pustaka.png.orig
basmalah.png


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Tembok Pembatas Bernama 'Saya tidak Kreatif'

Tembok Pembatas Bernama 'Saya tidak Kreatif'Fiqhislam.com - Kita barangkali kerap memuji orang lain, “Wah, kamu kreatif ya,” atau “Eh, tahu gak, dia itu kreatif banget lho orangnya.”

Namun, ketika berpaling kepada diri sendiri, kita mungkin merasa masygul, “Saya orang kreatif gak ya?” Kita lantas merasa minder, dan karena itu cenderung tidak melakukan sesuatu yang kreatif karena pikiran ‘saya bukan orang kreatif’ menghuni benak kita dengan nyaman.

Soalnya ialah apakah jika Anda tidak melihat diri Anda kreatif, itu berarti Anda memang benar-benar tidak kreatif? Pertanyaan ini mengusik betul, sebab pikiran itu dapat terus menghantui dan menjadikan orang yang berpikir negatif ihwal dirinya tersebut tidak akan melihat potensi-potensi hebat yang ia miliki. Sayangnya, banyak sekali orang yang berpikir seperti itu.

Pikiran positif, sebaliknya, memberi dorongan hebat kepada seseorang untuk bertindak dan melahirkan karya kreatif. Clayton M. Christensen, penulis buku mashur The Innovator’s DNA, menyebutkan bahwa dari 6.000 profesional yang mengikuti tes Innovator’s DNA, mereka yang setuju dengan pernyataan survei “saya kreatif” ternyata melahirkan solusi-solusi kreatif secara konsisten. Mereka menciptakan bisnis, produk, jasa, maupun proses-proses baru yang belum pernah dikerjakan orang lain.

Jadi, apa kuncinya? Mereka memandang diri mereka orang kreatif dan bertindak dengan cara itu.

Bagaimana kita bisa melakukan hal yang sama? Hal pertama yang harus dilakukan ialah mengubah mind-set. Apabila kita mengubah mind-set, kita memperoleh dorongan dan bisa benar-benar punya tekad untuk menjadi lebih kreatif. Siapapun bisa inovatif, kata Christensen, jika mereka memilih untuk menjadi orang yang inovatif. Para inovator melahirkan karya-karya inovatif berdasarkan pilihan, bukan kesempatan. Sebagian orang punya kesempatan, namun tidak memilih. Sebagian lainnya tidak mempunyai kesempatan, tapi mereka justru memilih menciptakan kesempatan untuk berinovasi.

Para inovator itu tak segan mengajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif terhadap kemapanan, menjalin koneksi dengan orang-orang yang memandang dunia dengan cara yang berlawanan 180 derajat, serta melakukan eksperimen tanpa rasa cemas. Dengan cara ini, mereka berusaha merobohkan tembok pembatas ‘saya tidak kreatif’.

Apakah kreativitas itu produk otak kanan saja, seperti sering didengung-dengungkan? Dilip Mukerjea, dalam Braininfinity, mengatakan, “Kreativitas adalah gabungan pemikiran otak kiri dan otak kanan.” Karya kreatif lahir dari perpaduan kerja kedua belahan otak ini seperti dipaparkan dengan begitu menarik oleh Michael Michalko dalam Thinker Toys.

Dalam bukunya yang inspiratif dan praktis itu, Michalko mengajak kita mengoptimalkan kedua belahan otak tersebut. Penulis buku Thinkpak ini menunjukkan jalan agar kita mampu mengubah potensi kreatif masing-masing menjadi karya yang aktual. Dengan ‘bermain’, Michalko mendorong kita agar sanggup merobohkan tembok pembatas ‘saya tidak kreatif’.

Salah satu contoh permainannya ialah persamaan dalam angka Romawi yang dibentuk dari sepuluh batang korek api. Persamaannya seperti ini: XI + I = X. Anda pasti tahu bahwa persamaan ini salah. Bisakah Anda membetulkannya tanpa menyentuh, menambah, atau membuang korek api tersebut?

Kembali ke Christensen; ia menawarkan tes diagnosis untuk mengetahui apakah kita terkungkung oleh tembok pembatas ‘saya tidak kreatif’. Jawabannya tinggal pilih: ya atau tidak.

Pernyataan 1: Saya memecahkan secara kreatif persoalan yang menantang dengan memakai gagasan yang berbeda.
Pernyataan 2: Saya kerap mengajukan pertanyaan yang menantang asumsi-asumsi dasar orang lain.
Pernyataan 3: Saya memperoleh gagasan inovatif dengan mengobservasi langsung bagaimana orang berinteraksi dengan produk dan jasa.
Pernyataan 4: Saya secara teratur berbicara dengan orang-orang yang berlainan (fungsi yang berbeda, geografi yang berbeda, latar belakang yang berbeda) untuk menemukan dan memperbarui gagasan bisnis.
Pernyataan 5: Saya sering bereksperimen untuk menciptakan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu.

Apabila Anda memilih jawaban ‘tidak’ untuk 3 atau lebih pernyataan tadi, berarti Anda membentur tembok ‘saya tidak kreatif’. Agar menjadi lebih kreatif dibutuhkan tindakan untuk merobohkan tembok tadi. Soalnya ialah bila Anda tidak memulainya dengan mengubah mind-set, maka tindakan itu tak akan pernah terwujud.

Nah, kembali ke persamaan korek api tadi, bagaimana jawaban Anda?