fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Mensurvei Kepuasan Karyawan

http://1.bp.blogspot.com/_sbgk0vy_d6Y/TN0QE-B2pTI/AAAAAAAAAcY/p0Sa_KpyV58/s1600/d9ea8e8add399af0.jpgBila Anda sempat membaca iklan di beberapa suratkabar nasional, mungkin Anda menemukan ada perusahaan yang memasang iklan dengan tagline seperti ini: “Tempat terbaik untuk bekerja.” Sangat gamblang.

Mengapa perusahaan ini memasang frasa tersebut di bagian awal iklan “lowongan kerja”-nya? Apakah bermaksud menyombongkan diri atau sekedar untuk gagah-gagahan?Apa pula hubungannya dengan kepuasan karyawan?

Agaknya bukan karena alasan itu, melainkan karena perusahaan ini ingin menunjukkan kepeduliannya kepada sumberdaya manusia sebagai aset penting perusahaan. Perusahaan ini yakin bahwa orang bekerja bukan sekedar mencari gaji, melainkan ingin mendapatkan nilai yang bermakna bagi kehidupannya. Lantaran itulah, perusahaan ini menawarkan tempat bekerja terbaik bagi mereka yang mencari nilai lebih dari sekedar uang.

Nilai lebih itu bisa berupa apresiasi perusahaan terhadap kreativitas karyawan, kesempatan mengaktualisasikan diri yang terbuka luas, pengembangan karier yang jelas, dan sebagainya. Tentu saja, gaji dan opsi saham yang menarik. Namun, lebih dari itu, budaya perusahaan yang menghargai sumberdaya manusianya akan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi orang-orang yang bersedia bergabung bukan hanya untuk mencari penghasilan.

Perusahaan semacam ini biasanya mengadakan survei secara teratur untuk mengetahui bagaimana respons karyawan terhadap perusahaan. Banyak sudah perusahaan yang melakukan survei untuk mengetahui kepuasan pelanggannya. Namun lebih sedikit jumlah perusahaan yang melakukan survei untuk mengidentifikasi kepuasan karyawannya.

Banyak perusahaan yang merasa survei seperti itu tidak perlu dilakukan. Manajemen perusahaan beranggapan bahwa sebagian besar karyawan membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup. Sebab, bagaimana pun kondisi perusahaan, kebanyakan karyawan memilih untuk bertahan ketimbang mencari pekerjaan lain yang notabene memang tidak mudah. Puas atau tidak puas menjadi soal kesekian.

Bila karyawan kemudian memutuskan keluar, barulah staf departemen sumberdaya manusia mewawancarai karyawan itu; istilahnya exit interview. Praktis, hanya dua kali perusahaan menggali informasi: saat calon karyawan mengikuti tes masuk dan ketika karyawan itu akan keluar. Sebagian besar perusahaan hanya melakukan hal ini.

Perusahaan yang menghargai sumberdaya manusianya akan menempuh langkah berbeda, yakni mengadakan survei secara teratur. Inilah cara manajemen perusahaan menggali masukan atau umpan balik dari karyawan mengenai berbagai unsur yang terkait dengan pekerjaan. Misalnya saja, kondisi tempat kerja, jenjang karier, peluang pengembangan diri, hubungan atasan-bawahan, cara-cara pengambilan keputusan, dan banyak lagi.

Umpan balik ini digunakan perusahaan untuk memperbaiki “kualitas layanan” perusahaan kepada karyawan.

Perusahaan, yang diwakili oleh pemilik saham dan jajaran manajemen, bukan hanya bisa menuntut ini dan itu dari karyawan, tapi juga harus sanggup menyediakan lingkungan kerja yang membuat karyawan mau dan mampu memberikan kontribusi terbaik dengan suka cita.

Perusahaan yang mampu menciptakan terobosan, menurut riset Keith McFarland, penulis buku The Breakthrough Company, berusaha menciptakan “tempat kerja yang memungkinkan orang-orang biasa mampu melakukan pekerjaan yang luar biasa”. Tugas penting ini tidak cukup didelegasikan kepada departemen sumberdaya manusia, tapi mesti menjadi tanggung jawab utama eksekutif puncak.

Banyak perusahaan dengan bangga memasang tagline tadi dalam iklan lowongan kerja mereka (perusahaan tempat Anda bekerja tergolong yang ini atau bukan?). Perusahaan ini percaya bahwa perasaan karyawan di tempat kerja merupakan salah satu pendorong yang penting bagi keberhasilan perusahaan. Perusahaan ini umumnya percaya pada kata-kata yang mungkin Anda sudah sering dengar (tapi sayangnya jarang dipraktekkan oleh kebanyakan perusahaan): “Bila Anda memperlakukan karyawan Anda dengan baik, mereka juga akan memperlakukan pelanggan Anda dengan baik.”

blog.tempointeraktif.com