25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Hapus Ratapi Nasib Dengan Kreativitas Dan Keberanian Besar

http://3.bp.blogspot.com/_jvjXhqxGbE4/ShiwYbUfQVI/AAAAAAAAAAw/3FG5TygcCdU/s320/frustasi.jpg

SuaraMedia News - Restoran itu dimiliki suami istri. Perempuan pemilik restoran itu cerewet, sedikit pelit, selalu marah-marah, dan tak pernah putus mengomel. Nyaris apa yang dilakukan karyawan restoran itu tidak ada yang benar. Suaminya agak pendiam, tetapi sekali memberi perintah, aroma ancaman sangat terasa. Sehingga, walaupun tidak banyak bicara, kalau suami pemilik restoran itu mengatakan sesuatu, artinya dia tidak ingin karyawannya berlama-lama mengerjakan perintahnya.

Suami istri ini sering tidak kompak. Perintah sering tanpa koordinasi, sebaliknya bisa jadi tumpang tindih. Mereka termasuk tipe pemilik yang tidak pernah bersyukur dan menghargai hasil karya anak buah. Berterimakasih saja tak pernah, apalagi memikirkan imbal hasil yang proporsional antara pekerjaan dan kompensasi.

Begitu kira-kira keluhan anak tetangga yang ingin meninggalkan pekerjaan yang sudah ditekuni hampir tiga tahun. Ketika ditanya apa yang akan dikerjakan setelah meninggalkan restoran itu, dia menjawab dengan yakin: “Saya ingin buka warung sendiri.”

Rupanya, selama dua tahun, diam-diam anak ini mempelajari berbagai resep masakan yang menjadi unggulan restoran tempat dia bekerja. “Siapa tahu suatu ketika warung saya akan jadi sebesar restoran majikan saya selama ini.” Begitu cita-citanya.

Untuk memberi motivasi kepada anak ini, saya ceritakan sejarah berdirinya kedai kopi Starbucks. Tiga guru bahasa Inggris Zev Siegel, Jerry Baldwin, dan Gordon Bowker membuka gerai penjualan biji kopi beserta peralatan pengolahannya di Pike Place Market, Seattle, 31 Maret 1970. Tahun 1982, masuk seorang direktur operasi dan pemasaran bernama Howard Schultz. Sepulang dari perjalanan ke Milan, Italia, Schultz mengusulkan membuka kedai kopi berbasis espresso. Ide ini ditolak majikannya. Schultz memutuskan meninggalkan perusahaan tempat dia bekerja, lalu membuka warung kopinya sendiri.

Hebatnya, Schultz akhirnya membeli perusahaan milik majikan bekas dia bekerja dulu, lalu mengganti nama warung kopi itu menjadi Starbucks tahun 1987. Dari sinilah ekspansi kedai kopinya merebak ke seluruh dunia.

Tapi, lebih dari sekadar cerita untuk memotivasi, saya tertegun karena jalan pikiran yang begitu sederhana, tetapi semangatnya luar biasa. Kepolosannya memberi gambaran bahwa kreativitas dan keberanian untuk mengambil sikap seringkali berpotensi membuahkan hasil lebih baik daripada setiap kali hanya menyesali nasib. Ada banyak orang terperangkap dalam keputusasaan, mengeluh tak berkesudahan terhadap perusahaannya yang tidak memberi kepuasan kerja, pimpinan yang sangat egois, perusahaan yang tidak memperhatikan karyawan sebagai manusia, namun tidak banyak orang berani mengambil keputusan untuk segera meninggalkan perusahaan yang dianggap tak layak menjadi tumpuan hidupnya.

Anak tetangga ini juga memberi kontras lain karena hari-hari ini banyak perusahaan besar berisi orang cerdik pandai, tergabung pada asosiasi dagang sangat terpandang, beberapa bahkan memakai konsultan terkenal, tetapi ketika harus menghadapi persaingan dagang dengan negara tetangga, yang terjadi adalah ketakutan luar biasa dan semangat kalah sebelum perang.

Ada pula Eldrick Tont Woods lahir 30 Desember 1975. Panggilan kesayangannya Tiger Woods. Penghasilannya dari memukul bola golf dan menjadi bintang iklan melebihi US$ 1,1 miliar setahun. Kecuali di kejuaran Afrika, semua gelar juara dunia bergengsi pernah dia raih. Juara 71 event PGA Tour, 38 European Tour, 2 Japan Tour, Australasia PGA Tour pernah dia raih sekaligus.

Pendek kata dia pemain golf paling hebat di dunia, terkenal dan kaya raya. Majalah Forbes menempatkan Woods di posisi tiga teratas daftar selebritis paling kaya di dunia.

Sayang, Woods “jatuh” di luar lapangan golf. Dia jatuh bukan karena kompetitornya lebih hebat. Woods terpuruk karena ulah pribadinya.

Ketika kekayaan, keluarga yang harmonis, ketenaran dan kesejahteraan menjadi bagian besar hidup sehari-hari, maka bisa jadi bagian besar itu cenderung menjadi hal biasa, makin lama makin tak berarti. Sebaliknya, bagian kecil terasa lebih indah, lebih nikmat, dan menarik untuk dikejar.

Jika Anda sudah biasa menyantap makanan di rumah makan mewah, memakai piring porselen, sendok garpu mahal buatan Italia, maka kenikmatannya bisa kalah dibandingkan makan lesehan di saung tanpa penyejuk udara. Padahal, Anda hanya makan nasi sambal ikan asin di atas daun. Makannya pun memakai tangan, tanpa sendok.

Sebaliknya orang yang tiap hari makan nasi sambal krupuk, bermimpi-mimpi makan steak di atas piring porselen.

Menganggap hal-hal 'kecil' sebagai hal indah, jamak terjadi ketika orang sudah memiliki atau mencapai hal-hal 'besar' dalam hidupnya. Hal ini bahkan terjadi di hampir semua aspek hidup.

Pemegang saham yang sudah menikmati pertumbuhan deviden cukup besar dari bisnis intinya, belum tentu tidak melirik bisnis lain yang jangan-jangan lebih kecil dari bisnis utamanya.

Karyawan mengeluh, tak puas dengan fasilitas dan suasana kerja di perusahaan. Padahal barangkali perusahaan sudah banyak memberi hidup bagi keluarganya; memampukannya membesarkan anak, dan memberi kesejahteraan bagi keluarganya selama bertahun-tahun.

Begitu pula dengan anggota dewan. Karena sudah jadi wakil rakyat, bagian besar yang mereka miliki adalah predikat menjadi warga negara terhormat. Sementara bagian kecilnya adalah ketenaran. Sehingga, mohon maaf, walaupun setiap kali mengatakan membela rakyat, bagian kecil dari perasaan wakil rakyat itu adalah tampil di panggung. Sampai-sampai banyak yang lupa mengunjungi pemilihnya yang terkena gempa bumi atau kebanjiran. Berjuang memberantas korupsi, sementara SPT pribadi belum tentu bersih.

Semua orang berpikir besar. Ingin mendapat bagian besar, menerima pendapatan banyak. Anda pimpinan, Anda pemegang saham, Anda karyawan, Anda wakil rakyat, Anda wirausahawan, Anda punya profesi apa pun, mungkin Anda sudah memiliki bagian besar yang luar biasa patut disyukuri. Sebab, semua itu mungkin tidak dimiliki orang lain.

Sekadar mengingatkan, jangan-jangan apa yang menarik hari ini dan kita kejar-kejar dengan susah payah, sebenarnya hanya bagian kecil dari hidup kita. Sialnya, gara-gara mengejar bagian kecil itu, bisa-bisa kita kehilangan bagian besar yang sudah kita miliki. (fn/k2n)