fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Iklan Digital Perlu Libatkan Emosi Konsumen

Iklan Digital Perlu Libatkan Emosi Konsumen

 

Fiqhislam.com - Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan media di seluruh dunia semakin dinamis, terlebih saat meledaknya jejaring sosial yang kini mulai meluas, bukan hanya untuk media berkomunikasi antar muka. Tren iklan global pun berekspansi ke media sosial dalam bentuk iklan digital.

Dari catatan lembaga survei independen Ipsos, mesin pencari merupakan salah satu saluran iklan yang tercepat pertumbuhannya. Diperkirakan, pasarnya mencapai nilai hingga 7,3 miliar dolar AS pada semester pertama tahun ini. Di Indonesia sendiri, 85 persen pengguna online menggunakan mesin pencari untuk mencari informasi atau produk.

Fenomena ini menjadi penanda bahwa media sosial menciptakan sebuah cara baru untuk berinteraksi dengan konsumen. Sejalan dengan kenyataan tersebut, kompetisi produk juga semakin ketat dengan berbagai produk yang hampir sama. Pada titik ini dibutuhkan pelibatan aspek emosional konsumen agar sebuah produk dapat lebih diterima.

“Agar tercipta sebuah iklan digital yang efektif, yang harus diperlukan adalah pelibatan aspek emosional dari konsumen,” kata Peter Fairbrother, Managing Director Ipsos ASI India and South East Asia di Jakarta, 25 Oktober 2011.

Peter menambahkan, untuk membuat iklan yang efektif tidaklah harus menghabiskan dana yang besar. Yang dibutuhkan adalah kreativitas iklan yang membuat sebuah iklan itu selalu diingat oleh konsumer. “Iklan harus jelas dan simpel, ini penting untuk menjadi eksekusi,” tambahnya.

Dalam kondisi dunia media yang berubah, perusahaan saat ini juga membutuhkan bantuan riset untuk menghitung dampak sebuah merek. “Kami coba memberikan solusi agar pemasar tidak salah langkah,” kata Iwan Murty, Manager Director Ipsos Indonesia.

Dalam risetnya, Ipsos mencatat banyak kegagalan dalam beriklan. “Sekitar 25 persen gagal karena produk yang tidak relevan, 10 persen karena consumer bosan, 15 persen sustaining, selebihnya disebabkan oleh jaringan brand,” ucap Iwan.

Untuk itu, kata Iwan, dalam membuat strategi beriklan digital saat ini, Ipsos menggunakan pendekatan bahwa consumer tidak hanya fokus pada iklan saja, tetapi juga mengintegrasi platform yang sama seperti dengan media lain serta membolehkan konsumen untuk menambah apa yang mereka inginkan.

“Iklan digital yang paling efektif ke depan yakni sebuah iklan yang mempunyai cerita bagus dan dibincangkan oleh setiap orang. Dua hal ini sangat menentukan di luar aspek brand-nya,” kata Mark Hunchinson, Head Division Ipsos ASI Indonesia.

vivanews.com