fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Melompat dari Putaran Roda Hamster

Melompat dari Putaran Roda HamsterFiqhislam.com - Pernahkah Anda berhenti sejenak untuk menengok apa yang Anda kerjakan setiap hari?

Ritmenya barangkali seperti ini: pagi-pagi sekali Anda berangkat ke kantor berupaya untuk tidak terlambat; setiba di tempat kerja Anda menyapa kiri-kanan, melakukan banyak panggilan telepon, untuk kemudian tenggelam dalam pekerjaan; seusai istirahat makan siang Anda bertemu wakil perusahaan lain, menghadiri rapat, memeriksa hasil pekerjaan anak buah, membagi tugas, dan seterusnya sampai petang tiba. Para pekerja pun berhamburan keluar dari gedung perkantoran.

Karena Anda seorang manajer, malam harinya Anda masih menjadi duta perusahaan untuk menghadiri acara tertentu, memenuhi undangan makan malam, dan baru tiba di rumah sekitar jam 10 malam. Lelah. Kantung mata menggantung. Mungkin Anda masih sempat mengerjakan sedikit tugas rumah tangga, lalu duduk menonton teve sekedar untuk bersantai hingga akhirnya tubuh Anda memperoleh haknya untuk beristirahat.

Pagi berikutnya, alarm berbunyi seperti biasa. Anda pun melakukan kegiatan yang sama: mencuci, menyantap sarapan dengan tergopoh-gopoh, lalu berangkat ke kantor dan bekerja sampai malam hari.

Roda kehidupan sehari-hari Anda berputar dalam ritme seperti itu. Mungkin Anda dapat membayangkan seekor hamster, hewan kecil pengerat, yang menghabiskan waktunya berputar mengikuti roda di kandangnya. Andai kita hamster tersebut, dengan bekerja sepanjang hari, kita mungkin membayangkan sudah meminyaki poros roda itu agar berputar lebih mudah dan lebih kencang, mungkin kita merasa telah memperbesar ukuran roda itu. Tapi, yang tidak kita sadari adalah bahwa kita tetap di dalam roda itu, berputar tetap di porosnya dan tidak beranjak ke depan.

Sehari-hari mungkin kita sudah merasa telah mengerjakan berbagai hal, mengikuti rapat ini dan itu, menerima tamu yang kadang berkunjung tanpa janji. Namun kita tidak melihat sesuatu yang disebut “hasil” yang mendongkrak karier Anda. Kita terjebak dalam rutinitas yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu kita tanpa kita bisa betul-betul melangkah ke depan.

Efek roda hamster bukan hanya mempengaruhi fisik kita, tetapi juga melemahkan potensi-potensi kreatif kita. Capaian kreatif apa yang dapat kita raih apabila kita disibukkan dengan ritme senada? Alih-alih memperlihatkan capaian kreatif, yang kita capai barangkali hanyalah kinerja standar untuk mempertahankan diri di tengah tumpukan pekerjaan. Kita terengah-engah karena bekerja keras agar roda hamster tetap berputar.

Akankah kita puas dengan terus bertahan memutar roda hamster? Menikmati penderitaan yang mungkin tidak akan pernah berakhir? Para praktisi psikolog kerap dimintai obat mujarab untuk mengatasi persoalan ini, namun jawabannya pasti tidak ada kecuali satu: Anda sendiri yang ingin berubah. Sebagian orang mungkin berubah setelah mengalami penderitaan yang panjang. Menunggu benar-benar letih baru berubah. Berubah karena terpaksa. Yang terbaik, tentu saja, Anda berubah karena Anda benar-benar menginginkannya.

Banyak orang yang merasa senang menetap di zona kenyamanan, sekalipun bila zona itu secara hakiki menyiksanya. Soalnya, ia tidak merasa menderita, sebaliknya ia malah menikmati. Berbeda halnya bila Anda merasa bahwa cara Anda bekerja dan hidup selama ini bukannya bagus bagi masa depan, tetapi malah menggerogoti kualitas kehidupan Anda. Jika Anda memutuskan untuk mengadopsi cara hidup dan bekerja yang lebih baik, maka babak baru dapat segera Anda tempuh sebelum Anda melompat dari roda hamster.

Namun mengubah kebiasaan lama bukan kepalang sukarnya. Kita mungkin merasa bahwa cara hidup dan bekerja selama ini sudah benar. Mengubah kebiasaan, kata orang, mesti diawali dari mengubah keyakinan, mengubah cara berpikir atau mindset. Tanpa langkah mendasar ini, kebiasaan hanya akan berubah sementara waktu untuk kemudian kita berputar kembali bersama roda hamster.

Bahkan, pengetahuan pun seringkali tidak memadai. Bukankah pepatah telah mengatakan, “Jarak terjauh untuk dikuasai di dunia ini ialah jalan dari kepala ke hati dan dari pengetahuan ke tindakan.” Kita mungkin telah membaca banyak buku, menghadiri seminar, mengikuti workshop, atau menonton acara talk show, namun tetap saja kita bekerja dan hidup seperti biasa. Tak ada yang berubah, sebab, ya itu tadi, jalan dari kepala ke hati itu seringkali teramat jauh. Kita tidak tergerak untuk mengubah diri.

Keberanian mengubah hidup, begitulah kunci yang seringkali disampaikan oleh mereka yang berpengalaman melompat dari roda hamster. Melompat dari roda yang terus berputar tak ubahnya bagaikan merebut kesempatan kedua. Pada suatu saat dalam hidup kita, hampir semua dari kita kemungkinan mendambakan kesempatan kedua untuk melakukan hal yang kita impikan tetapi tidak pernah berbuat untuk mengupayakannya.

Dengan melompat dari roda hamster, Anda punya kesempatan kedua untuk mengubah jalan hidup Anda. Takut gagal? Orang bijak mengatakan bahwa menghindari kegagalan itu mudah sekali. Caranya? Jangan pernah melakukan apapun. Anda tidak akan pernah kalah dalam pertandingan tenis bila Anda tidak pernah bermain tenis. Anda tidak akan keseleo lidah bila Anda tidak pernah berpidato. Anda tidak akan pernah terjatuh bila tidak pernah belajar naik sepeda. Hanya orang yang mencoba melakukan sesuatu sajalah yang menghadapi risiko gagal. [yy/tempo/foto tyb.com.au]

Penulis Dian R. Basuki