fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

CEO Berjiwa Sosial, Cukupkah?

CEO Berjiwa Sosial, Cukupkah? Fiqhislam.com - Pertanyaan yang sering muncul di benak banyak pihak adalah seberapa penting jiwa sosial dari seorang CEO terhadap kesuksesan dari implementasi program CSR perusahaan. Memang, beberapa literatur dan seminar seputar peran CEO dalam CSR menunjukkan bahwa buy-in CEO terhadap program CSR dinilai penting.
 
Kesuksesan program CSR hanya bisa terjadi ketika CEO memberikan lampu hijau untuk penyelenggaraannya. Sejumlah literatur akademik pun juga bernada sama. Agle et.al (1999) misalnya, mengemukakan bahwa nilai (values) yang dianut oleh CEO memiliki peran yang cukup signifikan terhadap performa perusahaan.
 
Sementara, Godoz-Diez et.al (2011) yang melakukan penelitian terhadap lebih dari 100 CEO di Spanyol juga menemukan karakteristik-karakteristik tertentu yang menunjukkan kontribusi CEO pada performa CSR perusahaan. Yang menarik, salah satu temuannya menunjukkan bahwa persepsi CEO memiliki peranan penting dalam tahapan desain program CSR.
 
Hubungan antara CEO dengan performa CSR ini pun juga tercermin dalam penelitian yang dilakukan oleh Margiono et.al (2012). Dari survei yang dilakukan kepada hampir 100 CEO dan manajer senior dari perusahaan dalam dan luar negeri di Indonesia, ditemukan adanya gap antara persepsi CEO seputar strategi dan visi dengan implementasi dan performa.
 
Jurang ini menunjukkan bahwa senior manajer dari banyak perusahaan di Indonesia sebetulnya cukup confident dengan integrasi sosial di tingkat strategi dan visi, tetapi agak gamang saat memasuki wilayah implementasi dan performa.
 
Temuan menarik ini sebetulnya berimplikasi pada dua hal: pertama, CEO nampaknya tidak memiliki perangkat yang meyakinkan untuk melakukan eksekusi strategi sosial perusahaan secara terukur; kedua, para manajer madya nampaknya tidak memiliki perangkat yang meyakinkan untuk memastikan bahwa mereka dapat menjalin target bisnis dengan aspek sosial.
 
Jika ini semua betul, maka yang dibutuhkan oleh perusahaan di Indonesia adalah sebuah perangkat yang terukur untuk melakukan eksekusi strategi sosial secara optimal.  Beberapa kajian yang dilakukan oleh beberapa pihak, misalnya Figge et.al. (2002), menganjurkan perusahaan untuk mengadopsi Sustainable Balance Scorecard. Selain perspektif finansial, customer, internal process, dan learning and growth, para perancang strategi eksekusi di dalam perusahaan harus mulai juga memasukkan perspektif non-market yang dinilai relevan.
 
Adopsi ini pun untuk alasan strategis. Di balik kisah sukses Jack Welch saat menjabat menjadi CEO General Electric, ada cerita kelam yang jarang disampaikan. Esty dan Simmons (2011) menggambarkan bahwa Welch adalah seorang CEO yang tidak peduli masalah lingkungan hidup.
 
Di masa kepemimpinannya, GE sering dikecam oleh para pegiat lingkungan hidup karena pabriknya dianggap mencemari sungai Hudson dan Housatonic di Amerika Serikat. EPA, lembaga pemerintah yang mengurusi masalah lingkungan hidup, pun mengawasi GE dengan sangat ketat.  GE, saat itu harus menerima konsekuensi pilihan ini dengan secara berlarut-larut harus menghadapi tuntutan hukum dan berbagai hal lainnya.
 
Sikap Welch yang keras dan tidak mau mengikuti aturan lingkungan hidup, demi pertumbuhan perusahaan semata, juga mempersulit semuanya. Para kandidat karyawan dengan talenta yang berkualitas kemudian menolak bergabung sebagai karyawan karena citra GE sebagai perusahaan yang buruk.
 
Hanya saat Jeff Immelt mengambil alih kepemimpinan GE pada 2001 berangsur-angsur masalah ini selesai. Bahkan saat ini, banyak pengamat yang memuji cara GE menangani masalah lingkungan hidup, melalui metrik dan instrumen yang terukur di sepanjang production line.
 
Kontribusi Perusahaan
 
Ilustrasi ini dan kajian akademik yang ada menunjukkan bahwa jiwa sosial CEO sedikit banyak berpengaruh kepada sikap dan kontribusi perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya.  Namun, apakah ini faktor tunggal? Nampaknya tidak. Analisis lanjutan dari survei CEO yang dilakukan di atas menunjukkan bahwa jiwa sosial ternyata bukan satu-satunya faktor yang menentukan.
 
Survei kepada sejumlah CEO dan manajer senior mengajukan pertanyaan seputar alasan mereka melalukan aktivitas CSR. Mengikuti Agle, et.al (1999), sejumlah pilihan yang ada dikategorikan menjadi self-interested dan other-interested.  Pilihan terakhir ini dianggap mewakili karakteristik jiwa sosial CEO.
 
Ternyata, hampir semua CEO yang memiliki jiwa sosial rendah (yang diwakili oleh pilihan self-interested) juga memiliki skor persepsi implementasi dan performa yang rendah.  Ini konsisten dengan ilustrasi anekdotal maupun temuan akademik lainnya. Namun, yang menarik untuk dilihat, kenyataannya tidak sedikit perusahaan yang memiliki CEO dengan jiwa sosial tinggi, ternyata rendah dalam persepsi implementasi dan performa.
 
Fakta ini bisa mengarah pada dua hal: pertama, CEO yang memiliki jiwa sosial tinggi juga memiliki standar yang lebih tinggi dari rekan kerjanya di perusahaan, sehingga meskipun performa CSR perusahaannya cukup baik, ia menganggap implementasi dan performa CSR perusahaannya rendah; kedua, CEO memiliki standar yang relatif sama dengan rekan kerjanya, dan secara aktual performa CSR perusahaannya memang rendah.
 
Walaupun ada persoalan derajat (a matter of degree) diantara dua hal di atas, tetapi sebetulnya ini semua mengarah pada satu hal: kurangnya perangkat yang jelas untuk merancang implementasi dan mengukur performa CSR. Kesimpulan kajian lanjutan ini memperkuat temuan pertama survei yang dilakukan.
 
Oleh karena itu, meskipun CEO yang berjiwa sosial punya kontribusi penting kepada perusahaan, langkah logis berikutnya adalah merancang standar yang jelas untuk implementasi dan mengembangkan alat ukur yang memadai untuk mengetahui dampak internal dan eksternal perusahaan.
 
Untuk ini, Henriques (2010) menyebutkan bahwa selain dampak untuk shareholder (dalam bentuk profit), perusahaan harus juga mulai mengukur dampak kepada stakeholder. Jejak dampak (footprint impact) di tengah-tengah stakeholder bisa diukur melalui dampak sosiologis, lingkungan hidup, dan bahkan ekonomi untuk sebuah kawasan. [yy/bisnis/foto success.com]
 
M. Ari Margiono
Faculty Member, Binus Business School