fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Utang di Mata Korporasi

Utang di Mata KorporasiFiqhislam.com - Adakah rasio utang yang optimal bagi sebuah perusahaan? Jika ada, faktor-faktor apa yang menentukan rasio optimal itu? Inilah dua pertanyaan utama dalam struktur modal, salah satu konsep terpenting dan tertua dalam teori keuangan.

Pencarian struktur modal yang optimal sudah menjadi bahan pemikiran para praktisi maupun akademisi sejak lama, seumur ilmu keuangan itu sendiri. Teori tentang struktur modal diawali dengan pemikiran dua orang ekonom pemenang hadiah Nobel Ekonomi, Franco Modigliani dan Merton Miller, dengan artikel fenomenalnya "The Cost of Capital, Corporation Finance, and the Theory of Investment."

Modigliani-Miller (MM) menyatakan, rasio utang tidak relevan dan tak ada struktur modal yang optimal. Nilai perusahaan tergantung pada arus kas yang akan dihasilkan dan tidak tergantung pada rasio utang dan ekuitas. Prediksi teori MM (1958) ini sayangnya hanya valid bila asumsi-asumsi yang mendasarinya, seperti tak ada pajak, tak ada kesenjangan informasi, dan tak ada biaya transaksi, terpenuhi.

Model Static Trade-off

Pengembangan teori MM adalah teori perimbangan statis (static trade-off). Utang memiliki manfaat dan biaya. Utang menguntungkan perusahaan karena pembayaran bunga, tidak seperti pembayaran dividen, diperhitungkan sebagai biaya dan mengurangi penghasilan kena pajak, sehingga jumlah pajak yang dibayarkan berkurang.

Dari sisi pajak, akan lebih menguntungkan bila perusahaan membiayai investasinya dengan utang. Sisi positif lain adalah utang menurunkan biaya keagenan (agency cost) ekuitas. Penggunaan utang akan mendisiplinkan manajer untuk tidak sembarangan menggunakan kas dan harta perusahaan untuk kepentingannya. Pengawasan oleh kreditur jauh lebih ketat dan efektif dari pada pengawasan para pemegang saham di luar perusahaan dengan informasi yang relatif terbatas.

Karenanya, peningkatan utang menguntungkan pemegang saham. Jensen dan Meckling (1976) mengatakan, kalau utang berfungsi mengikat (bonding) manajemen. Selain punya sisi plus, utang juga memiliki sisi jelek. Utang meningkatkan peluang perusahaan bangkrut dengan segala buntutnya. Bila utang terlalu besar,peluang tak mampu membayar bunga dan cicilan utang menjadi besar. Perusahaan yang mau bangkrut akan dijauhi pelanggan dan pemasok. Ini disebut sebagai biaya tekanan finansial.

Model Pecking Order

Model lain adalah pecking order yang dikembangkan Steward Myers (1984). Berpijak dari asimetri informasi, model ini menjelaskan hirarki preferensi sumber dana. Menurut teori ini, manajer tak memiliki target rasio utang. Rasio utang yang terjadi adalah akibat preferensi ini. Manajer paling menyukai sumber dana dari dalam perusahaan yaitu laba ditahan karena sudah siap pakai dan tidak ada biaya untuk memperolehnya. Bila sumber ini tak mencukupi, manajer akan beralih ke sumber dari luar.

Sumber dana luar yang lebih diminati adalah utang karena tidak menyebabkan dilusi kepemilikan dan memiliki manfaat pajak. Utang juga disukai karena mencerminkan optimisme kemampuan manajemen untuk membayar bunganya. Bila masih belum cukup, barulah perusahaan beralih ke penjualan saham baru. Teori pecking order ini didukung bukti empiris bahwa perusahaan yang menghasilkan laba besar cenderung memiliki rasio utang yang relatif kecil.

Struktur Modal dalam Praktik

Megginson dalam bukunya Corporate Finance Theory mengatakan, secara empiris struktur modal tidaklah sesederhana seperti dalam teori. Struktur modal berbeda antarnegara dan antarindustri. Perusahaan di negara dengan sistem bank-based mempunyai rasio utang yang lebih besar daripada perusahaan di negara market-based. Industri transportasi dan utilitas umumnya mempunyai rasio utang yang lebih besar daripada perusahaan jasa dan perusahaan yang sedang bertumbuh. Rasio utang juga berbanding terbalik dengan profitabilitas karena perusahaan seringnya tidak melakukan penyesuaian struktur modalnya.

Pajak dan biaya tekanan finansial jelas mempengaruhi keputusan struktur modal tetapi masih banyak faktor lain. Pemegang saham umumnya menilai positif terhadap pengumuman penambahan utang perusahaan dan negatif untuk rencana pengeluaran saham baru. [yy/okezone]

BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan
Twitter: @BudiFrensidy