fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Bukannya Besok, Bukan Pula Kemarin, Tapi Sekarang

Bukannya Besok, Bukan Pula Kemarin, Tapi SekarangKesuksesan itu berada dalam ranah tindakan. Betapa banyak orang yang sarat dengan ide-ide cemerlang namun tidak pernah mencapai apapun, karena mereka tidak pernah memutuskan untuk SEGERA bertindak. (Mario Teguh).

Kesuksesan memang berawal dari impian. Karena impian itu sejatinya merupakan doa, sedangkan Tuhan adalah Sang Maha Kaya, maka impian pun harus dicanangkan setinggi mungkin. Mekanisme ini adalah sebuah keniscayaan, sebuah hukum alam. Di dalam fisika dikenal adanya konsep
Dualisme Materi-Energi. Materi (kesuksesan) sesungguhnya berasal dari energi (impian), dan demikian pula sebaliknya.

Perubahan dari
energi menjadi materi itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Konsekuensinya, impian sekecil apapun TIDAK akan pernah terwujud menjadi sebuah hasil selama TIDAK ada tindakan yang menyertainya. Mereka yang "sekedar" hanyut dalam ranah impian dan "mengesampingkan" tindakan nyata, sesungguhnya telah mengingkari hukum alam itu sendiri.

Keinginan untuk berhasil merupakan naluri dasar manusia, karena merupakan bagian dari upaya untuk
survive (bertahan). Bila demikian, lantas apa yang menyebabkan sebagian dari kita secara sengaja berusaha "menghalangi" dirinya sendiri untuk berhasil? Apa yang membuat sebagian dari kita memutuskan untuk "menunda" tindakan?

Kebiasaan "menunda" tindakan merupakan cermin dari gagalnya pikiran untuk menerima DIRI ini dengan apa adanya. Hal ini terjadi karena diri ini berada "
di sini - saat ini" namun pikiran sedang berada "di sana - besok, lusa atau bahkan kemarin dulu". Secara kongret, konflik ini akan terwujud dalam ungkapan seperti:

-          Besok saya akan mengerjakannya jika saja....


-          Nanti saya akan mempelajarinya kalau sudah...

-          Dulu saya pasti sudah melakukannya kalau saja saya tidak......

Ungkapan di atas adalah contoh pengingkaran diri ( self denial). Bukankah pengingkaran tersebut nadanya "setara" atau "sejiwa" dengan ungkapan berikut ini:

-          Besok saya pasti akan berbahagia bila saya sudah berhasil meraih A, B, C,...


-          Dulu sebetulnya saya sudah bahagia, jika saja saya tidak mengalami A, B, C,...

Sekecil apapun talenta yang saat ini "melekat" dalam diri Anda, sesungguhnya sudah LEBIH dari sekedar cukup untuk memulai sebuah langkah awal. Dan syarat untuk bisa memulainya sangatlah sederhana: ber-BAHAGIA-lah dengan diri Anda SAAT INI.

Bila kita sudah mampu berdamai dengan "saat ini", mata batin akan makin terbuka bahwa ternyata ada begitu banyak KEMUNGKINAN yang bisa diraih. Masa lalu bukan untuk disesali, karena masa lalu adalah PEMBELAJARAN yang telah mengantarkan kita pada kondisi "saat ini". Semakin kita mampu untuk bersyukur
, semakin banyak pula keberlimpahan yang akan menghampiri. Ini adalah sebuah konsekuensi logis.

Secara
spiritual digambarkan bahwa "Bila Anda mengenali DIRI, maka Anda akan mengenali Tuhan..." Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai "Bila Anda ikhlas menerima DIRI Anda saat ini, maka Anda akan menjumpai Tuhan...." Ya, Tuhan ada dalam DIRI ini, di hati ini. Tapi karena pengingkaran terhadap "saat ini", kita kerap mengabaikan suara Tuhan dalam hati kita masing-masing. Sungguh ironis, Sang Maha Besar telah "dikecilkan" oleh pengingkaran yang sesungguhnya sangat rapuh...

Bila kita sudah merasakan "kehadiran" Tuhan dalam DIRI kita, maka akan tergambar jelas
road map menuju sukses. Dalam batin kita akan ter-ILHAM-kan langkah-langkah apa yang harus ditempuh untuk mewujudkan impian. Dan tentunya, setiap langkah yang diambil menjadi sangat ringan, karena kita sadar, bahwa kita telah "terhubung" dengan Sumber Ilmu Yang Maha Luas, Kesadaran di atas segala kesadaran.

Para motivator pun kerap menyerukan, bahwa masa lalu tidak ada hubungannya dengan masa depan. Yang penting adalah apa tindakan kita saat ini. Tindakan nyata yang harus dikerjakan saat ini, dengan kondisi diri saat ini, dengan bakat yang ada saat ini. Bukan besok, bukan pula yang sudah lalu, tapi
SEKARANG.

Kebahagiaan itu bukan terletak pada apa yang BELUM kita miliki. Bukan pula terletak pada apa yang PERNAH kita miliki. Kebahagian itu terletak di dalam diri ini, SAAT INI. Keikhlasan untuk menerima diri ini apa adanya, adalah kunci untuk memulai langkah awal menuju keberhasilan.

Penulis : Tommy Setiawan

andriewongso.com