fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Jurus-Jurus Marketing Inspirasional

http://2.bp.blogspot.com/_OyvusGtSvBY/SZ_1Y_uxjMI/AAAAAAAAAA4/jRU85ioWeFY/s320/key25succes.jpgBeberapa tahun lalu, saya ingin membeli sebuah kamera terbaru bermerek Olympus di Singapura, di Orchard Road. Karena sebelumnya saya sudah mengumpulkan berbagai informasi mengenai detail produk tersebut, maka tanpa ragu-ragu lagi saya mendatangi sebuah toko kamera yang cukup besar.

Pada saat itu saya langsung menanyakan kamera dengan merek Olympus dengan seri tertentu kepada salah seorang penjualnya. Biasanya, setelah penjual mengetahui bahwa seorang pembeli sudah mengerti mengenai spesifikasi sebuah produk, maka produk dengan merek tersebut harganya bisa langsung dibanting. Dan selanjutnya, penjual tersebut biasanya akan secara langsung pula menjelek-jelekkan produk tersebut.

Misalnya dengan mengatakan: “Pak, produk itu sudah bukan buatan asli dari negara asalnya, sudah tidak sekuat dari buatan negara asalnya, modelnya sudah ketinggalan, sudah jelek. Lebih baik memilih kamera digital merek lain saja!

Ini ada seri terbarunya yang telah berhasil memenangkan berbagai penghargaan internasional. Ditambah dengan lensa Leica dari Jerman asli yang akan menghasilkan gambar yang lebih baik dan jelas. Dan harganya sebenarnya hampir sama.

"Dan di toko kami Anda akan mendapatkan harga yang paling murah”. Namun, apa yang terjadi saat saya pergi ke toko yang lainnya (toko B), kemudian langsung menanyakan kamera digital, katakan saja merek Samsung, merek yang sama seperti yang direkomendasikan di toko sebelumnya? Ternyata harga kamera digital Samsung tersebut langsung dibanting di toko B.

Karena itu, kemudian saya kembali lagi ke toko A dengan sedikit rasa kurang puas kepada penjual di toko A,karena ternyata harga Samsung di toko B bisa lebih murah. Dari pengalaman itu saya mengetahui, ternyata kuncinya jika kita menanyakan suatu produk tertentu yang telah kita ketahui spesifikasinya sebelumnya, maka para penjual cenderung langsung akan menurunkan harganya, dan berusaha untuk menawarkan produk yang lainnya.

Tapi, meskipun harganya diturunkan, sebenarnya produk itu tidak boleh dibeli. Ketika saya sudah mengetahui strategi penjualan seperti itu, maka saya mencoba untuk mengadakan suatu riset dengan berpura-pura menanyakan untuk membeli kamera digital,sebut saja merek Panasonic Lumix. Karena saya sudah mengetahui spesifikasinya sebelumnya,ternyata benar, seperti biasanya si penjual langsung menurunkan harganya, dari USD450 menjadi USD305.

Namun, pada saat saya ingin melihat barangnya, maka si penjual langsung menjelek-jelekkan kamera tersebut. Kemudian penjual tersebut dengan segera memberikan alternatif berupa kamera digital, sebut saja merek Fuji, dengan kemampuan terbarunya. Namun, saya tetap berusaha untuk memilih merek Panasonic tersebut dengan mengatakan, ”Saya memilih Panasonic saja”.

Dengan segera penjual itu langsung menjawab, ”Mau tambah memory card-nya?” atau “Mau tambah tripod- nya sekalian?”dan seterusnya. Rupanya si penjual tadi berusaha untuk dapat menambah keuntungan dengan menjual aksesorinya (karena telah terlanjur menurunkan harga pokok kamera digitalnya).

Kemudian penjual tersebut terus berusaha agar saya tidak membeli merek yang saya inginkan namun merek lainnya,oleh karena itu penjual tersebut langsung mengatakan, ”Tapi Pak, harga tersebut belum termasuk pajak, belum memakai GST dan tanpa asuransi”.

Namun, saya tetap pada keputusan untuk memilih kamera bermerek Panasonic tersebut. Maka saya pun mengatakan, ”Tidak masalah, apapun juga saya tetap memilih kamera tersebut”. Dengan sedikit kesal dan resah, si penjual tersebut masih terus berusaha mencari-cari alasan agar saya tidak membeli kamera merek itu dengan mengatakan, ”Baik, kalau begitu saya cek dulu barangnya ada atau tidak”.

Beberapa saat kemudian penjual itu mengatakan, ”Maaf Pak, ternyata barangnya sudah habis, dan satu-satunya ini adalah barang display”. Kemudian saya langsung menjawab, ”tidak masalah, meskipun barang display tetap akan saya beli”. Menghadapi kegigihan itu, sebagai jurus pamungkasnya, penjual itu kemudian mengatakan, ”Maaf kalau yang display tidak dijual!”

Apa yang kita pelajari dari kasus tersebut? Dalam melakukan kegiatan pemasaran, kita harus selalu memegang prinsip bahwa “Marketing itu harus dilakukan dengan baik, tidak boleh menipu”.

Dengan begitu, kita bisa mendapatkan konsumen yang semakin setia dan loyal kepada kita dan produk atau jasa yang kita jual. Dalam kasus saya tersebut, bila konsumen memang tetap ingin membeli produk tertentu dan kita sudah terlanjur memberikan harga yang murah, maka sebaiknya kita harus mau memberikannya.

Untuk mencari keuntungan lebih, selanjutnya pemasar bisa melakukan cara yang lebih baik dengan menawarkan produk-produk lainnya, atau cross selling.

Masih banyak inspirasi dan strategi dahsyat dari marketing revolution ini, yang telah terbukti meningkatkan hasil pemasaran berbagai perusahaan secara dahsyat pula, oleh karena itu terus ikuti artikel-artikel saya di SINDO, dan temukan berbagai strategi dahsyat lainnya yang bisa langsung Anda praktikkan.(*)

TUNG DESEM WARINGIN | Okezone.com