8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Pola Duplikasi Kesuksesan

http://sherlanova.files.wordpress.com/2010/08/copy-of-a-copy-of-a-copy.jpg?w=640&h=392&crop=1Mang Ono adalah seorang tukang bubur kacang hijau dan ketan hitam yang berkeliling di sekitar RW tempat tinggal saya. Beliau tinggal di Gang Laksana, Cicadas, yang jaraknya 15 menit berjalan kaki santai dari lokasi berjualannya. Sejak tahun 2003, saya sudah melihat Mang Ono berjualan. Awalnya, saya mendapati Mang Ono berjualan bubur sejak pagi hingga sore. Namun sekitar dua tahun belakangan ini, Mang Ono hanya berjualan bubur di sore hari. Di pagi hari, seorang pemuda menggantikan Mang Ono berjualan.

Karena rasa penasaran yang selama ini saya simpan, saya memutuskan untuk menghampiri Mang Ono dan membeli buburnya. Saya hanya sesekali membeli bubur ketan hitam dari Mang Ono. Namun sore itu saya sudah merencanakan pembelian saya. Saya sengaja membeli bubur supaya bisa mendapatkan kesempatan untuk mengobrol dengan beliau: saya ingin tahu apa cerita beliau. Perawakan Mang Ono cukup gemuk dan agak tinggi, sedikit lebih tinggi dari saya. Untuk orang seusianya, Mang Ono bisa dibilang cukup segar. Maka, pikir saya, mungkin Mang Ono belum lama berdagang bubur kacang.

“Mang, biasanya dagang dari pagi. Tapi kok gak keliatan lagi sekarang kalo pagi? Sekarang teh cuma sore aja ya, Mang?” tanya saya, pura-pura tidak tahu. (Sebelumnya, saya sudah sempat mengobrol dengan putranya, yaitu pemuda yang menggantikan Mang Ono berjualan di pagi hari. Saya sudah melakukan wawancara sedikit dengan putranya.)

“Iya, Neng. Itu putranya ‘Mang. Dia jualan pagi, terus Mang gantian sama dia, sampe sore.” Mang Ono menjawab pertanyaan sambil menyendoki bubur pesanan saya.

“Hooh…,” komentar saya manggut-manggut. “Udah lama, Mang, dagang bubur teh?” tanya saya lagi.

Dan Mang Ono menjawab, ia sudah berjualan sejak tahun 1982.

Terus terang saja, saya cukup kaget dengan jawaban itu. Saya berseru sambil tersenyum setengah tak percaya, “Wah, Mang, saya aja belum lahir Mang, tahun segitu mah!”

Mang Ono tersenyum mendengar komentar saya. “Iya, Neng. Dihitung-hitung teh, sudah 28 tahun…”

Sejak saat itu saya berkawan dengan Mang Ono. Dari beberapa obrolan kami, saya kemudian tahu bahwa Mang Ono berasal dari daerah Tasikmalaya. Putrinya dua orang, putranya satu orang (anak kedua), yang ikut berjualan sejak dua tahun lalu. Putri tertuanya sudah menikah, putri bungsunya di sekolah menengah (saya lupa SMP atau SMA). Sebelum bulan puasa dimulai, Mang Ono sempat bertemu saya sebelum pamit pulang ke Tasikmalaya, untuk menggarap sawah selama bulan Ramadhan ini, karena omset berdagang bubur pasti rendah selama bulan puasa.

Dari situ, saya akhirnya juga tahu, bahwa menantu Mang Ono pun berdagang bubur kacang, merangkap sebagai guru ngaji.

***

Pohon Profesi-Keluarga

Mengetahui komposisi keluarga inti Mang Ono, mau tidak mau saya teringat beberapa pohon profesi-keluarga Yahudi yang diceritakan Malcolm Gladwell di bukunya ‘Outliers: Rahasia di Balik Sukses’. Namun kita lihat terlebih dahulu pohon profesi-keluarga Mang Ono:

Orangtua Mang Ono tampaknya berprofesi sebagai petani di kampung halamannya (saya belum menanyakannya). Dan saya juga tidak bisa menyertakan generasi ketiga dari keluarga Mang Ono, karena Mang Ono baru memiliki satu cucu yang masih kecil. Jadi saya tidak sertakan di sini karena datanya memang belum ada.

Berikutnya adalah pohon profesi-keluarga yang saya ambil dari Outliers bab 5, ‘Tiga Pelajaran Dari Joe Flom’, halaman 172:

Dan berikut ini adalah pohon keluarga penyamak kulit yang ada di halaman yang sama:

Bisa dilihat perbedaannya?

***

Pola Duplikasi Kesuksesan

Sebenarnya apa yang membedakan keluarga Mang Ono dengan keluarga-keluarga yang serupa dengan keluarga tempat Joe Flom (dari buku Outliers) berasal?

Dalam pohon profesi-keluarga Mang Ono, Mang Ono berada di puncak pohon, yang sejajar dengan generasi kakek Joe Flom (anda mesti membaca bab 5 Outliers untuk tahu siapa Joe Flom yang saya sebut-sebut dari tadi). Mang Ono dan generasi kakek Joe Flom sama-sama hijrah dari tempat asalnya. Mereka sama-sama punya profesi ‘seumur hidup’ yang mereka jalani (Mang Ono berencana pensiun dari berjualan bubur 4-5 tahun lagi). Anak-anak mereka lebih tinggi tingkat pendidikannya (anak-anak Mang Ono yang sudah besar lulusan SMA, lebih tinggi dari Mang Ono).

Perbedaannya terletak pada profesi generasi kedua mereka.

Pada generasi kedua keluarga pembuat pakaian, anak-anaknya tidak sekedar menjadi pembuat pakaian saja. Mereka menjadi pembuat pakaian yang memiliki toko sendiri. Sementara itu, generasi kedua dari penyamak kulit mengembangkan usaha orangtuanya, dengan nilai tambah produk yang lebih baik, yaitu sepatu kulit.

Dalam kasus Mang Ono, anak dan menantu beliau pun berprofesi sebagai tukang bubur kacang (setidaknya sampai saat ini). Generasinya berganti, tapi profesinya belum berubah. Mang Ono telah sukses menduplikasi profesinya pada anak-menantunya.

‘Duplikasi’ secara sederhana berarti ‘proses pembuatan salinan yang persis seperti aslinya.” Persis seperti yang terjadi dalam pembuatan duplikat kunci. Itulah yang terjadi pada profesi keluarga Mang Ono.

Kehidupan Mang Ono dan keluarganya membuat saya merenung terus-menerus belakangan ini. 28 tahun berjualan bubur kacang, dengan penghasilan rata-rata satu setengah juta rupiah per bulan (dalam kurs rupiah saat ini), begitu betah dijalani. Namun bukan itu yang membuat saya merenung. Saya merenungi kondisi Mang Ono lantaran generasi keduanya punya profesi yang sama.

Saya menyadari bahwa di situlah letak perbedaan yang mendasar antara keluarga Mang Ono dan Joe Flom. Situasi asalnya bisa dibilang mirip, tapi pola duplikasinya berbeda. Mang Ono menduplikasi profesi, sementara keluarga Joe Flom menduplikasi kemajuan.

***

Kemajuan dan kesuksesan memerlukan ‘perubahan’…

…dan kemauan dan keberanian mengambil resiko dan ‘pertolongan’.

Perbedaan lain dari Mang Ono dengan keluarga Joe Flom adalah situasi dan tekanan yang mereka hadapi pada proses ‘hijrah’ mereka ke tempat yang baru.

Yang pertama adalah lokasi hijrah. Mang Ono hijrah dari Tasikmalaya ke Bandung. Secara geografis, lokasi kedua kota ini masih memungkinkan Mang Ono untuk munggahan bersama keluarganya satu hari sebelum Ramadhan. Generasi kakek Joe Flom bisa dikatakan pindah ‘untuk selamanya’. Kampung halaman mereka berada di seberang lautan, di benua lain. Bisa dibilang, generasi kakek Joe Flom membakar kapal mereka begitu mereka tiba di Amerika di abad 19.

Perbedaan selanjutnya adalah budaya. Budaya penduduk Tasikmalaya dengan budaya penduduk Bandung masih berada dalam induk yang sama, budaya Sunda. Jadi, Mang Ono tidak akan mengalami gegar budaya ketika tiba di Bandung 28 tahun yang lalu. Terutama sekali, 28 tahun yang lalu, saat Bandung belum se-metropolitan sekarang. Sementara itu, kakek Joe Flom adalah imigran Yahudi dari Eropa Timur. Secara budaya, Eropa Timur dan New York berbeda jauh. Dan yang paling utama, Joe Flom adalah keturunan Yahudi, yang pada tahun 1930-an diperlakukan secara diskriminatif (seperti halnya ras non-kulit putih lain di Amerika, misalnya orang Afro-Amerika).

Namun, apakah kemudian faktor-faktor seperti lokasi hijrah dan perbedaan budaya kemudian bisa menjadi alasan bagi ke-belum-majuan atau ketidak-majuan? Tidak. Jawabannya tidak. Situasi dan kondisi adalah sesuatu yang given, tapi bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Mengapa?

Jawabannya ada pada kisah Mang Yana.

Mang Yana adalah pemilik warung yang berada di daerah tempat Mang Ono tinggal. Tukang-tukang bubur kacang di daerah Gang Laksana membeli bahan baku bubur kacang dan ketan hitam dari warung Mang Yana. Daerah Gang Laksana memang merupakan area dimana tukang-tukang bubur kacang di Cicadas terkonsentrasi. Sebelum membuka warung kelontong di tahun 2006, Mang Yana pun dulunya berdagang bubur kacang.

“Sejak kapan, Mang, dagang buburnya?” tanya saya. Mang Yana menjawab, “Dari 1982-an, Neng. Yaah,  sejak Gunung Galunggung meletus aja, Neng.” Namun Mang Yana datang setelah Mang Ono. Mang Ono sudah terlebih dulu tiba di Cicadas dan berjualan bubur.

Ketika saya tanya mengapa kemudian memutuskan untuk membuka warung, Mang Yana berkata, “Yah, pengen ada perubahan Neng. Pengen maju gitu, Neng. Ini juga modal dari orang. Join-an, gitu, Neng.”

“Tapi pas buka warung juga, Mang mah masih dagang bubur. Gantian sama istri jaga warungnya. Pas lahir anak ketiga aja, Mang berhenti jualan bubur.  Kasian istri; anak bungsu kan masih kecil (13 bulan).” Lanjut Mang Yana.

Putra-putri Mang Yana berjumlah tiga orang. Anak tertua laki-laki, lulus SMA tiga tahun lalu. Sekarang dia bekerja di salah satu minimarket 24-jam. Anak keduanya masih SMA, putri. Anak ketiga, yang masih 13 bulan, putri juga.

“Putra Mang yang pertama teh, pengen banget kuliah. Sempet ikut SNMPTN dan seleksi masuk STAN. Gak keterima, Neng. Mungkin kesel (bosan) karena gak sekolah, jadi sekarang kerja. Anaknya teh, keliatan setengah-setengah waktu itu. Mungkin karena liat orangtuanya gak kuat biaya…”

“Tapi pengen banget dia (untuk) sekolah, Neng,” sambung Mang Yana dengan penuh harap dan tatapan sendu.

“Apa yang terjadi pada kita sebelumnya mungkin bukan hasil dari pilihan-pilihan kita, tetapi menjadi pribadi apa kita setelahnya, itu sepenuhnya tanggung jawab kita.” ~Mario Teguh

Mang Ono dan Mang Yana adalah potret kecil dari realita masyarakat kita. Mereka berangkat dari situasi yang mirip, profesi awal yang sama. Kita masih belum tahu perkembangan pohon profesi-keluarga mereka, karena hidup mereka masih terus berlanjut. Namun pola duplikasi kesuksesan mereka berbeda. Tindakan mereka pun berbeda.

Melihat kondisi mereka saat ini, saya membuat prediksi kecil-kecilan, bagaimana kira-kira perkembangan kehidupan mereka. Mungkin, sekali lagi mungkin, keluarga Mang Ono masih memerlukan satu generasi tambahan agar taraf kehidupannya naik beberapa tingkat dibandingkan sekarang. Kecuali, mudah-mudahan, ada ‘keajaiban’ kecil yang menjadi titik balik buat kehidupan keluarga Mang Ono, sehingga pada generasi ketiga, kehidupan keluarganya jauh lebih baik. Sementara itu, keluarga Mang Yana mungkin sudah bisa menikmati ‘lompatan’ kemajuan di generasi ketiganya.

Namun saya berharap, yang terjadi nanti lebih baik dari prediksi saya. Saya berdoa, ‘keajaiban’ kecil itu terjadi. Amiiin…

sherlanova.wordpress.com