fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

1/2 Pembeli Batal Belanja karena Terganggu Musik di Toko

1/2 Pembeli Batal Belanja karena Terganggu Musik di Toko Fiqhislam.com - Musik yang diputar di department store atau toko pakaian, bertujuan untuk membuat pengunjung berbelanja lebih banyak atau betah berlama-lama di dalamnya. Tapi pemilihan musik yang salah, justru bisa membuat calon pembeli kabur.

Hal ini sudah terbukti di sejumlah pusat perbelanjaan di Inggris. Dikutip dari Daily Mail, hampir setengah dari pembeli di Inggris keluar dari toko karena terganggu dengan musik yang dimainkan dalam toko tersebut.

Menurut studi, toko-toko high street terancam bisnisnya gulung tikar karena tidak menggunakan musik yang sesuai dengan imej brand yang dijualnya. Studi tersebut melibatkan lebih dari 1.000 pembeli, yang ditanyai tentang pendapat mereka mengenai musik dalam toko dan bagaimana musik memengaruhi mereka secara fisik maupun emosional.

Dari hasil studi diketahui, sebanyak 3/4 pengunjung menyatakan akan segera meninggalkan toko begitu mendengar musik yang mengganggu telinga mereka. Sedangkan 40% calon pembeli akan berada lebih lama jika musik yang diputar sesuai dengan suasana toko. Sebaliknya, 40% pengunjung akan cepat-cepat keluar dari toko jika musik yang dimainkan tidak sesuai.

Lama tidaknya seorang pembeli di dalam toko juga dipengaruhi dengan selera musik. Jika ia mendengar alunan musik yang disukainya, besar kemungkinan dia akan berlama-lama di dalam toko.

Terlepas dari survei, menurut laporan yang dirilis Immedia Plc --perusahaan yang mengembangkan musik untuk retailer-- setengah dari calon pembeli mengatakan, mereka keluar dari sebuah butik atau toko karena tidak suka atau terganggu dengan musik di dalam toko tersebut. Sementara itu, 23% pengunjung menyatakan enggan kembali lagi ke toko pakaian yang memutar musik yang tidak mereka sukai.

Penemuan tersebut, mungkin sedikit banyak bisa mengubah pandangan para retailer yang selama ini hanya mengandalkan faktor visual dalam strategi penjualan mereka. Chief Excecutive Immedia Plc Bruno Brookes mengatakan, umumnya sebuah brand bisa mengeluarkan biaya hingga £25 miliar atau sekitar Rp 357 triliun per tahun untuk keperluan promosi secara visual. Selama ini, para pelaku bisnis retail memang hanya mengutamakan apa yang pembeli lihat, tapi banyak yang tidak menyadari bahwa apa yang mereka dengar juga turut memengaruhi tingkat penjualan.

"Data ini didukung oleh sejumlah penelitian ilmiah yang mendemonstrasikan bagaimana strategi musik yang efektif bisa meningkatkan moral staf toko, menambah pengalaman belanja pelanggan hingga akhirnya meningkatkan angka penjualan," ujar Bruno.

Penasihat Ilmiah Immedia Dr Vicky Williamson menambahkan, "Musik bisa memengaruhi suasana hati, emosi dan tingkat energi. Studi telah menunjukkan seberapa besar musik latar memengaruhi pengalaman belanja pembeli. Pemilihan musik harus memerhatikan brand atau identitas produk. Musik yang tidak mencerminkan produk yang dijualnya, akan menimbulkan reaksi negatif dari konsumen dan rendahnya penjualan."

Hestianingsih - wolipop