pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Maaf, Waktu Anda Habis

Maaf, Waktu Anda HabisFiqhislam.com - Pasti banyak di antara pembaca pernah mengalami kejadian ini. Dalam suatu pertemuan, entah rapat atau seminar, kita diberi kesempatan berbicara menyampaikan gagasan dalam waktu singkat, katakanlah sepuluh atau lima belas menit.

Sering kita jumpai, orang berbicara tidak langsung pada inti persoalan, namun lebih banyak pendahuluan, basa-basi ataupun bercanda, sehingga pimpinan sidang terpaksa mengingatkan dan memotong. “Maaf, waktu Anda habis”.

Ketika dipotong orang pun ngedumel dan menyesal. Banyak gagasan penting yang belum disampaikan, tetapi waktu habis. Ada juga penyesalan, mengapa ketika berbicara isinya tidak sesuai dengan yang diinginkan dan dipersiapkan. Rasanya ingin berbicara lagi lebih baik, tetapi jatah waktu sudah habis.

Demikianlah, saya berulangkali mengalami peristiwa semacam itu. Tiba-tiba suatu saat pikiran terhentak dan terhenyak. Bukankah drama hidup mirip sekali dengan acara seminar itu? Banyak sekali keinginan untuk berbuat kebaikan selama hidup ini, tetapi kita terkecoh untuk melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak bermakna. Kita hidup berleha-leha, hanya mengejar kesenangan namun belum tentu berujung pada pada kebaikan.Tak disadari beragam penyakit mendekat dan menjerat dan tiba-tiba malaikat Izrail datang dan melakukan interupsi: maaf jatah umur Anda habis!

Ketika sang moderator seminar kehidupan mengingatkan waktu kita tinggal sedikit, baru tersadar dan menyesal, mengapa jatah umur yang kita miliki tidak digunakan sebaik-baiknya. Begitu banyak daftar keinginan yang belum tercapai semata karena kita semua lengah dalam memanfaatkan jatah waktu. Akal dan nurani masing-masing bisa menimbang dan menilai dengan jernih dan obyektif, bahwa apa yang telah dilakukan selama ini ternyata bobotnya rendah. Banyak memakan biaya, waktu dan tenaga tetapi nilai gunanya untuk memenuhi kebutuhan dunia dan bekal akhirat ternyata bobotnya kecil.

Oleh karena itu, siapapun yang mulai memasuki hari tua, ditambah lagi kesehatan memburuk, yang ada hanyalah penyesalan dan sederet daftar keinginan yang tidak mungkin terwujud karena jatah waktu yang telah habis. Orang pun lalu berandai-andai. Andaikan waktu bisa diputar balik dan kita memulai lagi menapaki masa muda, maka aku pasti tidak akan menyia-nyiakan jatah umurku.

Sesungguhnya peristiwa penyesalan dan pembelajaran hidup itu terjadi tidak mesti menunggu hari tua atau datangnya malaikat Izrail. Hampir setiap hari kita cenderung melakukan kesalahan serupa secara berulang-ulang. Coba saja dihitung dan dicermati aktivitas kita sehari-hari. Semua orang memiliki jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari-semalam. Ambil kertas dan pensil lalu dihitung sendiri, dari jatah waktu itu berapa jam untuk kerja produktif dan bermanfaat bagi diri dan orang lain? Berapa ratus dan ribu kata yang keluar dari lisan kita, dan dari jumlah itu berapa prosen yang berninilai, yang merusak dan yang sia-sia belaka? 

Setiap hari kita mengeluarkan energi, menggerakkan tangan, kaki, lisan, mata, berpikir dan mengaktifkan organ tubuh lain, tetapi kita jarang sekali atau bahkan tidak pernah membuat kalkulasi dan pengendalian diri agar semua aktivitas kita produktif dan bermakna. Padahal, bukankah perbuatan baik dan buruk itu sama-sama mengeluarkan daya dan upaya? Bukankah berpikir positif atau negatif sama-sama mengeluarkan energi? Bukankah berbicara baik atau buruk itu sama-sama menggerakkan mulut dan bibir? Lalu, mengapa kita tidak memilih yang baik dan positif saja?

Jadi, setiap hari banyak sekali peringatan dan pelajaran hidup, baik yang terjadi pada diri kita sendiri maupun orang lain. Jangan sampai ketika tanda waktu habis kita kaget, menyesal dan mengutuk diri sendiri. Mari kita belajar disiplin dan mendisiplinkan diri sendiri untuk hidup produktif-konstruktif, jangan sia-siakan umur hanya untuk sibuk menyalahkan orang lain serta berkeluh kesah.

Coba introspeksi, buku apa yang dibaca, acara televisi apa yang paling banyak ditonton, tema dan materi apa yang paling banyak diobrolkan, perilaku apa yang paling sering dilakukan?

     
Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.