pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Destruksi Kreatif

Destruksi KreatifFiqhislam.com - Lebih dari satu setengah abad sejak didirikan Henry Lehman bersaudara, perusahaan Lehman Brothers akhirnya bangkrut (2008). Sebenarnya ini bukan peristiwa yang mengejutkan, sebab di sepanjang sejarah manusia, kebangkrutan adalah jamak belaka.

Namun orang tetap terkejut karena tidak menduga kemerosotan yang dialami Lehman Brothers berlangsung begitu cepat. Kepiawaian melewati masa-masa sukar di waktu yang lampau seakan tidak berjejak lagi.

Unsur ketidakterdugaan memang selalu membuat kita terperangah, sebab ia datang begitu tiba-tiba. Mungkin karena merasa terlampau percaya diri sehingga mendiang C. Jay Parkinson, pernah menjabat Presiden Anaconda Mines—sebuah perusahaan pertambangan di AS, mengatakan, “Perusahaan ini akan tetap kuat selama seratus tahun dan bahkan lima ratus tahun lagi.” Tiga tahun kemudian perusahaan pertambangan ini bangkrut.

Alangkah pendek jangkauan penglihatan kita.

Perhatikan pula statistik ini. Seperti dikutip Nassim Taleb dalam buku Black Swan (2009), dari 500 perusahaan AS terbesar pada 1957, hanya 74 perusahaan saja yang masih termuat dalam daftar Standard & Poor’s 500 empat puluh tahun kemudian. Hanya sedikit yang hilang karena merger, namun lebih banyak yang menyusut atau bangkrut.

Lalu data lain. Di tahun 1917, menjelang berakhirnya Perang Dunia I, Bertie Charles Forbes untuk pertama kali membuat daftar 100 perusahaan Amerika terbesar. Peringkat disusun berdasarkan aset, sebab di masa itu data penjualan belum akurat. Di tahun 1987, Forbes menampilkan kembali daftar pertama itu dan 61 perusahaan di antaranya sudah mati. Dari 39 perusahaan yang masih hidup, hanya 18 yang masih bertahan dalam daftar Forbes 100 tahun 1987, di antaranya General Electric, Ford, Procter & Gambler, dan General Motors.

Parkinson barangkali tidak percaya betapa kita tidak mampu meramalkan masa depan, yang paling dekat sekalipun. Jangankan seratus tahun, ia terbukti salah ketika hanya dalam tiga tahun kebangkrutan Anaconda Mines membalikkan ramalannya. Turbulensi yang mendadak ataupun efek kupu-kupu yang menjalar cepat—seperti yang ditimbulkan oleh kredit perumahan yang macet di AS beberapa tahun lalu—sungguh di luar jangkauan perencanaan bisnis.

Perusahaan yang mampu bertahan di Forbes 100 itu adalah perusahaan yang belajar mengembangkan seni bertahan hidup (the art of survival). Mereka tahan banting tatkala mesti melewati masa-masa sukar, seperti Depresi Besar, Perang Dunia, Perang Korea, pergolakan sosial 1960an, inflasi dan kelangkaan minyak pada 1970an, serta perubahan teknologi yang belum pernah terjadi dalam industri kimia, farmasi, radio, televisi, telekomunikasi, komputer, piranti lunak, dan transportasi.

Kendati begitu, perusahaan-perusahaan itu tidak selalu dalam posisi ‘aman.’ Mereka bertahan, tapi pangsa pasar mereka menyusut. General Motors goyang ketika badai datang. Tanpa suntikan pemerintah AS, perusahaan ini mungkin ambruk juga. Studi yang dilakukan di McKinsey menunjukkan, tidak ada ‘perusahaan emas’ yang bekerja lebih baik daripada pasar. Kemampuan bertahan terhadap terpaan badai tidak menjamin suatu perusahaan sanggup hidup untuk waktu yang lama. Dalam jangka panjang, pasar senantiasa menang.

Soalnya ialah pasar bekerja dengan berubah-ubah secara cepat, seringkali muncul sesuatu yang diskrit seperti letupan sesaat, sementara perusahaan beroperasi berdasarkan filosofi manajemen yang berbasis kontinyuitas.

Perusahaan yang sanggup beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar akan mampu bertahan, sebaliknya yang bersikukuh atau tak mampu menyesuaikan diri akan tergusur, termasuk disodok oleh pendatang baru yang lebih inovatif. Proses inilah yang mengingatkan kita pada apa yang dipopulerkan oleh Joseph Schumpeter (Capitalism, Socialism and Democracy, 1942, 1975) sebagai destruktsi kreatif (creative destruction)—sebuah istilah yang sebelumnya pernah digunakan oleh Mikhail Bakunin dan Friedrich Nietzsche (‘dari destruksi lahirlah spirit baru kreativitas’).

Tantangan terbesar yang dihadapi para pemimpin bisnis (atau organisasi apapun) saat ini ialah apakah mereka memiliki waktu dan energi yang cukup untuk mengelola proses destruksi kreatif, khususnya dengan kecepatan dan skala yang dibutuhkan agar sanggup bersaing dengan pasar. Terdapat perbedaan esensial antara perusahaan dan pasar dalam mendorong, mengelola, dan mengendalikan proses destruksi kreatif dikarenakan asumsi yang berlainan.

Inovasi, yang disebut oleh Schumpeter sebagai kunci destruksi kreatif, memang menjadi sumber market power. Namun ini bersifat sementara; inovasi yang melahirkan kekuatan kompetitif bagi suatu perusahaan akan mendorongnya tumbuh menjadi monopolistik hingga masuk pendatang baru yang lebih inovatif dan menggusur perusahaan dominan. Cukup lama piringan hitam menikmati masa jayanya hingga pita kaset menggesernya, lalu datang compact disc, kemudian MP3 player, lalu flash disk; makin ke belakang, kecepatannya makin tinggi dan skalanya kian besar.

Richard Foster dan Sarah Kaplan memetik kesimpulan dari riset mereka bahwa perusahaan yang sangat bagus dan paling luas diakui sekalipun tidak akan mampu mempertahankan tingkat performansi yang tinggi lebih dari 10-15 tahun. Ini karena korporasi dibangun di atas asumsi kontinyuitas, fokus mereka pada operasi; sedangkan pasar (kapital) dibangun di atas asumsi diskontinyuitas (Peter Drucker, The Age of Discontinuity), fokus mereka pada kreasi dan destruksi.

Gagasan destruksi kreatif mengajak kita untuk memeriksa kembali semua sistem keyakinan, asumsi-asumsi, serta praktek bisnis yang berlaku saat ini. Sekadar adaptasi tidak lagi memadai. Ketika kekacauan atau ketidakteraturan (chaos) meletup, itulah waktu yang tepat untuk melakukan destruksi, misalnya merombak sistem dan regulasi . Di tengah ketidakteramalan situasi sebagaimana diingatkan dengan begitu meyakinkan oleh Nassim Taleb, gagasan Schumpeter ini masih relevan.  [yy/tempo.co]

Dian R. Basuki