fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Melepas Minder, Merangkul Sukses

http://4.bp.blogspot.com/_FHUL2vrDL3k/SSpd49CUbfI/AAAAAAAAA3o/VK3XaBmS86w/S240/gigih,+tidak+mudah+menyerah.jpgSuryanto, 40 tahun, datang dari salah satu desa di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ke Jakarta 20 tahun lalu. Berbekal ijazah pendidikan sekolah menengah kejuruan swasta, ia merantau. Sebenarnya bukan kehendaknya datang ke Ibu Kota. "Saya diajak oleh saudara," katanya bercerita saat dihubungi pekan lalu.

Suryanto sadar tidak banyak pekerjaan yang bakal dia dapatkan dengan latar pendidikannya. Ia pun melamar sebagai pembersih lantai di perusahaan mekanik mesin. Suryanto diterima. Dia berkomitmen sebagian upah bulanannya disisihkan untuk pendidikan bahasa Inggris.

Meski hidupnya menumpang di rumah saudara, pria bersosok pendek ini tetap bersemangat untuk maju. Setahun bekerja, ia pun meraih sertifikat kursus bahasa Inggris. Suryanto ingin pindah kerja. Lantas ia melamar di sebuah perusahaan karoseri dan diterima sebagai tukang las.

Suryanto secara lambat-laun mulai meniti karier permesinannya di berbagai perusahaan. Prinsip hidup yang menjadi modal utama dia adalah pantang tidak belajar meski umur bertambah. Suryanto menjalani hidupnya dengan bekerja sambil meniti pendidikan. Begitu pengetahuannya meningkat, ia mencari pekerjaan sesuai dengan tingkat pendidikan dan kompetensinya. Kini Suryanto menjadi salah satu manajer di perusahaan elektronik asing di Jakarta.

Kariernya yang menanjak itu bukan tanpa penghalang. "Kendala selalu hadir dari luar dan dalam," katanya. Setiap datang kendala, pria yang punya dua anak ini selalu sabar dan ulet. Suryanto mengaku yang paling sulit adalah kendala dari diri sendiri. Pendidikan yang rendah membuatnya minder. Ketika rekan kerja naik jabatan atau mendapatkan bonus, ia hanya pasrah. Sikap ini mulai dikikis setelah Suryanto kerap berdiskusi dengan sahabat dan banyak membaca buku motivasi. "Selalu membaca kisah sukses," katanya.

Lain lagi cerita Indri, bukan nama sebenarnya. Perempuan 25 tahun ini selalu tak percaya diri jika berbicara dengan orang yang tak ia kenal. Rekan kerja dan teman semasa kuliahnya, Rahma Dona, menceritakan Indri sering tak betah kerja karena gugup. "Padahal dia pintar," katanya saat dihubungi pada Rabu lalu.

Konsultan psikologi dari IM Consulting, Iskandar Setionegoro, menilai Indri sebagai orang yang belum berhasil melepaskan gembok penghalang dalam dirinya. Sebaliknya, ia menilai Suryanto adalah figur yang berhasil mengatasi kendala itu. Gembok penghalang, kata Iskandar, kerap muncul dari diri karyawan profesional. Sumbernya bisa beragam, dari penampilan, wajah, pendidikan, hingga latar belakang budaya.

Perjalanan karier ibarat mengemudikan kendaraan. Karyawan yang gagal melepaskan gembok penghalang seperti pengemudi kendaraan yang terlampau sering menginjak rem. "Akan menjadi penghalang dalam melangkah," ujarnya melalui surat elektronik pada Jumat lalu.

Iskandar menyarankan karyawan yang kurang percaya diri meniru cara Suryanto. "Becermin pada pribadi yang sukses," katanya. Selain itu, akan lebih baik jika karyawan mampu mengembangkan visi hidup dan karier yang kuat. "Orang yang punya visi jelas dan bertanggal akan punya determinasi tinggi."

Sebagus apa pun visi, tetap diperlukan tenggat pencapaian agar tidak sekadar mimpi.

Iskandar menilai karyawan harus mampu memotivasi dirinya sendiri. Caranya, dengan membuat standar kepuasan atas hasil kerja. "Jangan bergantung pada tanggapan orang lain," katanya. Hal utama yang lain adalah menanggalkan segala dalih yang menghambat proses perkembangan karier.

Menurut Iskandar, dalih itu bisa bermacam-macam, salah satunya usia. Banyak orang berpendapat menunda kerja keras karena masih muda. Jika terjadi demikian, hal yang perlu dilakukan adalah mencari lingkungan yang berbudaya menanggalkan segala alasan yang menghambat kesuksesan.

Mantan personalia perusahaan otomotif asing ini menilai gembok penghalang kerap ditabalkan oleh manajemen perusahaan. "Memang ada bos yang suka memilih berdasarkan stereotip, seperti tampilan fisik," katanya. Strateginya, karyawan harus menyiapkan mental yang ekstra. "Bila tidak siap, langsung KO pada ronde pertama."

Alumnus psikologi Universitas Indonesia ini menyarankan karyawan yang memiliki manajemen seperti ini untuk menganggapnya sebagai tantangan. Karyawan sebaiknya pantang menyerah dan gigih. Peluang akan datang ketika ada kondisi yang tak ideal. Inilah kesempatan menunjukkan penampilan terbaik. "Akan membuat sadar manajemen selama ini membuat keputusan salah," ujarnya.

Upaya ini tidak boleh berhenti, karena jika menyerah menunjukkan karyawan kembali menggembok dirinya sendiri. "Akan menjadi sang pecundang." Namun, jika usaha sudah dilakukan maksimal dan belum berhasil, "Tidak ada salahnya mencoba organisasi (perusahaan) lain," ujarnya. Menurut Iskandar, agar kelebihan kita bisa dilihat memang harus menemukan organisasi dan manajemen yang tepat. Ketika berhasil, orang yang pernah menolak akan berbalik mendekati.

AKBAR TRI KURNIAWAN | tempointeraktif.com