat narsisme dan sifat anti sosial. “Kecenderungan untuk melihat orang lain secara negatif, mengindikasikan kita mengalami tekanan atau masalah dengan kepribadian,” jelas Wood.

Karena pandangan-pandangan negatif akan menuntun kita untuk mengalami beberapa masalah dalam kepribadian, maka temuan ini ingin mengajak kita semua untuk bisa melihat orang lain dari sisi yang lebih positif. Yang ujungnya akan mampu meredam segala sifat-sifat ‘jahat’ yang kita miliki.

Banyak pola prilaku yang biasa diteliti oleh para psikolog, ditentukan oleh bagaimana individu memandang orang lain dalam lingkungan mereka. Yang nantinya akan berubah bentuk menjadi pilihan perilaku yang kita inginkan, adaptasi dan yang dianggap pantas.

Peneliti mengatakan temuan mereka ini menunjukkan, apa yang kita lihat pada orang lain tidak lebih dari sebuah cerminan terhadap gambaran diri kita sendiri, hanya medianya melalui diri orang lain.

Jadi, masih ingin membicarakan hal yang buruk-buruk tentang orang lain? Saatnya kita berpikir ulang demi kebaikan kita sendiri.

Gosip dapat diartikan sebagai kabar burung, membicarakan seseorang dan biasanya penuh sensasi atau menyangkut hal prbadi. Jika Anda yang bergosip, tentunya tak ada masalah. Coba balikkan situasinya, Anda yang digosipkan. Rasanya telinga berdengung sepanjang hari, hati mencelus tak menduga orang-orang di sekitar akan membicarakan Anda seperti itu. Kabar buruknya, hampir semua tempat kerja pasti dibumbui oleh gosip dan dihuni oleh Si Penggosip.

Kalau isu yang tersebar masih dalam skala biasa-biasa saja, mungkin Anda masih bisa menanggapinya lalu. Lain halnya jika sudah menyentuh ranah profesional, seperti masa depan karier, yang ini harus segera dihadapi. Caranya? Simak tips berikut ini:

Hindari Bicara Masalah Personal
Pepatah mengatakan, ketika Anda bercerita mengenai masalah pribadi kepada orang lain, hanya ada 2 reaksi jujur dalam hatinya. Pertama, orang tadi akan merasa bersyukur karena dia tidak memiliki masalah Anda. Kedua, senang karena Anda mempunyai masalah tadi. Bukan berarti Anda tak boleh mencurahkan isi hati. Tapi, sebaiknya, pilihlah orang yang benar-benar dekat dengan Anda untuk curhat, bukan dengan orang yang dekat karena setiap hari Anda memang harus bertemu dengannya, semisal rekan kerja.

Dengan membuka diri mengenai masalah pribadi, orang lain akan tahu atau malah sok tahu dengan diri Anda lalu membuat penilaian di luar dugaan. Selanjutnya, gosip pun menyebar.

Ya, sekalipun Anda meminta teman kerja berjanji untuk merahasiakan obrolan, bukan berarti ia akan menepati janjinya. Mulai sekarang, pintar-pintarlah memilih topik pembicaraan. Tapi, jangan juga menjadi antipati terlebih dulu dengan teman kerja. Komunikasi yang lancar bersama rekan kerja sangatlah diperlukan.

Konfrontasi Langsung
Gosip di kantor tentang Anda sudah keterlaluan? Sudah saatnya memainkan pion terakhir, yaitu konfrontasi orang yang menyebarkan gosip. Dalam melakukan hal ini, jangan terburu percaya si A bilang ini dan Si B bilang itu karena gosip adalah produk distorsi komunikasi.

Lakukan investigasi kecil-kecilan hingga pencetus pertama kabar burung diketahui hingga kabar yang sampai bukan yang sudah dibumbui macam-macam. Caranya? Bersihkan pikiran dan berpikirlah secara dingin sehingga semua jelas.

Ketika berhadapan dengan penyebar isu, jangan sampai terlihat bodoh. Tenang dan percaya diri, lakukan kontak mata langsung, bicara dengan tegas, sudah cukup untuk mematikan si penggosip.

Asah Citra Diri
Jangan pernah mengeluh, memang banyak gunanya, termasuk pada teman kantor. Buatlah citra diri sebagai pribadi tangguh. Yang sanggup menjalankan prinsip bekerja keras namun mampu beradaptasi dengan politik kantor (termasuk gosip).

Jika sampai Anda digosipkan, jangan terburu panik atau marah. Dengarkan baik-baik dan tanggapi dengan cara yang elegan dan argumen yang kuat untuk menyangkalnya. Selama masih gosip, yang kebenarannya diragukan, buat apa membuang energi dengan marah apalagi menyimpan dendam.

Dekati Si Penggosip
Memutuskan hubungan dengan penyebar gosip? Salah besar. Malah, Anda harus mendekati mereka atau tepatnya menjaga hubungan baik dengan mereka. Setidaknya, sesekali luangkan waktu makan siang bersama mereka.

Selain update kabar terbaru, juga agar lebih sigap menghadapi pergerakan politik kantor yang kadang membingungkan dan merugikan. Namun ingat, jangan mudah terpancing dengan gosip yang dilontarkan.

Bergunjing Soal Atasan
Jangan pernah memakan tangan orang yang memberimu makan. Peribahasa ini cocok sekali menggambarkan pentingnya poin ini. Jangan membicarakan atasan dan tempat bekerja apalagi yang negatif. Jika sampai ke telinga para bos atau manajemen kantor, kelangsungan karier Anda bisa terancam.

Ini tak hanya berlaku di kantor, tapi juga di luar. Bagaimanapun, Anda membawa citra tempat bekerja, tak ingin kan mendengar gosip tak mengenakkan mengenai tempat kerja, datangnya dari Anda pula.

Jika tak puas dengan sistem kerja yang diterapkan oleh perusahaan, lebih baik sampaikan langsung secara terbuka pada mereka. Dan bicarakan secara baik-baik.

Bergosip Boleh, Asal...
Siapa tak suka bergosip? Semua pasti pernah sekali dua kali bergosip, ibaratnya gosip adalah jus segar yang menggoda kala matahari sedang terik. Sah-sah saja bergosip bersama teman kerja dengan asas senang-senang. Tapi, ingatlah, keadaan akan berbalik, tak selamanya Anda berada di atas, tak selamanya pula Anda terbebas dari gosip.

Lagipula, atasan pasti tak senang melihat Anda yang hobinya bergosip sepanjang waktu. Perusahaan menggaji Anda untuk bekerja, kan? Juga, jangan terjebak dengan obrolan gosip yang katanya makin digosok makin sip.

Artinya, jangan mudah terpancing memberi komentar sekadar untuk memanaskan suasana apalagi memberi kabar yang tak jelas benar tidaknya. Jika Anda masih meragukan kebenarannya, lebih baik tutup mulut saja.
(fn/k2m/suaramedia.com)