fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Budaya Perusahaan Harus Sentuh Individu

Budaya organisasi. Itulah kunci Barca bisa menjadi klub besar yang disegani klub lain di seluruh dunia. Orang menyebutnya juga budaya perusahaan

Budaya Perusahaan Harus Sentuh Individu

Fiqhislam.com - Stephen Covey punya contoh menarik untuk menggambarkan sebuah organisasi. Dalam 8th Habbit, ia bilang organisasi yang buruk seperti kesebelasan sepakbola yang kacau.

Para pemain tak tahu untuk apa bermain bola, tak tahu gawang mana yang mesti dibobol, apalagi tahu bagaimana membuat strategi hingga menciptakan permainan apik.

Setiap pemain kebingungan saat mendapat bola. Ada juga yang tahu gawang lawan tapi ia membawa bola itu sendirian menembus 10 pemain lawan. Akibatnya, ia hanya bisa melewati tujuh pemain. Pemain lawan ke delapan akhirnya bisa merebut bola itu. Pemain itu kelelahan dan tak bisa melanjutkan permainan.

Lionel Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik oleh Organisasi Sepakbola Dunia 9FIFA) pekan lalu. Semua orang memujinya sebagai “alien dari planet lain”. Itu karena Messi selalu bisa melewati pemain lawan dan menceploskan bola lewat aksi individunya—tujuan utama permainan ini. Larinya cepat,  dribble bolanya yahud, tendangannya kenceng, assist-nya tak bisa diduga bek lawan. Messi adalah pemain yang sempurna.

Ia pemain klub Barcelona, Spanyol. Dalam Piala Dunia, Messi kapten tim Argentina. Benarkah dia pemain sempurna? Tidak. Kesempurnaan Messi ditopang oleh 10 pemain Barcelona lainnya. Messi tak akan bisa bermain bola jika ia sendirian di lapangan dan melawan 11 pemain. Ia bisa banyak menghasilkan gol karena andil 10 pemain lain yang berperan di posisinya. Messi tak akan mendapat bola tanpa mendapat operan dari pemain tengah Xavi Hernandez, atau umpan lambung bek kanan Dani Alves.

Keserasian gerak, operan, umpan, hingga setiap pemain bisa refleks saling membaca gerak pemain lain—dalam sepakbola—terjadi karena latihan yang intens. Kapten Barcelona Carles Puyol menambahkan latihan mengukuhkan, hubungan pribadi antar pemain di luar jam latihan dan pertandingan merekatkan naluri itu. Pendeknya, mereka sudah saling “klik”.  Para pengamat menyebut itu karena ditopang “budaya organisasi” sejak di La Masia—akademi Barcelona, sekolah sepakbola hampir semua pemain Barca.

Budaya Organisasi

Budaya organisasi. Itulah kunci Barca bisa menjadi klub besar yang disegani klub lain di seluruh dunia. Orang menyebutnya juga budaya perusahaan. Dan budaya perusahaan atau organisasi tak lahir karena alam, atau tumbuh tanpa diciptakan para pelaku dalam organisasi itu. Budaya yang melekat dan menjadi gaya hidup anggota organisasi itu dibentuk hingga bisa dipahami lalu menjadi laku sehari-hari para anggotanya. Organisasi adalah habitat, para pelaku masuk ke dalamnya dan menciptakan arah hidup mereka.

Dalam bahasa manajemen, dasar dari budaya organisasi adalah visi dan misi. Inilah basis budaya sebuah perusahaan. Di Google, misalnya, setiap orang dibebaskan berkreasi, karena kreativitas adalah tulang punggung bisnis digital. Jam kantor begitu lentur, tapi setiap orang punya tanggung jawab yang berorientasi pada hasil.

Setiap organisasi tentu punya tujuannya masing-masing. Ada yang mengutamakan proses ada juga yang mementingkan hasil. Dari sanalah budaya perusahaan kemudian disusun dan lahir melalui serangkaian aturan atau standar operasi.

Namun tak semua perusahan dan organisasi bisa melahirkan sendiri budaya perusahaan mereka. Perlu ada panduan hingga mereka menemukan sendiri apa budaya mereka yang sesuai dengan visi dan misinya. Sebab budaya organisasi bisa dikenali dan diwujudkan melalui pola. Pola itu menuntun setiap orang di dalamnya kepada visi dan misi. Dan untuk mengenali apa tujuan lalu merumuskannya, perlu diagnosa jeroan perusahaan itu.

Dunamis Organization Services menyebut—dan memakai alat untuk—mendiagnosa dengan “organization effectivenes”. Ini alat yang terkenal untuk memahami knowledge management dan mewujudkan corporate culture.

Pendiri organisasi saat memulai perusahaannya pasti sudah merumuskan apa visi dan misi, lalu menanamkan etos dan budaya kerja kepada karyawannya. Namun, itu seringkali tak tertulis dan sistematis. Padahal budaya harus disusun sedemikian rupa supaya ajeg. Sebab ujian pertama sebuah perusahaan punya budaya yang tangguh terlihat saat pendirinya tak lagi ada dalam perusahaan itu.

Budaya yang mengurat dan mengakar akan mengokohkan organisasi, siapapun yang mengisi di dalamnya. Karena itu budaya harus diciptakan untuk menjaga stabilitas dan kontinuitasnya.

Ciri budaya perusahaan ada tiga: Apakah mendorong kerja tim? Apakah merangsang kreativitas dan inovasi? Apakah menerbitkan inisiatif? Organization effectiveness menerjemahkan tiga karakteristik itu dalam pengenalan budaya kepada karyawan.

Senjatanya adalah survei dan pelatihan. Survei berfungsi untuk mengetahui sejauh mana pemahaman setiap individu terhadap nilai-nilai perusahaan, workshop dan pelatihan menganalisis dan merumuskan pemahaman itu menjadi kinerja yang sesuai visi dan misi.

Manusia adalah mahluk yang dinamis. Dan pangkal organisasi adalah paradigma dan manusia. Karena itu organization effectiveness menekankan pada bagaimana memberdayakan body, spirit, heart, dan brain setiap individu kepada organisasi.

Karena itu kultur yang dibangun, yang bekerja tak terlihat itu, harus menyentuh orang perorang secara personal. Tanpa personalitas, kultur hanya segepok cek bodong yang tak bisa dicairkan.

Menurut pelbagai penelitian, secara tradisional, ada tujuh karakteristik dalam budaya organisasi. Pertama, bagaimana karyawan didorong inovatif dan berani mengambil risiko. Kedua, bagaimana karyawan menjalankan semua kegiatan dan keputusan secara akurat dan detail. Ketiga, sejauh mana perusahaan berorientasi pada hasil bukan pada proses.

Keempat, sejauh mana keputusan manajemen menimbang efek terhadap individu dalam organisasi itu. Kelima, bagaimana kegiatan dalam organisasi mendorong kerja tim bukan individu. Keenam, sejauh mana organisasi mendorong anggotanya kompetitif. Ketujuh, apakah keputusan dan kegiatan organisasi menekankan pada kontinuitas dan hasil jangka panjang.

La Masia bisa menyuplai pemain hebat kepada klub Barcelona karena budaya yang tumbuh di dalamnya mengutamakan tak hanya hasil, tapi juga proses bagaimana mendidik pemain sepak bola kelas dunia yang profesional, fokus, berkepribadian, dan sportif.
[yy/bisnis]

Robby Susatyo
Partner Dunamis Organization Services