fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Juara yang Tidak Takut Kalah

Fiqhislam.com - Michael Phelps, perenang tangguh dari AS, pasti merasakan betapa berat menghadapi kenyataan perbedaan 0,05 detik telah menyirnakan peluangnya untuk meraih medali emas dalam final 200 meter gaya kupu-kupu putra di Olimpiade London.

Bayangkan, Phelps terus unggul, bahkan hingga 10 meter terakhir. Namun Chad le Clos, perenang Afrika Selatan, ternyata mampu menyalip dan menyentuh lantai finis lebih dulu. Le Clos meraih emas dengan catatan waktu 1 menit 52,96 detik dan meninggalkan Phelps dengan hanya terpaut 0,05 detik di belakangnya.

Kekalahan Phelps tidak lantas menjadikan prestasinya tidak bernilai. Seperti halnya para sprinter; mereka yang kalah karena tertinggal 0,02 detik tetap layak memperoleh apresiasi atas segala proses yang sudah mereka jalani, yang memakan waktu lama, membutuhkan fokus yang terus-menerus, yang memeras keringat, yang menyedot pikiran, dan yang menaik-turunkan emosi. Phelps tetap patu dihargai karena sportivitasnya yang tinggi. Kendati menghadapi kenyataan pahit, ia mengakui kecerdikan Le Clos.

Ika Yuliana Rochmawati, atlet panahan kita, bahkan memperoleh skor yang sama, yakni 129, dengan pesaing terdekatnya di babak 16 besar, Ksenia Perova dari Rusia. Karena itu dilakukan babak tambahan (play off) untuk menentukan siapa yang berhak maju ke babak 8 besar. Di babak tambahan yang hanya terdiri atas 1 gim inilah kestabilan emosi pemanah diuji. Pemanah yang mampu menguasai kecamuk emosi dalam dirinya, dialah yang berpeluang besar untuk maju ke babak berikutnya.

Hasilnya? Baik Ika maupun Perova mampu menancapkan anak panah di lingkaran berpoin sembilan. Tapi, anak panah Perova menancap lebih dekat dengan garis lingkaran berpoin 10, lantaran itu Perova-lah yang ditetapkan berhak melaju ke babak berikutnya. Ika memang “kalah”, tapi dengan kepala tegak. Prestasinya tetap membanggakan, sebab seperti halnya Perova ia mampu mengalahkan kecamuk emosi dalam dirinya.

{AF}

Jalan menjadi juara adalah tantangan yang sukar, sebab itu terkadang ada saja yang menempuh cara-cara bersiasat, seperti menghindari bertemu lawan yang kuat atau bermain tidak serius agar peluang untuk maju ke babak berikutnya tetap terbuka. Cara-cara bersiasat ditempuh barangkali karena menjadi juara sudah menjadi obsesi yang tidak sehat. Mungkin karena para atlet sudah merasa berlatih keras, penuh disiplin, mengorbankan berbagai hal, sehingga akan menyesakkan dada jika kekalahan dalam satu pertandingan yang sungguh-sungguh ternyata melenyapkan peluang mereka untuk menjadi juara.

Sering terjadi, kesenangan atas suatu kemenangan akan dengan cepat berlalu. Rasa manis kemenangan itu hanya terasa dalam sekejap. Sebaliknya, rasa sakit karena kalah biasanya tertanam lebih lama. Ini terjadi karena kita mendefinisikan menang sebagai menaklukkan lawan, membuat pesaing bertekuk lutut, atau merupakan puncak pembuktian keunggulan diri sendiri kepada orang lain.{/AF}

{AF}

Lawan para pemenang bukanlah atlet lain, melainkan keterbatasan diri sendiri. Menang seyogyanya dimaknai sebagai meningkatnya kesadaran terhadap potensi diri. Mereka yang meraih medali emas adalah atlet-atlet yang telah mampu mengatasi keterbatasan dirinya, mengeksplorasi keunggulan potensinya, dan menguasai letupan-letupan emosinya.{/AF}

{AF}

Pengalaman meningkatkan potensi diri dari hari ke hari, berlatih dengan penuh fokus dan disiplin, menahan diri dari kesenangan, adalah kemenangan yang sesungguhnya. Pemenang adalah orang-orang yang tidak takut kalah, tapi bukan yang bersiasat kalah hanya untuk menjadi juara di mata khalayak. {/AF}

 
Dian R. Basuki