fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Memasuki Era Brand Global

Memasuki Era Brand Global Globalisasi seakan-akan membuat dunia ini terbentang luas tanpa ada hambatan mengenai batasan negara, budaya, dan pasar. Keadaan ini menyebabkan terbukanya banyak kesempatan baru,networking yang semakin luas, bergesernya industri pabrik oleh bisnis digital di banyak negara, dan terjadi perubahan kebutuhan tenaga kerja. 
 
Hal ini jelas terlihat dari makin banyaknya brand-brand global hadir di tengah masyarakat. Mulai dari bisnis franchise fast food seperti McDonald’s, KFC, Burger King, Starbucks, hingga convenience store seperti Circle-K dan 7-Eleven. 
 
Keadaan seperti itu secara tidak langsung membawa perspektif baru dalam dunia bisnis saat ini, terutama untuk bisnis lokal yang sedang berkembang. Banyak bisnis lokal yang secara instan langsung mengadopsi pakem globalisasi, ada yang ternyata cukup berhasil, dan ada juga yang tidak.
 
Apa yang membuat banyak brand global bisa bertahan lama di tengah masyarakat? Eksistensi sebuah brand global tidak terlepas dari kemampuannya mengemas kultur globalnya dan diadopsi dengan nilai-nilai lokal serta membangun hubungan emosional dengan konsumen lokal. 
 
Brand dapat dianalogikan sebagai manusia, mereka juga punya personalitas, karakter dan keunikan masing-masing yang menjadi faktor pembeda. Untuk bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain, kita perlu memahami dan mempelajari karakter orang itu. 
 
Pemahaman mengenai halhal kecil seperti tutur kata, sifat, hobi, dan karakter orang tersebut dapat menentukan sejauh mana kita dapat menjalin relasi dengan orang itu. Prinsip ini sama halnya dengan sebuah brand internasional. 
 
Untuk bisa bertahan di pasar lokal, sebuah brand perlu mewujudkan perspektif global dalam konteks lokal. Tentu saja bukan dengan memaksakan nilainilai globalisasi agar bisa diterima di lokal. Tapi perlu memahami nilainilai lokal dan kultur yang ada di masyarakat, dan kemudian menyesuaikan diri terhadapnya. 
 
Contohnya seperti apa yang dilakukan McDonald’s. Sebagai brand yang sangat mendunia, McDonald’s sangat berusaha untuk melokalkan brand-nya sehingga bisa diterima di masyarakat. McDonald’s menyesuaikan menu restorannya sesuai dengan kultur lokal yang ada. 
 
McDonald’s tidak menyajikan daging babi yang haram bagi kaum muslim di Indonesia, sedangkan ayam goreng dan nasi putih yang merupakan cita rasa lokal tidak ditemukan di Amerika. 
 
McDonald’s di India tidak menyajikan burger dengan daging sapi, hewan yang sangat dipuja oleh masyarakat Hindu. Sebagai gantinya McDonald’s menyajikan Maharaja Mac, burger dengan daging domba yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat India. 
 
Think Global, Act Local 
 
Think global and act local, perlu dipahami bahwa untuk mewujudkan perspektif global dalam konteks lokal bukanlah dengan cara memaksakan kultur global dan mengabaikan nilai-nilai lokal begitu saja. 
 
Mengembangkan perspektif global berarti berupaya lebih memahami, menerima, dan memberikan wawasan yang lebih luas. Brand yang mampu menjaga eksistensi adalah yang bisa bertindak dalam perspektif lokal. 
 
Bertindak secara lokal berarti melakukan perubahan menyesuaikan dengan kultur,budaya dan hal-hal yang menjadi prioritas masyarakat di mana brand tersebut hadir di tengah-tengah mereka. 
 
Memahami karakter konsumen memungkinkan suatu brand menjalin hubungan emosional dengan konsumen dan kemudian akan berdampak terhadap eksistensi brand.
 
DANIEL SURYA
Chairman South East Asia DM IDHOLLAND
seputar-indonesia.com