16 Rabiul-Awal 1443  |  Sabtu 23 Oktober 2021

basmalah.png

Agar Pemimpin Tetap Eksis

Agar Pemimpin Tetap EksisFiqhislam.com - Dunia bergerak cepat, dan jika Anda tidak bisa mengikutinya, maka perusahaan yang Anda pimpin akan punah. Agar tetap eksis, berikut adalah lima ketrampilan yang wajib dimiliki seorang pemimpin.

Konsultan Manajemen Steve Tobak mengatakan semakin dunia berubah, ia menjadi ruang yang semakin kompleks. Tidak hanya itu masalahnya, tetapi perubahan itu sendiri berjalan semakin cepat.

"Melihat masalah tersebut, pertanyaan yang muncul kemudian adalah kapabilitas seperti apa yang sebenarnya orang-orang butuhkan untuk membedakan mereka dari orang lain, lebih tinggi, sehingga menjadi seorang pemimpin, inovator, menjadi tokoh dalam kisah orang-orang sukses di era baru?," tanya Tobak seperti dilansir dari Inc, Selasa (18/12/2012).

Berikut dibawah ini adalah kompetensi yang tidak hanya membuat pemimpin hebat, tetapi juga menjadi sosok yang semakin penting hari ke hari:

1. Tetap Bisa Fokus di Tengah Gempuran Informasi yang Banyak

Kita hidup dan bekerja di dunia, yang mana di dalamnya terdapat banyak sekali informasi, komunikasi dan gadgets yang terus-menerus menjejali kita dengan sesuatu yang sangat menarik berupa teks, kicauan. Dan, mengecek email menjadi hal yang semakin sering kita lakukan. Tren ini tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Kecakapan untuk fokus dan memilih prioritas selalu menjadi kunci kesuksesan di banyak bidang. Namun belakangan, kemampuan mengelola selingan-selingan tersebut menjadi penting, asalkan kita tidak menjadi candu atasnya.

Catatan penting untuk Anda, adalah jangan membuat kesalahan. Jika Anda tidak bisa fokus, pekerjaan Anda tidak akan selesai. Dan jika pekerjaan Anda tidak selesai, orang lain yang akan melakukannya.

2. Jangan Mudah Percaya, Kenali Musuhmu

Ketika Anda menyangsikan segala sesuatunya, asumsi, klaim, dan pandanganberarti Anda sudah mampu berpikir kritis.

Kemampuan ini penting dalam mengambil keputusan. Dan itulah kunci kesuksesan dalam segala hal.

Konsep ini bermula jauh ribuan tahun silam dalam ajaran Socrates dan Buddha. Apabila Anda menyangsikan segala kearifan adat, menantang status quo, serta menghindari kolektivitas dan anggapan mayoritas, itu artinya Anda berada dalam kelompok yang bagus. Mereka berdua menyandingkan konsep yang sama.

Masalahnya, di luar sana ada begitu banyak sampah, di media sosial, di blogs, di TV, di buku-buku panduan, dan pikiran Anda menyangsikan inikah yang benar, itu kah yang salah. Pikiran Anda mencoba memberikan alasan-alasan secara logis, dan menolak melalukan generalisasi dari satu poin informasi.

Dan saat ini, dunia semakin kompleks, penuh dengan segala sesuatu yang harus dipikirkan dua kali.

3. Berhentilah Berperilaku Seperti Orang Lain Saat di Media Sosial

Sangat ironis memang, ketika Anda mencoba melakukan personal branding di media sosial tapi Anda berperilaku seperti orang lain. Dengan kata lain, ada tendensi untuk bersembunyi di balik kreasi-kreasi kita sendiri di media sosial.

Lebih dari itu, kita butuh rasa kerendahan hati dan kesadaran diri untuk mengingatkan bahwa kita ini adalah makhluk yang berdaging dan berdarah. Oleh karena itulah, kita tidak perlu terlalu risau dan gila menjadi pebisnis hebat, pemimpin, manajer, pengusaha, rekan kerja, orang tua, apapun itu, karena sejatinya kita menjadi apa adanya kita.

Tidak hanya itu, mengurangi volume gangguan, serta mengurangi waktu yang kita buang untuk selingan-selingan itu membuat kita memiliki banyak waktu untuk merefleksi diri. Apa yang terjadi pada Aku. Kita memiliki waktu untuk memahami emosi yang ada dalam diri kita.

Di dalam dunia yang semakin homogenous, setiap orang sibuk berusaha menjadi berbeda. Padahal yang perlu dilakukan hanyalah berhenti berperilaku seperti orang lain. Menjadi orisinil dan sadar pada kebutuhan diri sendiri akan menjadi nilai plus.

4. Menjalin relasi nyata dengan orang lain tidak sekedar di dunia maya

Komunikasi selalu menjadi alat dimana pemimpin besar memperoleh sesuatu yang besar. Akan tetapi saat ini, komunikasi berputar dalam ukuran bite-bite, update status, pesan, dan kicauan yang hanya berkisar antara 140 karakter bahkan kurang. Lebih dari itu, model komunikasi berkembang, dari one-to-one menjadi one-to-many.

Masalahnya pesan yang beredar dalam bentuk bite-bite ini kebanyakan hanya bersifat permukaan saja. Tidak ada orang yang peduli dengan apa yang terjadi sesungguhnya (meaning of the message).

Dalam banyak kasus di jejaring sosial, sebagaimana yang sering dilakukan, pesan yang beredar sama sekali kurang efektif dibanding disampaikan melalui diskusi atau pertemuan.

Tentu saja, sebagai konsekuensinya kecakapan dalam menulis dan berbicara secara efektif menjadi hal yang semakin penting dari hari ke hari. Tapi jika Anda memiliki kecakapan menyimak dan mendengarkan apa yang orang katakan, bersifat empatis, benar-benar mampu berhubungan baik dengan orang lain, peluang Anda mengukir kisah sukses semakin lebar.

5. Selesaikan Semuanya

Ide tentang eksektutif sukses, pengusaha sukses, dan pemimpin bisnis karena mereka didorong oleh aspirasi dan mimpi yang tinggi hanyalah sebuah mitos. Kebanyakan dari orang-orang ini bukan pemimpi ulung. Mereka hanya selangkah lebih maju dari yang lainnya, kemudian menyelesaikan semuanya.

Jika mereka ini tidak memiliki mimpi yang muluk, apa yang menjadikan orang-orang ini sukses? Biasanya satu dari tiga alasan ini mereka miliki: mereka memiliki tanggungjawab yang sangat besar terhadap pekerjaan mereka, mereka ini mengutamakan kebutuhan dan kepentingan keluarga di atas segalanya, mereka menawarkan produk yang orang lain butuhkan dan/atau inginkan ke pasar.

Bagaimanapun alasannya, yang jelas mereka bisa membuat orang bekerja dengan tujuan yang sama. Mereka mengirimkan barang-barang. Mereka menyelesaikan pekerjaan. Mereka mencukupi kebutuhan pelanggan. Dan tentu saja mereka sangat peduli dengan keluarga dan relasinya. Begitulah seharusnya bekerja di dunia yang sesungguhnya. [yy/liputan6]