fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Cara Sukses Hadapi Perubahan

Cara Sukses Hadapi PerubahanFiqhislam.com - Perubahan apa yang kita alami dalam beberapa tahun terakhir? Pastinya sangat banyak, meski terkadang kita kurang memperhatikannya. Anak-anak tumbuh begitu cepat. Warna rambut ternyata sudah keperakan karena diserobot uban tanpa permisi. Promosi yang menuntut tanggungjawab lebih besar pada pekerjaan kita. “Hilangnya” orang-orang lama dan datangnya orang baru. Semua berubah.

Begitu juga dengan bisnis. Dalam industri selular, saya menyaksikan perubahan yang radikal dalam dua tahun terakhir. Tren BlackBerry yang fenomenal telah mengubah cara orang memandang desain handset. Rancang bangun QWERTY ala BB menjadi mainstream karena sangat besarnya peminat di Indonesia.

Handphone produksi China memanfaatkan situasi ini dengan munculnya puluhan “merek lokal” hanya dalam dua tahun terakhir. Berlakunya ASEAN-China FTA meniupkan angin perubahan yang lebih kencang lagi, sehingga “api" handphone China semakin berkobar di sini. Brand-brand besar yang sudah exist puluhan tahun harus merelakan pangsa pasarnya tergerus, baik oleh BB maupun HP China.

Suka tak suka, kita hidup di dunia yang terus berubah. Bagaimana menyikapinya?

Banyak orang resisten terhadap perubahan, yang biasanya didasari dua alasan: perasaan terancam dan malas menyesuaikan diri. Rasa terancam merujuk pada kekuatiran perubahan akan membawa sesuatu yang mempersulit hidup, mengancam kedudukan. Sedangkan malas menyesuaikan diri berkaitan dengan situasi nyaman yang tengah dinikmati.

Ada juga orang yang super cuek terhadap perubahan. Tipe ini seakan-akan berpikir hidup hanya berjalan hari ini, besok urusan nanti.

Juga ada jenis orang yang menyukai perubahan karena memandangnya sebagai tantangan. Orang-orang jenis ini memiliki sikap mental yang sangat cair. Mereka dengan mudah dan leluasa menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya.

Karena perubahan kian cepat, maka paradigma berpikir kita harus terus diset ulang supaya bisa tune-in dengan perubahan. Kita harus mulai belajar memiliki sikap mental lebih cair supaya bisa masuk ke dalam bentuk perubahan apa pun. Sebuah sendok sayur yang keras dan padat bisa menempati mangkuk dengan leluasa, tapi bisakah ia masuk ke dalam mulut botol?

Setiap perubahan harus dijawab dengan perubahan. Kita tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk kasus sama tapi dalam situasi dan jaman berbeda.

Saya ingat, dulu banyak guru terkenal galak. Jaman itu, guru “berhak” mengajar murid dengan tambahan bumbu hukuman fisik: sentil atau jewer. Sekarang, saya tak bisa membayangkan bila ada guru menjewer kuping muridnya di kelas. Besok pagi, bisa jadi kita akan baca beritanya di koran, bahkan di televisi.

Ketika tiba-tiba sebuah gedung pencakar langit berdiri menjulang, ada tiga macam reaksi yang muncul. Pertama, orang yang terkagum-kagum, seraya berdecak “Gila, kok bisa ya?”. Kedua, orang yang terlibat dalam perubahan itu, ekspresi mereka tidak shock seperti orang pertama. Dan ketiga, adalah orang yang menciptakan perubahan itu.

Komposisi ketiganya membentuk piramida; golongan pertama menempati dasar piramid yang lebar, ke-2 di tengah, dan jenis ke-3 paling sedikit jumlahnya dan berada di puncak piramid. Analoginya, dalam sebuah pertunjukan selalu ada penonton, aktor dan sutradara. Seorang pencipta atau sutradara selalu memiliki mentalitas cair. Nah, di mana posisi Anda? Terus Lakukan Inovasi Hadapi Perubahan.

''Hanya perubahan yang bersifat abadi. Dan saat ini kita semua sedang menjadi bagian dari dunia yang sedang berubah dengan kecepatan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.''

Pernyataan itu disampaikan Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk, Micahel D Ruslim saat mengawali tahun baru 2006 silam kepada seluruh karyawan, staf, pimpinan dan direksi Astra Grup.

Menurut Ruslim, sapaan akrabnya, tidak ada upaya yang bisa dilakukan menghadapi perubahan yang kian cepat, tanpa melakukan dan meningkatkan kinerja perusahaan dengan inovasi-inovasi yang kreatif.

Sementara itu, mempertahankan semangat kerja bukan hal mudah apalagi jika menggeluti bidang yang sama dalam jangka waktu tak sebentar. Namun, Kepala Divisi Unsecured Business PT Bank UOB Buana Tbk Iwan Notowidigdo mengaku dapat mengatasi hal itu karena dunia perbankan bergerak dinamis.

"Bank itu selalu [ditemukan] banyak perubahan dan dinamis. Tentu harus terus semangat [dalam bekerja]," ujar ayah tiga anak dengan ramah, pekan lalu.

Pria yang gemar menjaga kebugaran tubuh mulai bergabung di UOB Buana sejak 2007, ketika pertama kalinya perseroan memiliki program kartu kredit. Lulusan jurusan statisik dari Institut Teknik Bandung (ITB) merupakan ujung tombak perseroan dalam rebranding dari Bank Buana menjadi UOB Buana Indonesia.

Pria kelahiran Jerman pada 10 Oktober 1965 telah 20 tahun bergelut di dunia perbankan dan mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi bankir.

Namun, Alumnus Melbourne Business School ini merasa tidak banyak memiliki waktu luang. Karena itu, ketika memiliki waktu luang Iwan pasti menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarga.

"Saya selalu menjalani hidup apa adanya, mengalir seperti air. Saya berusaha sebaik mungkin, tetapi hasil akhir selalu diserahkan pada Tuhan."

Dalam bekerja, tuturnya, kompetisi internal dan mengatur orang-orang agar memiliki pemahaman sama dalam mencapai suatu tujuan merupakan rintangan. "Butuh pengalaman untuk mengatasi berbagai masalah. Saya sadar tidak ada orang yang sempurna, ada saja kesalahan yang terjadi. Namun bagaimana orang itu memperbaiki kesalahan dan tidak jatuh di lubang sama."

Dalam kehidupan pribadi, Iwan tak pernah memaksakan ketiga anaknya untuk menjalani pekerjaan seperti dirinya. Menurutnya, setiap orang berhak menentukan jalan hidup masing-masing, termasuk anak-anaknya.

[yy/suaramedia.com]