fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Shared Knowledge is Power

Fiqhislam.com - Bagaimana agar pengetahuan yang dimiliki sebuah organisasi, perusahaan umpamanya, dapat terus tumbuh? Salah satu caranya ialah dengan berbagi pengetahuan (knowledge sharing).

Shared Knowledge is PowerDalam lingkup manajemen pengetahuan (knowledge management), berbagi pengetahuan merupakan salah satu isu yang krusial. Mengapa? Tidak mudah mendorong karyawan perusahaan untuk berbagi pengetahuan kepada karyawan lainnya.

Perusahaan yang memiliki visi jauh ke depan mengakui bahwa pengetahuan merupakan intangible asset yang sangat berharga untuk menciptakan dan menjaga keunggulan kompetitifnya. Karena itu organisasi seperti ini berkepentingan agar pengetahuan yang dimilikinya terus berkembang. Karyawan pun memiliki pemikiran serupa, pengetahuan adalah kekuatan agar bisa unggul dalam persaingan meniti karier.

Banyak karyawan yang menolak untuk berbagi pengetahuan, sebab bagi mereka pemeo lama ini masih berlaku: “knowledge is power”. Kira-kira jalan pikirannya seperti ini: jika sudah capek-capek mencari pengetahuan dan menimba pengalaman, mengapa mesti berbagi “power” kepada orang lain. Bukankah pengetahuan merupakan keunggulan yang mesti dijaga ketat?

Bila demikian, apa yang bisa dilakukan?

Orang sering beranggapan bahwa teknologi merupakan isu terpenting dalam berbagi pengetahuan. Tidak demikian. Isu terpenting dalam berbagi pengetahuan ialah kultur, kepercayaan, dan komitmen. Di masa ketika persoalan-persoalan tak bisa dipecahkan sendiri, atau sangat bergantung kepada kekuatan teamwork, berbagi pengetahuan merupakan gagasan yang sulit ditampik. Yang dibutuhkan adalah collective knowledge agar pemecahan masalah mampu mencakup berbagai perspektif. Dengan berbagi pengetahuan, pemecahan masalah menjadi semakin kaya, sebab rekan sekerja dapat memberikan kontribusi tambahan.

Memang ada kendala lain yang dihadapi dalam menerapkan gagasan berbagi pengetahuan. Misalnya saja bila seorang karyawan tidak yakin bahwa rekannya akan menerapkan pengetahuan yang ia bagikan dalam konteks yang benar. Karyawan ini mungkin juga ragu jangan-jangan pengetahuan yang ia bagikan akan diteruskan kepada orang lain tanpa ada pengakuan atas kontribusinya. “Tahu gak, gagasan itu saya yang ngasih tahu,” adalah contoh komentar yang kerap muncul ketika seseorang bercerita bahwa si X memberitahu tentang cara pemecahan masalah yang jitu, padahal ide pemecahan ini berasal dari orang yang sedang diajak bicara.

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang berkompetisi dan di saat yang sama memerlukan kerjasama. Kita punya kecenderungan untuk lebih bagus dari rekan kerja, tapi kita juga membutuhkan bantuan dari rekan itu untuk meraih tujuan organisasi maupun tujuan pribadi kita sendiri. Kompetisi tetap diperlukan dalam lingkungan organisasi, tapi dengan cara yang sehat. Dalam konteks berbagi pengetahuan inilah, konsep co-opetition (perpaduan cooperation dan competition) mesti dijalankan secara fair.

Sebagaimana banyak gagasan, agar ide berbagi pengetahuan dapat berjalan dalam organisasi diperlukan komitmen.

Organisasi atau perusahaan mesti mengembangkan komitmen terhadap kultur, perubahan, tantangan, terhadap persaingan dan kerjasama (co-opetition). Komitmen sangat dibutuhkan karena mengembangkan kultur berbagi pengetahuan jelas memerlukan waktu. Tanpa komitmen, semangat akan luntur di tengah jalan. Kepemimpinan yang visioner jelas diperlukan.

Banyak ahli manajemen menyebutkan pentingnya insentif untuk mendorong berlangsungnya berbagi pengetahuan. Insentif ini tidak mesti secara langsung berupa uang, melainkan pengakuan, penghargaan, ataupun credit point yang berkontribusi bagi kenaikan jenjang kepangkatan dalam organisasi. Dengan berbagi pengetahuan, masing-masing individu akan mendapatkan lebih banyak dan bukannya kehilangan. Berbagi pengetahuan adalah proses sinergetik, artinya Anda akan mendapatkan lebih banyak dibandingkan yang Anda berikan.

Bayangkan bila kita bisa bekerja jadi lebih efektif, pemakaian waktu lebih efisien, pencapaian target jadi lebih cepat, dan karier pribadi lekas menanjak dengan menerapkan ide berbagi pengetahuan. Pendeknya, berbagi pengetahuan bukan merintangi kepentingan pribadi, melainkan malah memperkuat kemungkinan tercapainya tujuan pribadi, bahkan mungkin lebih cepat. Karena itulah, sudah waktunya paradigm lama yang dicetuskan Francis Bacon, “knowledge is power”, diganti dengan “sharing of knowledge brings power” atau “shared knowledge is power“.

Dian R. Basuki | desibelku@yahoo.com

tempo.co