pustaka.png.orig
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Kebiasaan Buruk yang Menjatuhkan Perusahaan Sukses

Kebiasaan Buruk yang Menjatuhkan Perusahaan SuksesFiqhislam.com - Ketika mendengar kabar bahwa Eastman Kodak Co. mengajukan permohonan perlindungan kepailitan pekan lalu, saya teringat pada satu buku menarik yang ditulis oleh Jagdish N. Sheth.

Buku ini ditulis oleh guru besar kompetisi global di Goizueta Business School at Emory University, AS, tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan seorang eksekutif perusahaan kepadanya. Pertanyaan yang membuat Sheth penasaran untuk mencari tahu jawabannya itu berbunyi seperti ini: “Mengapa perusahaan bagus bisa gagal?”

Karya yang berjudul The Self Destructive Habits of Good Companies (edisi Indonesianya: 7 Tanda Kehancuran Bisnis Sukses, Gramedia, 2008) ini memaparkan kebiasaan-kebiasaan buruk perusahaan sukses yang menyeret mereka ke dasar jurang. Banyak di antara 62 perusahaan yang dipuji-puji Tom Peters dan Robert Waterman dalam buku laris mereka, In Search of Excellence (1982), ternyata mengalami kesulitan serius dalam dua dekade terakhir, termasuk ikon bisnis AS seperti AT&T, Xerox, dan Kodak.

Sebagian di antara perusahaan itu mampu bangkit kembali. Ada yang tengah berusaha keras memulihkan diri ketika buku ini ditulis pada 2007. Lainnya kemungkinan besar bangkrut. Apa saja kebiasaan buruk yang membuat perusahaan sukes ini merosot tajam?

Sheth menyebut tujuh kebiasaan buruk yang merusak perusahaan bagus. Pengingkaran merupakan kebiasaan pertama yang merusak. Manajemen perusahaan menolak untuk mengakui realitas baru. Biasanya, kata Sheth, proses pengingkaran dimulai ketika perusahaan telah melewati masa awalnya yang bersahaja dan mulai membangun mitos di sekelilingnya. Mereka mengingkari kehadiran teknologi baru, perubahan selera konsumen, maupun perubahan lingkungan global. Pengingkaran pula yang menjatuhkan posisi General Motors sebagai raksasa otomotif nomor satu di dunia.

Kebiasaan kedua yang bisa merusak perusahaan sukses ialah arogansi. Definisi baku arogansi ialah memamerkan secara berlebih kehebatan diri. Namun, dalam drama Yunani kuno, arogansi dipandang sebagai ‘kelemahan tragis’ yang menjadi sebab kejatuhan orang-orang besar. Kelemahan serupa kini jadi sebab keruntuhan perusahaan-perusahaan besar. Dari semula operator pipa gas tak dikenal, Enron tumbuh menjadi pemasok energi terbesar di dunia di bidang kelistrikan, air, dan telekomunikasi. Namun, perusahaan ini rontok karena arogansi dan ketamakan eksekutifnya.

Sikap puas diri merupakan kebiasaan buruk ketiga. Puas diri adalah perasaan aman dan nyaman yang disebabkan oleh keyakinan bahwa kesuksesan Anda di masa lampau akan terus berlanjut hingga masa mendatang. Asumsinya, masa depan akan sama dengan masa sekarang. Sheth mencontohkan bagaimana perusahaan jasa telepon AT&T di Amerika meroket berkat monopoli yang diberikan pemerintah. Para eksekutifnya membayangkan monopoli itu akan berlangsung terus. Nyatanya, hak monopoli ini dicabut, dan perusahaan itupun kelimpungan.

Kebiasaan buruk yang keempat ialah mengandalkan keberhasilannya pada satu kompetensi inti. Hal ini, kata Sheth, dapat menjadi kebiasaan merusak bila menjadikan perusahaan berpandangan sempit dan buta terhadap kesempatan lain. Pertanyaan pokoknya: apa yang akan dilakukan bila kompetensi inti perusahaan tidak lagi efektif? Digital Equipment, atau dikenal sebagai DEC, identik dengan mikrokomputer hingga penguasaan ini berubah jadi kutukan bagi perusahaan ini dan menyebabkan kejatuhannya. DEC enggan membangun kompetensi baru atau menemukan penerapan baru bagi kompetensinya.

Rabun jauh persaingan merupakan kebiasaan buruk kelima. Ketika perusahaan hanya melihat pesaing dekat yang tantangannya langsung dan segera, perusahaan kurang peduli pada apa yang akan terjadi di masa depan. Sheth mengambil contoh Sony. Setelah berhasil mengatasi rival besar Jepang-nya, seperti Matsushita, Hitachi, dan Sharp, Sony merambah Eropa dan berhadapan dengan Philips dan Thomson. Di Amerika, Sony mengatasi GE dan Zenith. Namun, setelah menjadi nomor satu di dunia, Sony menganggap sebelah mata pendatang baru dari Korea Selatan, seperti Samsung yang sukses mengalahkan Sony dalam kapitalisasi saham pada 2004.

Fanatisme wilayah menjadi kebiasaan buruk keenam. Seiring pertumbuhan dan kesuksesan, perusahaan cenderung mengorganisasi diri berdasarkan ‘kubu-kubu fungsional’, bahkan ‘kubu-kubu geografis’, seperti mendirikan kantor-kantor regional. Umumnya, kubu-kubu ini tidak selalu bekerja sama dengan baik. Motorola pernah menguasai 33 persen pangsa pasar telepon seluler di dunia pada 1990. Lima tahun kemudian, pangsanya tinggal 14 persen. Di saat yang sama, pangsa Nokia naik dari 22 menjadi 35 persen. Bagi Nokia, teknik bukan segalanya; ada desain, cara menjual, layanan konsumen yang sangat penting diperhatikan. Motorola dinilai oleh Sheth kurang serius mengurus hal-hal di luar urusan teknis.

Kebiasaan buruk ketujuh ialah obsesi akan volume. Menurut Sheth, istilah bisnis yang paling tepat untuk kebiasaan merusak ini adalah ‘inefisiensi biaya’. Maknanya sama dengan ‘besar pasak daripada tiang’. Sheth mencontohkan IBM. Ketika menjadi pionir dalam industri komputer pribadi (PC), IBM memulai dengan struktur biaya tinggi dan margin besar. Tapi margin laba ini kemudian turun karena pesaing masuk dan berani menawarkan harga lebih rendah, namun biaya IBM ternyata tetap tinggi. Ketidakmampuan mengatasi soal inilah yang mendorong IBM menjual unit bisnis PC-nya kepada perusahaan China, Lenovo, pada awal 2005.

Di samping memberikan banyak contoh kebiasaan buruk perusahaan, Sheth juga menawarkan resep untuk menghindari kejatuhan perusahaan. Sheth menawarkan obat penawar bagi ketujuh kebiasaan buruk tadi. Intinya ialah melakukan tindakan pencegahan dengan pertama-tama jangan pernah merasa sudah mapan. Perubahan nyata ini harus dimulai dari pemimpin teratas, sebab eksekutiflah yang memiliki kewenangan untuk mengawali perubahan di perusahaan. Karya Sheth ini sangat berharga ketika kita mempelajari mengapa perusahaan besar bisa terpuruk.

blog.tempointeraktif.com