13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Pengetahuan Lebih Mahal Ketimbang Aset Fisik

Pengetahuan Lebih Mahal Ketimbang Aset Fisik Fiqhislam.com - Organisasi juga seperti tubuh manusia. Ia digerakkan oleh pelbagai unsur yang melekat kepadanya: hati, pikiran, tangan, kaki, telinga, hidung… Tubuh akan sakit dan tak berfungsi jika ada satu bagian saja yang terluka. Kita terbaring sakit tak bisa melakukan apapun jika kaki kena paku lalu infeksi. Kaki yang kena paku, seluruh tubuh yang demam.

Begitu pulalah organisasi. Sistem kerjanya ditunjang oleh unsur-unsur di dalamnya, yakni manusia. Dan manusia digerakkan oleh organ yang tak hanya kasat mata seperti panca indra, tapi juga yang tak terlihat yakni pikiran dan pengetahuan. Organ fisik hanyalah manifestasi dari apa yang terbetik dalam pikiran. Dan bahan baku pikiran adalah pengetahuan.

Di zaman industri, pengetahuan tak pernah dihitung sebagai aset organisasi. Di era itu aset adalah apa yang tampak, hardware yang terlihat: tanah, gedung, manusia, modal. Kini ketika zaman beralih pada era pengetahuan, apa yang menjadi software organisasi juga bisa dihitung.

Maka Facebook dinilai dengan harga Rp 930 triliun! Apa yang dimiliki perusahaan jejaring sosial milik anak muda 28 tahun sehingga bisa menjadi perusahaan termahal di dunia itu? Pengetahuan.

Aset utama Zuckerberg bukan gedung yang mentereng di Manlo Park, California, Amerika Serikat. Bukan pula modalnya yang banyak. Tapi manusia. Kreativitas menjadi tulang punggung jejaring sosial yang ia gagas sebermula sebagai tugas kuliah di Harvard University itu untuk bertahan. Facebook makin berkibar karena kreativitas dia dan timnya, tak ikut kolaps seperti Friendster, jejaring sosial sejenis pendahulu Facebook.

Juga situs belanja online Amazon.com. Nilai buku perusahaan ini hanya 2%, sisanya adalah aset invisible. Tapi Amazon menjadi situs belanja online paling terkemuka di dunia. Atau Microsoft yang aset fisiknya hanya 7%. Sisanya adalah ide dan kreativitas menjadi perusahaan software terdepan yang menempatkan Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia.

Ketika aktivitas manusia kian digerakkan oleh informasi, ide, kreativitas, dan pengetahuan ternyata jauh lebih mahal ketimbang aset fisik. Inilah jantung organisasi yang sulit dinilai jika hanya dibandingkan dengan aset kasat mata. Bahkan untuk perusahaan properti sekalipun, jantung utamanya adalah ide dan kreativitas: bagaimana membuat desain yang tak ketinggalan zaman.

Karena itu kini banyak perusahaan konsultan yang mungkin tak punya kantor, tapi valuasi perusahaannya bisa sangat tinggi karena kreativitas dan ide-idenya selalu segar. Ide dan kreativitas juga pengetahuan karena itu melekat pada perusahaan. Tapi manusia bergerak. Maka apakah perusahaan kolaps jika manusia meninggalkannya?

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang mampu bertahan, tidak tergantung pada orang. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang kian maju justru setelah para pendirinya tak lagi ada di dalam organisasi itu. Sebab, itu menunjukkan sistem organisasi yang dibangun pendiri sudah jalan, merasuk ke dalam tangan-tangan organisasi bernama manusia.

Ciri Khas

Karena itu pertaruhannya adalah bagaimana membuat pengetahuan dan ide serta kreativitas dapat bertahan menjadi ciri khas perusahaan. Dan kini kita membahas manajemen pengetahuan.

Manajemen pengetahuan (knowledge management) sebetulnya bukan hal baru. Peter Drucker, guru manajemen dunia itu, telah meramalkannya pada 1959. Kalimatnya yang terkenal adalah, “Pekerjaan ditentukan oleh dan terkait dengan informasi, atau dikembangkan melalui pengetahuan.”

Ketika ia mengucapkannya, dunia masih berada di zaman industri. Ketika dunia bergeser pada 1970-an saat teknologi informasi sedang tumbuh, pernyataan Drucker menemukan landasannya. Isu manajemen pengetahuan meledak dan dikembangkan di seluruh dunia pada 1990 oleh dua ahli manajemen dari Jepang.

Sebagai perusahaan konsultan yang berdiri di Indonesia pada 1991 ketika manajemen pengetahuan menjadi isu yang sedang populer, Dunamis menyediakan jasa membentuk budaya perusahaan dan mengelola manajemen pengetahuan perusahaan. Karena itu Dunamis ditunjuk menyelenggarakan pemilihan tahunan Most Admired Knowledge Enterprise (MAKE).

Sejak 2005 Dunamis mengundang perusahaan-perusahaan untuk bersaing menunjukkan keunggulan dalam mengelola pengetahuan mereka. Mereka dipilih oleh tim panel yang ditentukan  dan ahli di bidang masing-masing. Tahun ini pengumumannya akan digelar Maret nanti.

“Knowledge Management” adalah suatu cara memastikan strategi korporasi seirama dengan strategi mengembangkan, menyebarluaskan, mempertahankan, dan berbagi pengetahuan. Mengelola pengetahuan itu mudah tapi sulit. Sebab pengetahuan melekat pada ingatan seseorang. Istilahnya “tacit”.  Bagaimana mendokumentasikan yang tacit menjadi sesuatu yang eksplisit?

Biasanya, orang akan dengan mudah menceritakan bagaimana ia melakukan sesuatu ketimbang menuliskannya. Seorang pengusaha sukses bisa bercerita dan memberikan tip bagaimana ia berhasil, ketimbang membuatnya dalam tulisan yang terorganisasi, yang mudah dicerna, dan gampang dipahami orang lain.

Dengan piranti yang teruji, perusahaan berbasis pengetahuan merangsang tacit knowledge agar bisa dibumikan menjadi sesuatu yang bisa diturunkan sehingga ide, kreativitas, dan pengetahuan perusahaan bisa disebarkan ke seluruh anggota dalam organisasi.

Proses mengelola pengetahuan dalam manajemen pengetahuan adalah menciptakan lingkungan supaya orang bersedia dan mau berbagi ilmu. Dan saling berbagi itu mengawetkan bahkan mengembangbiakan pengetahuan. Karena itu ide terus tumbuh, kreativitas terus terjaga. Pendeknya, pertukaran ilmu akan menciptakan inovasi baru, secara terus-menerus.

Manajemen pengetahuan, dengan segala tool yang dipakai di dalamnya, memungkinkan transfer pengetahuan berjalan secara simultan. Bahkan bisa jadi dibukukan sehingga semua orang bisa membaca sejarah perusahaan dan strategi organisasi.

Pentingnya dokumentasi ini agar tak ada keterputusan antara pengetahuan yang sudah diraih dan pengetahuan yang harus diturunkan ke generasi berikutnya. Jika sudah pada tahap ini, tak ada istilah pengetahuan perusahaan hilang karena orang-orangnya berganti.

Dalam perspektif lebih luas, knowledge management bisa diterapkan di lembaga-lembaga pemerintah, bahkan negara, sehingga menciptakan birokrasi yang kuat karena ada pijakan pasti kendatipun politik berubah tiap lima menit. [yy/bisnis.com]

Oleh Robby Susatyo
Partner Dunamis Organization Services