fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Bertindak Secara Benar

Hanya dengan mengalami suka dan derita, masing-masing orang akan memahami hakikat diri dan tujuan hidupnya. “Tragedi terbesar dalam hidup akan terjadi jika seumur hidup Anda habiskan untuk memancing, namun kelak Anda menyadari ternyata mencari ikan bukanlah tujuan utama hidup Anda “ (Henry David Thoreau).

 
Bertindak Secara Benar
Fiqhislam.com - Suatu hari, seorang kawan saya yang dikenal rajin mengelola rumah tinggalnya, bercerita: Dia harus kembali berkutat di rumah ketika ia mendapati suatu masalah, soal wastafel yang rusak.
 
Volume air sangat kecil di salah satu wastafelnya, ditambah air terus menetes di wastafel itu, meskipun keran sudah dimatikan. Dia perbaiki keran wastafel itu dengan harapan volume air membesar dan keran tidak terus ‘bocor’ meneteskan airnya. Sukses terjadi, tetesan air berhasil dihentikannya.
 
Namun, volume tetap kecil. Selidik punya selidik, ternyata terdapat masalah besar di depan, pipa saluran air di dekat meteran air bocor cukup deras. Air mengucur dalam volume besar secara sia-sia, sementara biaya langganan dengan meteran harus tetap dihitung.
 
Kisah itu, menurut suhu manajemen, Peter Drucker dikomentari sebagai, “ Tidak ada yang begitu tak berguna selain melakukan sesuatu hal secara efisien, yang seharusnya tidak perlu dilakukan sama sekali.”
 
Dalam bisnis, terus berusaha menggenjot penjualan (revenue) sementara pengeluaran usaha (biaya) dilepas tanpa kendali adalah kategori sama dengan kisah air bocor di atas, melakukan hal-hal salah secara benar atau dikenal dengan istilah doing the wrong things the right way.
 
Ini sebuah kisah nyata: suatu kala, seorang kawan saya, pimpinan suatu perusahaan, mendapatkan seorang calon mitra kerja yang sudah lama ditunggu. Sudah hal yang jamak, sang kawan merencanakan menyajikan suatu jamuan malam dengan hiburan gaya kota besar, berkaraoke.
 
Sang kawan menugaskan seorang anak buahnya untuk menjemput sang calon mitra. Disepakati, tempat jamuan adalah 1001 Malam. Di sinilah masalah terjadi. Sang anak buah dengan bersusah payah mengarungi macetnya Jakarta, tetapi sempurna, tepat waktu, tiba di rumah makan sea food 1001 Malam, Kelapa Gading. Sementara yang dimaksud kawan saya, dan dia sudah menunggu di situ, adalah 1001 Malam Karaoke, di daerah lain di Jakarta.
 
Sang kawan yang memang agak koboi itu, hanya mampu menggelengkan kepala, marah tetapi juga geli. (Konon, si anak buah memang seorang yang tidak terbiasa mengarungi dunia malam).
 
Mari kita bayangkan situasi lain ini: Anda  memanjat tangga yang tinggi, yang bersandar ke suatu gedung bertingkat. Harapan Anda adalah mencapai satu lantai di tingkat atas, melalui satu jendela, dimana Anda dapat menemui kekasih hati Anda.
 
Dengan mandi keringat dan nafas tersengal-sengal Anda panjat seluruh anak tangga dengan harapan membuncah, bertemu sang belahan jiwa. Eh, ternyata di ujung tangga, yang Anda temukan adalah jendela kamar Komandan Satpam …. Ternyata Anda salah sandar, tangga Anda letakkan di tempat yang salah.
 
Visi Misi
 
Pada skala sangat besar, dalam menjalani kehidupan ini, setiap orang memiliki visi dan misi hidup masng-masing. Sebagai contoh, seorang kawan, sedikit lebih tua dibandingkan saya, sebut saja Rudi, belum lama bertemu saya di suatu acara.
 
Rudi ini secara karir, sukses. Secara materi, cukup berada. Secara hidup keluarga, oke, ada istri dan 2 orang anak yang sudah mentas. “ Tugas gua udah kelar. Namun, terus terang aja, sekarang gua malah kadang bingung, mau ngapain lagi … .”
 
Sementara, secara kontras dengan pandangan Rudi, saya pernah mendapat nasihat dari seorang senior saya, yang hingga usia 70 an terus aktif bekerja, terus berkarya. Beliau memberi nasehat, to retire is to expire, pensiun sama dengan meniadakan eksistensi diri.  Jangan pernah berpikir untuk berhenti bekerja. Karena bekerja itu membuat kita terus bergerak dan sehat.”
 
Dalam konteks ini, ada baiknya menyimak kalimat bijak ini: Dua momen terpenting dalam hidup, kata William Barclay seorang presenter-pengarang dan professor Skotlandia, adalah pertama, momen pada saat kita dilahirkan. Kedua, momen pada saat kita memahami makna hidup.
 
Momen kelahiran rasanya sangat jelas, adalah momen kita muncul di dunia yang fana ini, momen kita, mendapatkan kartu tanda penduduk yang abadi dari Yang Maha Kuasa. Sementara momen pemahaman makna hidup, adalah momen atau saat kita mendapat hidayah, mendapat pencerahan mengenai arah hidup yang benar dalam jalan Nya, atau momen kita memahami dan meyakini visi dan misi hidup ini.
 
Kapan momen itu akan didapatkan? Setiap orang, nampaknya, akan mengalami momen masing-masing (atau bahkan bisa jadi, tidak setiap orang mendapatkan momen pencerahan itu, yang artinya, tak setiap orang akan tercerahkan).
 
Menurut Wolfgang Goethe, hanya dengan mengalami suka dan derita, masing-masing orang akan memahami hakikat diri dan tujuan hidupnya. Mereka akan terus belajar apa-apa yang harus dilakukan dan apa-apa yang harus dihindarkan.
 
Dalam kalimat lain, marilah kita jalani hidup ini seperti air mengalir. Kadang  terantuk batu yang menyakitkan atau sesekali terlena dalam nikmat adalah bagian dari perjalanan itu. Seberapa pandai dan beruntung kita menjalaninya, mari kita terus melangkah.
 
Namun, suatu shortcut bisa saya sampaikan, langsung pada intinya, agar tak terjadi keadaan dimana kita melakukan hal-hal salah secara benar, apa visi dan misi hidup yang terpuji? Simak tantangan ini, “Pertanyaan yang terus diajukan dan lebih mendesak dalam hidup ini adalah: apa yang Anda lakukan untuk orang lain ?,” ujar Martin Luther King, Jr. [yy/bisnis/foto bisnis.com]
 
Pongki Pamungkas
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Rental Kendaraan Indonesia