fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Haruskah Bergabung ke Perusahaan Keluarga?

Seringkali generasi muda, karena pendidikannya yang biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan pendahulunya, memiliki kemampuan dan kecerdasan yang lebih menonjol

Haruskah Bergabung ke Perusahaan Keluarga? Fiqhislam.com - Kenny Yap, Direktur Qian Hu Corporation Limited (Qian Hu), sebuah perusahaan penghasil ikan hias yang berbasis di Singapura, dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa  generasi muda perlu diberikan kebebasan untuk memutuskan apakah akan bergabung dengan perusahaan keluarga atau tidak. Kenny, yang mendapat julukan “Kenny the Fish”, adalah anak pendiri Qian Hu, Yap Tik Huay.

Hal senada juga pernah dikemukakan oleh Richard Eu, CEO dari Eu Yan Sang, sebuah perusahaan keluarga, juga berasal dari Singapura, yang bergerak dalam bidang penyediaan produk-produk dan layanan kesehatan. Menurut Richard, dia tidak akan memaksa anak-anaknya bergabung dengan perusahaan keluarga jika mereka memang tidak tertarik.

Dari Filipina, Teresita Sy-Coson, putri Henry Sy Sr, pendiri SM Prime Holdings, Inc, operator ritel dan pusat perbelanjaan terbesar di Filipina mengatakan bahwa dirinya berencana untuk memberikan anak-anaknya kebebasan apakah akan memilih karier sendiri atau bergabung dengan perusahaan keluarga.

Barangkali tidak banyak generasi senior perusahaan keluarga yang bersikap seperti Kenny, Richard, dan Teresita.  Dari sisi generasi muda sendiri, proses pengambilan keputusan untuk bergabung atau tidak dengan perusahaan keluarga seringkali bukanlah hal yang mudah. Mereka menghadapi sejumlah tekanan.

Di satu sisi, mereka merasa memiliki kewajiban untuk bergabung serta meneruskan bisnis keluarga, yang telah berjasa menghidupi dan membiayai pendidikan mereka. Namun di sisi lain, mereka memiliki minat dan cita-cita yang berbeda. Bila memutuskan untuk tidak bergabung, mereka takut mengecewakan orang tua.

Tekanan lainnya adalah generasi muda kemungkinan menghadapi rasa ketidaksenangan karyawan mengingat  status mereka sebagai anggota keluarga pemimpin/pendiri perusahaan yang mendapat perlakuan khusus. Belum lagi kecemburuan dari saudara-saudaranya.

Mereka juga kerap terobsesi untuk membuktikan diri dapat keluar dari bayang-bayang orang tua, yang telah membesarkan perusahaan. Apalagi orang tua biasanya adalah pemimpin yang karismatik dan visioner. Karyawan pasti akan membanding-bandingkan kualitas generasi penerus dengan kualitas generasi senior. Hal ini tentu saja menimbulkan tekanan psikologis bagi generasi penerus, apalagi bila mereka dipersepsikan gagal menyamai kesuksesan generasi senior.

Tekanan-tekanan ini, bila tidak berhasil diantisipasi dan diatasi, akan berdampak buruk bukan saja bagi generasi penerus  melainkan juga bagi karyawan, perusahaan, dan juga anggota keluarga lainnya. Kinerja perusahaan menjadi tidak optimal. Hubungan antar anggota keluargapun dapat terganggu.  Padahal, sungguh sayang bila kompetensi yang dimiliki oleh generasi penerus sampai tersia-siakan. Ingatlah potensi yang mereka miliki dapat sangat bermanfaat bagi kejayaan perusahaan di masa depan.

Lebih Baik

Seringkali generasi muda, karena pendidikannya yang biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan pendahulunya, memiliki kemampuan dan kecerdasan yang lebih menonjol. Banyak diantara mereka yang belajar dan lulus dari universitas-universitas terbaik di dunia.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan keluarga, ada baiknya generasi muda mempertimbangkan hal-hal berikut: Apakah mereka benar-benar berminat untuk bergabung dengan perusahaan keluarga? Apakah mereka akan menyukainya? Apakah mereka siap bergabung?

Apakah mereka memiliki pendidikan yang memadai dan pengalaman yang cukup di luar perusahaan keluarga? Alternatif-alternatif pekerjaan dan karier apa saja yang tersedia bagi generasi penerus, baik di dalam maupun di luar perusahaan? Bisakah mereka bekerja sama dengan orang tua, anggota keluarga lain, dan karyawan non keluarga? Apakah generasi muda tertarik dengan produk dan layanan yang ditawarkan perusahaan? Apakah mereka merasa nyaman dengan kekayaan yang diwariskan?

Namun di atas itu semua, apakah generasi muda memiliki visi yang sama dengan orang tua mereka? Menurut Soriano, pendiri atau generasi senior bisa saja memiliki visi tertentu bagi perusahaannya. Bagi generasi senior ini, tidak terbayangkan bila anak-anaknya memiliki visi yang berbeda. Namun bagaimana bila kenyataannya generasi muda memang memiliki visi yang berbeda?

Bagi generasi senior, jika memang benar-benar menginginkan anak mereka menjadi penerus bisnis keluarga, maka persiapan harus dilakukan sejak dini. Yang paling penting dilakukan adalah menanamkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa kebanggaan (sense of pride) terhadap perusahaan keluarga.

Tentu rasa memiliki dan rasa bangga yang ditanamkan harus berkaitan dengan hal-hal yang positif, semisal kebanggaan karena perusahaan keluarga rajin berinovasi menghasilkan produk dan layanan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.  Atau bangga karena perusahaan sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya serta menjunjung tinggi etika.

Berkaitan dengan hal ini, menarik menyimak apa yang pernah dikemukakan oleh Henry Sy Jr., adik Teresita Sy-Coson. Menurutnya, orang tua tidak bisa, dan seharusnya memang tidak, memaksa (force) anak-anak mereka bergabung dengan perusahaan keluarga. Meski demikian, mereka dapat dimotivasi (encouraged) sehingga pada akhirnya mereka tertarik untuk bergabung. Bila rasa memiliki dan rasa kebanggaan sudah tertanam, generasi muda pasti akan melakukan yang terbaik. [yy/bisnis/foto blogspot.com]

Patricia Susanto
CEO The Jakarta Consulting Group