21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Tujuan Utama vs Tujuan Penghantar

Tujuan Utama vs Tujuan PenghantarFiqhislam.com - Dalam satu kesempatan workshop seorang peserta wanita bertanya, "Bagaimana caranya mendapatkan klien banyak untuk bisnis saya?". Pertanyaan ini cukup mengejutkan yang membuat saya bertanya balik, "Apa yang ibu dapatkan dari klien yang banyak ini?". Ia spontan menjawab, "Tentunya uang berlimpah dong..." Jawaban yang disambut gelak tawa ini sepertinya memang jawaban normal yang biasa kita dengar dari sebagian besar orang.

Saya pun meneruskan bertanya, "Dari uang yang berlimpah ini apa yang sesungguhnya ibu inginkan?" Si ibu menjawab tanpa ragu-ragu, "Sebetulnya saya ingin membangun sekolah gratis buat remaja yang kurang mampu. Dalam visi saya sekolah ini mampu mengajarkan remaja itu bagaimana caranya menjadi entrepreneur sejak mereka kecil..."

"Waah...sangat mulia sekali tujuan si ibu ini," pikir saya.

Namun kalau kita amati, si ibu ini fokus pada tujuan yang salah. Tujuan utama dia adalah membuat sekolah entrepreneur bagi remaja. Namun fokus dia sekarang tertuju pada bagaimana caranya mendapatkan klien yg banyak untuk bisnisnya.

Mendapatkan klien banyak dalam konteks ini bisa kita bilang sebagai tujuan penghantar, bukan tujuan utama. Setiap hari kita selalu bergerak menuju tujuan. Yang sering kita tidak aware, apakah pergerakan kita ini menuju tujuan utama atau hanya sekedar tujuan penghantar. Seandainya si ibu itu fokus pada tujuan utama, tentunya dia tidak perlu khawatir bagaimana mendapatkan klien. Bisa saja sekolah gratis ini mendapatkan sponsor atau ada orang yang bersedia menyumbang gedung, atau apa saja.

Begitu kita menyadari tujuan utama kita dan menaruh perhatian kesana, segala kemudahan pasti muncul. What you focus on, expands. Pikiran bawah sadar kita tiba-tiba bergerak sendiri dan mengundang orang-orang disekeliling untuk tertarik pada apa yang kita kerjakan.

Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk selalu bertanya. Bertanya pada diri sendiri, misalnya "Kenapa saya menginginkan ini?". Ganti "ini" dengan uang, jodoh, karir, atau apa saja. Pertanyaan ini akan mengundang jawaban yang memberitahu alasan kenapa Anda menginginkan sesuatu.

Jika alasan yang Anda temukan ternyata tidak terlalu kuat, teruslah bertanya sampai Anda mendapatkan alasan yang meyakinkan. Seperti contoh si ibu diatas. Alasan dia untuk mendapatkan klien yang banyak ternyata tidak cukup kuat. Setelah digali ternyata alasan utamanya adalah keinginan luhur dia untuk membuat sekolah bagi remaja.

Dengan menyadari kita punya alasan kuat untuk mencapai sesuatu, pikiran kita menjadi lebih fokus. Diri kita tidak mudah goyah saat dihadapkan pada rintangan. Alasan yang kuat seperti lem yang merekatkan diri kita dengan tujuan utama yang ingin kita capai.

Oleh Al Falaq Arsendatama
pengembangandiri.com