fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Maximizing The Potential of All Employees

http://4.bp.blogspot.com/_IfAUnaY-Ur8/TQ0UVSrke-I/AAAAAAAAABw/wBVS3wPL03A/s1600/high-potential-employees.jpgMasalah “rekrut-merekrut”, “retain-meretain” adalah masalah yang sudah biasa terjadi dalam dunia kerja. Ketika salah seorang yang berpotensi mengajukan surat resign sementara belum ada orang yang dirasa capable untuk menggantikannya, maka serta merta pihak management beserta HRD berusaha melancarkan jurus-jurus jitunya untuk me-retain si karyawan.

Mulai dari mengevaluasi job description si karyawan, menganalisa lingkungan kerja sampai menawarkan kenaikan gaji dan benefit yang seimbang dengan apa yang ditawarkan kompetitor. Tak jarang management rela kehilangan sejumlah nilai demi mempertahankan karyawan potensialnya. Namun apabila usahanya tidak berhasil, maka HRD pun akan bekerja keras untuk merekrut tenaga kerja yang dianggap sama potensilnya dari perusahaan lain untuk mengisi kekosongan yang ada.

Bayangkan berapa expense yang harus perusahaan keluarkan untuk usaha retention dan rekrutmen dalam kasus di atas? Apakah perusahaan memang harus menyiapkan budget untuk hal-hal tersebut? Belum lagi effort yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan tenaga kerja yang capable.

Think that all of employees are potential employees

Memang tidaklah dapat dielakkan bahwa perusahaan haruslah memiliki budget dan perhatian khusus untuk rekrutmen dan retention. Namun ada satu strategi yang juga tidak kalah pentingnya dari kedua strategi di atas yaitu dengan mempersiapkan succesor bagi semua employee tanpa terkecuali. Ini merupakan salah satu strategi yang menarik untuk mencapai kemajuan yang maksimal.

Pertama-tama pandanglah bahwa semua karyawan adalah karyawan yang potensil tanpa terkecuali yang dapat diandalkan untuk menggantikan mereka yang berada di level yang lebih tinggi dari mereka.

Seringkali kita menemukan karyawan yang bekerja pada satu posisi selama bertahun-tahun tanpa mengalami rotasi ataupun kenaikan level. Mengapa demikian? Biasanya jawabannya adalah, si karyawan dianggap tidak memiliki potensi yang cukup untuk untuk mendapatkan promosi. Bahkan ketika posisi di atasnya kosong, maka management cenderung mencari orang lain untuk mengisi posisi tersebut.

Apakah memang demikian? Apakah karyawan yang sudah bekerja tahunan tersebut tidak memiliki potensi? Sesungguhnya jika ia tidak memiliki potensi, tidak mungkin ia dapat bertahan hingga sekian tahun. Ataukah sebenarnya ia tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan dirinya?

Pihak management haruslah bersikap fair dalam hal ini. Acap kali karyawan tidak terlihat begitu berpotensi bukan karena ia tidak memiliki potensi tetapi karena belum ada suatu kesempatan untuk mengasah potensinya. Oleh karena itu hal pertama yang harus dilakukan oleh HRD beserta dengan pihak management adalah memandang bahwa semua karyawan memiliki potensi dalam diri mereka dan apabila potensi tersebut dimaksimalkan, maka ada begitu banyak karyawan potensil yang dimiliki perusahaan sehingga pihak management tidak perlu merasa kuatir adanya kekosongan-kekosongan yang membuat mereka harus bersegera merekrut tenaga kerja dari perusahaan lain. Ketika seorang karyawan mengundurkan diri maka dengan segera karyawan lain siap untuk menggantikannya.

Strategies for Maximizing Employee Potential

Setelah memandang demikian maka pihak HRD haruslah membuat serangkaian program untuk memaksimalkan potensi yang ada bagi setiap karyawan. Berikut adalah beberapa strategi singkat yang menurut William J. Rothwell dalam bukunya “The manager’s guide to maximizing employee potential” dapat diterapkan untuk memaksimalkan potensi karyawan:

1.       Rekrutlah orang yang tepat.
2.       Identifikasi potensi dari setiap karyawan.
3.       Berikan pelatihan dan pengembangan atas talent yang dimiliki setiap karyawan.
4.       Berikan “career advice” dan mentoring pada setiap karyawan
5.       Berikan penilaian dan feedback terhadap keterampilan yang ada
6.       Lakukan “performance coaching”
7.       Jangan lupakan “transfer knowledge” dan “profesional contact”.

Sedangkan John Love dari JLM and associates  juga mengajukan beberapa langkah memaksimalkan potensi dari karyawan:

1.       Melakukan evaluasi dan identifikasi atas pekerjaan dari setiap karyawan.
2.       Berikan penghargaan sesuai dengan prestasi tiap-tiap orang.
3.       Berikan peringatan bahkan ganjaran atas kelalaian atau ketidakberhasilan dari karyawan. Bahkan untuk hal ini John Love mengemukakan bahwa kegagalan dari karyawan dapat berujung pada pemecatan. Apabila hal ini terjadi maka hendaklah pemberhentian seseorang tidak ditutupi dengan alas an mengundurkan diri dengan alasan pribadi tetapi dengan terus terang dicantumkan bahwa si karyawan tersebut tidak berprestasi.
4.       Lakukan rotasi sehingga setiap orang dapat belajar lebih banyak.
5.       Berikan juga penilaian atas kinerja tim.
6.       Ciptakan sebuah kompetisi untuk meningkatkan kinerja masing-masing karyawan.
7.       Lakukan delegasi dan berikan kesempatan bagi setiap individu untuk menjadi pengambil keputusan.

Menurut Bernhard Sumbayak, founder and chairman Vibiz Consulting, sebenarnya rotasi antar divisi atau bagian bisa menjadi solusi efektif untuk memaksimalkan potensi pegawai, karena seseorang yg di divisi keuangan atau akuntansi misalnya, tidak harus selamanya disitu sampai dia pensiun. Tapi khususnya untuk perusahaan-perusahaan yg sudah besar atau mapan, menurut Bernhard Sumbayak lagi, sering tidak ada keberanian memindahkan seorang karyawan  dari divisi non marketing ke divisi marketing atau dari divisi support ke divisi revenue center.

Umumnya yang sering  terjadi adalah pemindahan dari divisi marketing atau divisi revenue center ke divisi non marketing/divisi support karena karyawan tersebut tidak perform atau targetnya tidak tercapai. Padahal sebenarnya cukup banyak potensi karyawan dari divisi back office atau bahkan dari divisi HR yg memiliki potensi sebagai ujung tombak perusahaan kalau dia dirotasi/dimutasikan.

Masalahnya siapa yg bisa meng "assess" potensi karyawan itu, bagaimana mekanismenya dan siapa yg punya otoritas memindahkannya? Karena seperti kita ketahui acapkali setiap divisi merupakan "kerajaan" kecil dalam organisasi, dan "Silo thinking" seringkali sudah mewabah. Jika anda ingin memaksimalkan potensi pegawai dalam perusahaan anda, beberapa hal di atas perlu dipertimbangkan.

Usahakan untuk tidak seorang pun berada dalam comfort zone yang dapat membuat ia statis dan tidak berkembang. Melainkan buatlah setiap individu mengeksplore setiap potensi yang ada pada diri mereka.

Jika Management beserta dengan HRD berhasil membuat setiap karyawan untuk mengeksplore diri mereka maka niscaya perusahaan akan terus berkembang tanpa batas.

 

oleh Ruth Berliana

RB/IC/vibizmanagement.com