10 Safar 1443  |  Sabtu 18 September 2021

basmalah.png

Anak Kunci

Anak KunciFiqhislam.com - Ada sebuah pepatah bijak kuno yang berbunyi, "Anak kunci terakhir biasanya yang membuka pintu".

Jika Anda memegang rencengan anak kunci sebuah rumah dengan banyak kamar yang baru saja Anda beli, dan tentu Anda tidak tahu manakah kunci yang tepat untuk membuka rumah Anda, Anda pasti terpaksa mencoba setiap anak kunci tersebut. Lalu, kenapa Anda mau repot-repot berusaha mencari anak kunci yang tepat dengan mencobanya satu per satu? Karena rumah itu telah Anda beli dan menjadi milik Anda. Untuk dapat memanfaatkan semua ruangan di rumah itu dengan maksimal, Anda harus bisa mencoba setiap kunci untuk setiap ruangan.

Dalam hidup ini, masing-masing kita seolah memegang satu rencengan anak kunci. Disadari atau tidak disadari, hidup ini menawarkan banyak "ruang kesempatan" yang harus kita buka satu per satu. Tugas kita sesungguhnya adalah mencoba membuka setiap pintu itu dengan banyaknya pilihan anak kunci yang tergenggam di tangan kita. Orang yang cepat berputus asa umumnya adalah mereka yang tidak tahan uji dan tidak mau membuang waktu dan tenaga mereka untuk mencoba setiap anak kunci untuk membuka setiap pintu yang ada. Mereka malah lebih memilih untuk meninggalkan "rumah impiannya yang megah" itu dan merasa cukup dengan "menggelar tenda" saja daripada memiliki "rumah impiannya". Tapi di kemudian hari, mereka tercengang begitu melihat banyak orang yang ternyata bisa memiliki "rumah impiannya masing-masing".

****

Bayangkan jika setiap orang sadar betul bahwa dirinya sebenarnya SUDAH memiliki apa pun yang diimpikannya. Tugasnya hanya satu, yaitu tak pernah menyerah untuk selalu mencoba dengan gigih setiap anak kunci yang diberikan-Nya hingga semua pintu bisa terbuka. Kehidupan telah memilah-milah. Sebagian akan memilih untuk berusaha keras dengan gigih dan bersemangat menemukan anak kunci yang tepat dan memiliki sepenuhnya rumah impiannya itu. Tapi, sebagian lagi hanya akan menggerutu dan terus menggerutu, bahkan membuang "satu renceng anak kunci" kesempatan dan lebih memilih untuk "menggelar tendanya sendiri".

oleh Samuel Tan