fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

How To Be Likeable

How To Be LikeableMenjadi sosok yang populer, diterima dimana pun dengan hangat dan ramah, dikenal banyak orang dalam konteks positif (karena ada juga yang terkenal tapi dari sisi negatif), tentu menjadi idaman setiap orang. Entah kalau ada yang tidak ingin seperti ini dan lebih memilih forever alone tanpa ada kehidupan sosial yang menyenangkan. Betul tidak?

Kadangkala, goal seperti ini yang pada akhirnya membuat kita kemudian mencari teknik-teknik praktis “How To Make People Like Me” atau “How To Be Likeable”. Gimana caranya supaya orang lain bisa suka dengan saya dan menjadikan saya sebagai orang yang berpengaruh bagi mereka, lebih bagus lagi bisa menjadi pemimpin mereka? Dan jujur saja ini menghabiskan energi. Capek. Hidup untuk mencari pengakuan demi pengakuan.

Apakah lantas ada yang salah dengan goal tersebut? Tidak ada yang salah dengan semua goal tersebut. Hanya mungkin kita perlu mencari jalan yang lebih menyenangkan untuk dilakukan. Jalan yang mungkin bisa membuat kita lebih bisa menikmati hidup, tanpa harus susah payah mencari pengakuan orang lain.

Ada sebuah quote bagus yang saya ingat kembali dan dulu sering banget saya jadikan pedoman saat menjalankan bisnis MLM, yang notabene sebagian besar kegiatannya mewajibkan kita berinteraksi dengan siapapun.

“People don’t care how much you know until they know how much you care” – John C. Maxwell

Anda bisa menangkap maksud dari quote tersebut? Lihat fokus obyeknya. Bukan diri kita, melainkan orang lain di lingkungan kita.

Kembali ke persoalan “how to be likeable person”. Yang pertama jelas, Anda harus suka dengan diri Anda sendiri. Hargai diri Anda dan sering-seringlah memberikan reward untuk diri sendiri. Itu yang sifatnya ke dalam atau perubahan internal di dalam diri Anda.

Yang kedua, poin eksternal atau sifatnya keluar adalah apakah ANDA SUDAH MENJADI SOSOK PRIBADI YANG MUDAH MENYUKAI ORANG LAIN? Ini pertanyaan mendasarnya. Ingat bahwasanya ada hukum sebab akibat, hukum timbal balik. Bagaimana Anda bisa mengharapkan orang lain menyukai Anda kalau Anda sendiri tidak bisa menyukai mereka. Bagaimana Anda mengharapkan respect dari orang lain kalau Anda tidak pernah respect kepada mereka.

Ramah pada orang lain

Mengapa kita harus menghargai orang lain? Sekalipun level mereka, mungkin, berada di bawah kita. Lupakah kita bahwa pada dasarnya manusia adalah SAMA di mata Tuhan, kecuali yang membedakan adalah keimanan dan ketaqwaannya?

Jadi, kalau saat ini Anda masih berusaha keras membuat bagaimana orang lain suka kepada Anda kenapa tidak dibalik saja. Anda yang lebih dahulu belajar menyukai mereka dengan tulus. Bukan sekedar baik karena ada maksud. Ketulusan hati itu memancar keluar. Dan menggunakan cara ini rasanya jauh lebih menyenangkan. Karena sejelek apapun orang di mata kita, biasanya ada satu poin positif dari mereka. Tinggal kita cari dan fokus disana. Ingat, kehidupan adalah sekolah yang luar biasa dan siapapun orangnya bisa menjadi guru kita.

Oleh : Arief Maulana
ariefmaulana.com