22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Seorang Motivator Sukses Pun Pernah Merasa Takut Dan Terpuruk

http://sprucefir.files.wordpress.com/2009/11/group-motivation-s.jpg

SuaraMedia News - Anthony Dio Martin selalu terlihat bersemangat dan berapi-api. Ia selalu antusias ketika berhadapan dengan banyak orang. Ketimbang motivator, ia lebih suka disebut inspirator. Dari mana pria ini mendapat pasokan semangat dan energi untuk dibagikan kepada orang lain? Pernahkah ia sendiri kehabisan gagasan dan merasa terpuruk?

"Motivator juga manusia, kadang bisa down," kata pria kelahiran 21 Mei 1972 ini. Bedanya, ia memandang keterpurukan itu sebagai tantangan, sehingga bisa tetap berpikir positif.

Ia mengaku down saat hasil pelatihannya di sebuah perusahaan retail tak sebagus yang dibayangkan. Ia merasa gagal, namun tidak melihatnya sebagai sesuatu hal fatal. "Itu bagian dari proses," ucapnya.

Kita, lanjutnya, tidak bisa mengharapkan semua orang senang dengan apa yang kita berikan. "Yang penting, kita sudah memberikan yang terbaik. That's it! Kita harus terus berjalan dan jangan menyalahkan diri sendiri," ujarnya.

Apa yang dilakukan bagi diri sendiri ketika merasa down?
Seperti sakit, saat mental kita down, kita harus punya kotak P3K. Kotak P3K saya kala sedang down adalah buku-buku serta tulisan yang memberi inspirasi. Favorit saya Orison Swett Marden, penulis motivasi klasik yang dikagumi Bung Karno. Menurut saya, buku-bukunya luar biasa, mengubah hidup saya. Ada juga karya John Maxwell dan Dave Pelzel. Buku-buku seperti ini yang menginspirasi saya.

Kita mesti mendapatkan informasi seperti itu. Kita boleh saja turun, tetapi jangan sampai tenggelam. Dengan buku-buku itu setidaknya masih ada "pelampung" yang bisa menahan kita.

Selain itu ada lagi?
Saya mencari akses positif, bisa dari pengalaman sukses kita atau orang lain. Di sini pentingnya membaca buku, koran, majalah, atau biografi seseorang, untuk memperkaya diri. Kita juga sebaiknya memiliki mentor. Mentor ini adalah mereka yang bisa kita ajak bertemu dan bicara.

Agar sukses kita perlu orang-orang yang mendampingi dan sebaiknya mentor lebih berhasil dari kita. Lihat saja David Beckham atau Ronaldo, mereka punya mentor, coach.

Program acara saya di sebuah radio dan televisi membuat saya bisa bertemu orang-orang sukses. Beberapa di antaranya sangat dekat dan jadi mentor saya. Salah satunya kakak saya, yang jadi mentor untuk rohani, karena kehidupan spiritual dia bagus. Kakak saya adalah seorang romo.

Mengobrol dengan mereka yang sukses dan menjadi mentor sangat mencerahkan. Cara mereka melihat situasi berbeda dengan cara kita melihat. Itu sebabnya, saya sering mendorong banyak orang untuk bertemu sosok yang bagus di bidangnya dan bisa menjadi mentor.

Anda sering memotivasi orang. Bagaimana memotivasi diri sendiri?
Saya memiliki prinsip SAME untuk memotivasi diri. Self talk, access, mentor, environment. Saya melatih diri sendiri dengan melakukan self talk setiap hari.

Pernah merasa takut atau ragu?
Pernah! Kita masih manusia. Saat akan memberikan pelatihan, kadang muncul rasa takut, khawatir. Ini baik, lho. Michael Jackson masih demam panggung ketika mau konser. Ini menjadi indikasi baik karena kita ingin memberikan sesuatu yang lebih baik. Untuk mengatasinya, saya melakukan self talk.

Hal paling membahayakan yang pernah dilakukan?
Jatuh saat turun tebing. Saat itu saya jadi peserta training. Salah satu sesinya menuruni tebing. Ini terkait dengan pembicaraan tentang impian dan cita-cita. Waktu itu ada tiga impian saya: penulis buku, punya lembaga bagus, dan jadi pembicara yang menginspirasi. Hal ini diimplementasi dengan menuruni tebing yang tinggi, licin, tanpa alat bantu.

Saya bisa menuruninya meski terjatuh. Saya harus masuk rumah sakit, kaki luka dan ada bekasnya, tetapi selamat (Martin memperlihatkan bekas luka di kaki kirinya).

Luka ini menjadi pembelajaran, bahwa untuk mencapai sesuatu tidak ada yang gratis. Selalu ada ongkos atau pengorbanan yang harus dibayar untuk meraih impian kita. Dan ongkos saya waktu itu adalah terluka, tetapi tidak menyesal.

Dengan kondisi saat ini, Anda merasa sudah sukses?
No!

Apa sebenarnya definisi sukses di mata Anthony Dio Martin?
Ini pertanyaan menarik. Saya sering mengajukan pertanyaan ini kepada peserta training. Definisi sukses saya mudah saja. Karena semakin mudah definisi sukses kita, semakin banyak kesuksesan yang dialami.

Sukses bagi saya adalah ketika kita keluar dari zona nyaman dan jadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi itu, setiap orang bisa sukses. Ukuran sukses itu ada di dalam diri kita, kok. Dan yang perlu diingat, selalu ada ongkos untuk mendapatkan sesuatu seperti firewalking atau berjalan di atas bara api. Di ujung sana ada sukses, meski harus dibayar dengan kaki yang sedikit melepuh.

Salah satu contoh sukses Anda?
Saya banyak bergulat untuk bisa menyeimbangkan waktu antarar karier dan keluarga. Saya berupaya meluangkan waktu khusus untuk anak. Di satu sisi, saya bisa memilih pekerjaan untuk mendapatkan uang.

Mungkin bagi beberapa orang, hal itu gampang dilakukan, tetapi bagi saya, bukan perkara mudah. Dari sini saya banyak belajar untuk menyeimbangkan keluarga dan karier. Perjalanan kesuksesan saya adalah menyeimbangkan kedua hal itu.

Apa kesuksesan terbesar yang pernah dialami?
(Terdiam sejenak sambil berpikir). Saya merasa bahagia ketika mengajak mama untuk pertama kali ke luar negeri. Di situ saya memiliki kesempatan berdua dengan mama. Itu momen sukses yang luar biasa.

Saya tahu perjalanan mama membesarkan saya dengan susah payah. Jadi ketika mengajak keluar negeri, saya punya kesempatan untuk membahagiakan beliau. Kesempatan itu jauh lebih bernilai daripada menulis buku, siaran radio dan televisi. Justru hal-hal kecil itu paling berharga. I appreciate the small things.

Menunda Kegembiraan Si Kecil

Seorang motivator seperti Anthony Dio Martin tak boleh kehabisan akal agar selalu dapat memberi motivasi bagi kliennya, termasuk juga untuk buah hatinya. Kepada anak pertamanya, ia mengajarkan delay gratification atau cara menunda kegembiraan.

Maksudnya, ketika sang anak menginginkan sesuatu, ia tidak langsung mendapatkannya. Ia akan dilatih untuk menahan dan mengontrol diri terlebih dulu. Kalau ujian menahan diri ini berhasil dilewati, baru akan mendapat reward.

Teknik ini, menurut Martin, terinspirasi dari penelitian yang dilakukan Daniel Goldman, salah seorang pakar kecerdasan emosional (EQ). Penelitian dilakukan dengan memberikan anak-anak. Mereka lantas dimasukkan ke dalam ruangan khusus.

Anak-anak ini kemudian diminta menahan diri untuk tidak memakan permen selama 30 menit. Kalau berhasil melakukan itu, mereka akan mendapatkan lebih banyak permen lagi.

Setelah diikuti perkembangannya selama bertahun-tahun, dari penelitian itu diperoleh hasil bahwa anak yang mampu menahan keinginannya memakan permen ternyata jauh lebih berhasil dibandingkan dengan anak yang tidak bisa menahan diri. "Ini yang menjadi inspirasi saya, meski memang tidak mudah untuk melakukan itu," kata suami Dr. CW Andralia ini.

Untung saja, teknik ini berhasil diterapkan pada anaknya. Teknik ini selain membuat anak mampu menahan diri, juga mengontrol emosi.

Ketika anaknya ingin menonton televisi di hari biasa misalnya, Martin juga akan memberi pilihan. "Boleh saja menonton televisi satu jam saat ini, tetapi hari Sabtu tidak bisa menonton televisi sehari penuh. Cara seperti ini akan membuatnya berpikir. Akhirnya, anak saya lebih memilih menggambar saja supaya hari Sabtu bisa menonton televisi seharian," ungkap Martin.

Teknik ini juga mengontrol emosi mereka.

Harus Punya Energi Besar

Jadwal Martin saat ini sangat padat. Karena itu, ketika sedang tidak memberi training, dapat dipastikan ia pasti tengah berkutat di kantornya, mengurusi HR Excellency dan Mini Workshop Series Indonesia.

Jika ada waktu luang, biasanya ia memilih membaca. "Input kita harus banyak," ujar Direktur Six Seconds untuk wilayah Indonesia ini. Meskipun demikian, Martin mengharuskan diri berolahraga, sesibuk apa pun. Setidaknya ia bisa rutin berenang.

"It's a must. Saya sebenarnya jadi anggota klub kebugaran, tetapi belum bisa rutin latihan. Jadinya lebih banyak berolahraga di rumah," ucapnya memberi alasan.

Olahraga bagi Martin merupakan suatu kebutuhan, mengingat energi yang terkuras ketika memberikan pelatihan dirasakannya cukup besar.

Jadwal rutin lainnya yang harus dipenuhi adalah siaran di radio setiap hari Kamis, ditambah mengisi acara di sebuah stasiun televisi. Semuanya tentang motivasi.

Begitu juga dengan kolom rutin di sebuah surat kabar dan majalah, yang harus rutin diisinya. Apalagi buku-buku serta CD tentang motivasi sudah diagendakan untuk terbit satu buah setiap semester.

Masih adakah rencana ke depan yang tersimpan di dalam benaknya?

"Saya ingin lebih memopulerkan Mini Workshop Series, yaitu training untuk melatih trainer internal. Trainer internal inilah yang akan mengajari teman-temannya nanti," jawabnya.

Lembaga pelatihan beranggaran rendah ini diharapkannya dapat menjadi sarana, supaya bisa semakin banyak lagi khalayak yang bisa dijangkau dan mendapat manfaat dari suatu pelatihan.

Kegagalan yang Terbaik

Sebagai manusia, Anthony Dio Martin juga mengalami rasa takut, marah, ragu. "Saya masih marah. Hanya saja, ketika marah, saya mengarahkannya pada sesuatu. Buat apa marah-marah kalau tidak ada solusinya?" ujarnya.

Menurutnya, hidup sudah berat. Kalau ditambah emosi yang berat, malah membuat beban jadi semakin banyak.

"Jadi kalau ada masalah cari solusinya. Sebab emosi tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat beban malah semakin sulit," tuturnya.

Keraguan juga pernah muncul di dalam kehidupannya. Ketika membangun aliansi bisnis dengan perusahaan dari luar negeri, Martin sempat ragu apakah bisnisnya bisa sukses.

Namun kemudian ia yakin akan satu hal. "Semakin kita 'memberi makan' keragu-raguan, tindakan yang dilakukan jadi tidak benar. Lebih baik di saat ragu datang bulatkan tekad. Kerjakan saja dan seriusi dengan usaha maksimal," imbuhnya.

Kalaupun kemudian gagal, kegagalan yang terjadi merupakan hasil terbaik yang telah dilakukan. Cara ini yang dipelajari Martin ketika ia mengambil program S2 di Vancouver, Kanada.

Ketika itu, lulusan MBA Strategic Leadership, Master Certified Professional Recruiter dan Psychological Assessor (CPR) dari Kanada ini tidak mendapat universitas terbaik. Padahal, ia termasuk orang yang cukup kompetitif.

Karena universitasnya biasa-biasa saja, Martin pun merasa down. Akibatnya, kuliah hanya dijalani separuh hati.

Hasilnya? Ia tidak dapat apa-apa dan tidak bisa berkembang. Beruntung, ia ditegur kerabatnya. Menurut kerabat itu, kalau Martin terus-menerus menyesali diri, padahal potensi yang dimilikinya sangat banyak, ia tidak bisa menjadi apa-apa.

Martin pun diberi dua pilihan: mendaftar ke universitas lain di tahun depan dan kehilangan waktu kuliah selama setahun atau membulatkan tekad menjadi yang terbaik di universitas yang biasa-biasa saja itu.

"Itu seperti tamparan buat saya," kenang penulis banyak buku ini.

Akhirnya International Licensed Trainer dalam bidang Neuro Linguistic Program (NLP) serta Six Seconds Certified EQ Trainer ini mengambil pilihan kedua. Dan ternyata sekolah yang dianggap biasa-biasa saja justru menerapkan standar sangat tinggi guna mendapat peringkat universitas yang lebih baik.

"Disinilah saya beruntung. Selalu ada hal-hal baik ketika bisa melihatnya," katanya. (fn/cbn)