fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Kolaborasi & Inovasi

Kolaborasi & Inovasi Fiqhislam.com - Belum lama ini, Comcast Corporation (Comcast), sebuah perusahaan penyedia layanan televisi kabel, penyedia layanan Internet dan penyedia layanan telepon terbesar keempat di Amerika Serikat (AS), mengumumkan telah mencapai kesepakatan distribusi yang bersifat komprehensif dan jangka panjang dengan Walt Disney Corporation (Disney).
 
Dengan kesepakatan ini, pelanggan TV kabel Xfinity milik Comcast dapat menikmati konten-konten olah raga, berita, dan hiburan berkualitas milik Disney, baik melalui televisi, Internet, maupun komputer tablet. Kesepakatan ini merupakan langkah maju bagi terciptanya model bisnis multisaluran serta mendukung tujuan kedua perusahaan untuk menghadirkan layanan terbaik bagi pelanggan melalui berbagai platform dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi termutakhir. Kedua perusahaan juga sepakat untuk berkolaborasi menciptakan pengalaman menonton yang baru dan inovatif bagi pelanggan TV Xfinity.
 
Neil Smit, Presiden dan CEO Comcast, mengatakan bahwa Comcast adalah yang pertama menciptakan teknologi sehingga memungkinkan pelanggan menikmati konten di mana saja dan kapan saja. Pihaknya merasa senang telah mencapai kesepakatan yang inovatif dan jangka panjang ini dengan Disney sehingga Comcast dapat terus membawa visinya, yaitu ‘TV di mana saja’.
 
Sementara Anne Sweeney, Co-Chairman Disney Media Networks dan Presiden Disney/ABC Television Group, menambahkan kesepakatan bersejarah ini adalah contoh yang sangat baik dari hasil kolaborasi dan inovasi antara penyedia program dan distributor guna memenuhi kebutuhan pelanggan yang dinamis. Dengan memadukan konten-konten berita, olah raga, dan hiburan terbaik dengan teknologi termutakhir, perusahaan mampu mewujudkan inisiatif TV plusnya.
 
Apakah kolaborasi antara Comcast dan Disney ini akan menghasilkan manfaat yang maksimal bagi kedua pihak? Waktulah yang akan menjawabnya.  Terlepas dari itu, kolaborasi antarperusahaan, seperti yang dilakukan oleh Comcast dan Disney, telah jamak dilakukan dalam dunia bisnis. Sebuah perusahaan dapat berkolaborasi baik dengan perusahaan pemasok, distributor, bahkan pesaing. Tujuan kolaborasi juga beragam. Melalui kolaborasi, sebuah perusahaan berpeluang meraih teknologi dan akses pasar dengan biaya lebih murah, meningkatkan efisiensi, dan memperbaiki kualitas.
 
Kolaborasi juga dilakukan demi suksesnya program inovasi perusahaan, baik inovasi produk, sistem, maupun proses. Meski demikian, membentuk kemitraan yang solid untuk berinovasi bukanlah hal yang mudah. Cerita kegagalan ternyata lebih banyak ketimbang cerita keberhasilan. Heimeriks dan Stuart pernah mengungkapkan bahwa antara 50%  hingga 80% kemitraan untuk berinovasi berujung pada kegagalan. Untuk itu, antisipasi sejak dini wajib dilakukan untuk meminimalkan risiko kegagalan.
 
Sebelum memulai kemitraan, perusahaan tentu harus mencari mitra yang tepat, dalam arti memiliki kompetensi dan sumber daya yang dibutuhkan, untuk kemudian bernegosiasi serta mencapai kesepakatan. Faktor toleransi terhadap risiko juga perlu diperhatikan, mengingat inovasi adalah aktivitas dengan risiko kegagalan yang cukup tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan analisis tentang sejauh mana calon mitra berani mengambil risiko.
 
Guna membangun kemitraan yang solid, wajib diciptakan rasa saling percaya, yang merupakan perpaduan dari integritas, keandalan, dan rasa saling peduli. Rasa saling percaya penting karena, seperti dikemukakan oleh Bidault dan Castello, kemitraan mengharuskan pihak-pihak yang bermitra untuk saling berbagi pengetahuan dan informasi. Perusahaan menjalin hubungan kemitraan dengan perusahaan lain umumnya dengan alasan memadukan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan mitranya.
 
Namun hubungan kemitraan ini tidak mungkin berjalan mulus tanpa didukung rasa saling percaya untuk mengatasi rasa takut akan penyalahgunaan informasi dan pengetahuan yang sebenarnya bersifat rahasia. Rasa saling percaya akan menciptakan keterbukaan, menciptakan lingkungan yang saling mendukung, mencegah konflik destruktif, dan mencegah persaingan tidak sehat. Tanpa rasa saling percaya, tidak mungkin tercipta suasana yang kondusif untuk berinovasi. Bila perlu, perusahaan yang bermitra perlu menyediakan waktu dan melakukan aktivitas khusus untuk membangun rasa saling percaya.
 
Seiring berjalannya waktu, rasa saling percaya dapat tergerus. Oleh karenanya penting untuk memantau sejauh mana rasa saling percaya masih ada pada perusahaan-perusahaan yang bermitra. Berdasarkan hasil pemantauan, dapat ditentukan apakah kemitraan  akan dipertahankan, dikurangi derajatnya, atau justru harus ditinjau ulang.
 
Meski kepercayaan telah tumbuh, sikap kritis dan skeptis terhadap perusahaan mitra perlu dipelihara demi mendapatkan hasil terbaik. Dalam hal ini, pengalaman Renault Espace dapat dijadikan pelajaran. Renault Espace adalah mobil hasil kemitraan yang sukses antara Renault dan Matra Automobile, yang berlangsung selama hampir dua dekade. Ini adalah salah satu jenis mobil paling inovatif di Eropa pada 1990-an.
 
Tim Insinyur dan manajemen produk Renault pada mulanya meragukan kemampuan Matra mengembangkan mobil, mengingat pencapaian Matra yang tidak terlalu gemilang. Namun pada akhirnya Renault Espace mampu menjadi pemimpin pasar dalam kategorinya, sehingga Renault dan Matra terus melakukan penyesuaian terhadap kapasitas produksinya, yang akhirnya mencapai 600% dari kapasitas asalnya.
 
Kolaborasi dan inovasi adalah ide yang sangat bagus dalam kompetisi. Namun bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi menjanjikan hasil  yang gemilang, di sisi lain menebar  ancaman kegagalan. Ketepatan dalam mencari mitra, membangun saling percaya sekaligus bersikap kritis terhadap mitra merupakan kunci kesuksesannya.
 
Oleh Patricia Susanto
CEO The Jakarta Consulting Group

bisnis.com