fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Miliki Sifat Egois, Atau Mati!

Miliki Sifat Egois, Atau Mati!Mungkin Anda berpikir “ngeri kaalii…” pernyataan tentang ego ini. Sebenarnya nggak juga sih, hanya saja umumnya persepsi yang berkembang tentang ego mengalami pelebaran makna menjadi negatif. Saya pun sebelumnya juga berpandangan negatif tentang istilah egois.

Tapi menurut wikipedia,
ego dalam bahasa latin dan yunani(kono) ternyata berarti “Saya”. Kata ego juga biasa digunakan dalam bahasa inggris sebagai sinonim dari Self (diri sendiri), identitiy (jati diri), atau sejenisnya. Ini berdasarkan asal kata dari ego tersebut.

Sekarang, coba perhatikan pendapat beberapa ahli yang berkembang tentang egoisme.


Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustasi (wikipedia) – Sigmund Freud

Egoisme adalah “percikan api ilahi” yang tertanam dalam diri manusia, dan hanya orang yang sudah “menyalakan percikan api ilahi dalam diri mereka” yang akan mencapai hal-hal besar – Edward Bok

Berangkat dari pendapat ini, makanya wajar saat saya mengatakan bahwa kita akan “mati” saat tidak memiliki ego atau egoisme. Bagaimana tidak, tanpa ego yang juga berarti jati diri (identity) atau identitas unik manusia, maka kita seolah hidup tanpa arah, harapan, keinginan, latar belakang, kemampuan dan sifat. Dimana kesemua hal tersebut merupakan bagian dari jati diri manusia seperti dalam artikel saya sebelumnya.

Sampai disini mungkin masih ada yang membantah tapi bagaimanapun juga ada empat fakta kehidupan yang harus menjadi pedoman bahwa setiap orang:


    Egois. Dalam hal ini siapapun punya kecenderungan untuk mementingkan diri daripada orang lain.
    Lebih tertarik pada diri sendiri daripada apapun lainnya
    Mempunyai keinginan untuk merasa penting dan mempunyai nilai
    Mengharapkan persetujuan dari orang lain, sehingga bisa menyetujui diri sendiri.


Saya sangat tertarik dengan pendapat Sigmund Freud yang menyiratkan bahwa ego merupakan “mekanisme kekebalan” untuk mengantisipasi frustasi. Jadi asumsi saya seperti ini:

Manusia mempunyai dua level kejiwaan. Pertama level frustasi; seperti takut, marah, dan cemas. Kedua level bahagia; seperti syukur, sabar, fokus, dan tenang. Disinilah ego berperan untuk menangkal transisi perasaan dari bahagia menjadi frustasi.

Memahami Ego Manusia

Mungkin kita biasa menganggap bahwa seorang egois karena berpikir terlalu tinggi tentang dirinya. Dengan asumsi itu maka ada upaya menurunkan nilai diri agar terlepas dari “jeratan” egois. Padahal kenyataan bahwa seorang yang terlihat egois justru karena mempunyai nilai diri rendah.

Sikap egois yang ditunjukkan adalah upaya untuk mendapatkan “makanan” bagi egonya. Sehingga ego tersebut mempunyai tenaga untuk menaikkan perasaan pada taraf bahagia. Seperti manusia yang butuh makan sedikitnya 3 kali sehari, ego juga butuh makanan dalam porsi cukup berupa respek/penghargaan, persetujuan, dan perasaan puas.

Itulah alasan kenapa banyak berkembang program pengembangan diri (self help) yang secara umum merupakan prosesi untuk “memberi makan” ego secara otomatis, tanpa sepenuhnya melibatkan orang lain. Dengan harapan kita dapat tampil sebagai pribadi sejati dan mampu memberi “makan” terhadap egoisme yang masih kelaparan.

barengiqbal.com