fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

5 Cara Genjot Produktivitas

Fiqhislam.com - Bagi yang tinggal di daerah Jakarta Raya, kemacetan lalu lintas sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian penduduk Ibu Kota.

5 Cara Genjot Produktivitas Setiap harinya, setidaknya dibutuhkan waktu 3-6 jam untuk berada dalam perjalanan. Kenyataan ini sangat memprihatinkan karena berarti kita menghabiskan waktu di jalan hampir sama dengan waktu di tempat kerja (8 jam).

Tentunya, ada harapan yang besar agar masalah ini bisa segera diselesaikan oleh pemerintah.  Namun, dengan keadaan seperti saat ini, tidak akan ada solusi sistemik yang bisa diperoleh dalam waktu dekat.  

Untuk pembangunan subway, metro, atau infrastruktur transportasi publik lain yang memadai di Jakarta, diperlukan waktu yang cukup lama, bahkan hingga tahunan. Bisa dibayangkan bahwa saat pembangunan infrastruktur transportasi publik tersebut dilakukan, keadaan lalu lintas Jakarta akan semakin parah dan  semrawut.

Keadaan ini jelas akan menurunkan motivasi dan produktivitas karyawan. Padahal, karyawan yang bahagia dan sejahtera merupakan salah satu faktor yang penting bagi pertumbuhan perusahaan.   Thriving employees, demikian mereka disebut oleh Sprietzer and Porath (2012), adalah karyawan yang highly energized, tetapi mereka paham dan tahu cara-cara untuk menghindari burnouts.  

Dari hasil penelitiannya, Sprietzer dan Porath menemukan bahwa 16% thriving employees memiliki kinerja keseluruhan yang lebih baik dari rekan-rekannya.  125% (self-reporting) dari mereka memiliki tingkat burnouts yang lebih rendah dibandingkan rekan-rekannya, 32% lebih memiliki komitmen dan 46% lebih puas dengan pekerjaannya.

Fakta ini menunjukkan bahwa memperhatikan kesejahteraan (well-being) dan kebahagiaan karyawan di Jakarta menjadi penting tidak hanya untuk produktivitas karyawan, tetapi juga pertumbuhan perusahaan.  

Akhirnya, hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kita.  Sulit rasanya dibayangkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus berada di tingkat 6% jika karyawan pun kesulitan untuk menjadi produktif.  

Ada lima langkah yang bisa diperhatikan oleh perusahaan untuk memastikan produktivitas karyawan dan manajer tetap terjaga di Jakarta yang akan semakin semrawut dan parah lalu lintasnya.

Bekerja di rumah

Pertama, dukung dan dorong perusahaan untuk mengembangkan kebijakan kepegawaian yang mendukung karyawan untuk bekerja di rumah.  Salah satu penyebab utama kemacetan lalu lintas di Jakarta adalah kebutuhan penduduk untuk berangkat dan pulang ke tempat kerja.  Mengurangi jumlah warga yang pergi berangkat kerja setiap harinya, akan memperkecil kemungkinan terjadinya kemacetan lalu lintas.

Ada banyak pola kebijakan yang bisa diambil, misalnya pola untuk bekerja di rumah setiap dua atau tiga hari dalam satu minggu.   Pola yang demikian dapat mengurangi beban lalu lintas, tanpa harus kehilangan koordinasi face-to-face yang dibutuhkan di kantor.

Kedua, lakukan investasi di bidang teknologi informasi.  Dengan semakin meningkatnya kemudahan teknologi, koordinasi antardepartemen dan antarkaryawan bisa dilakukan dari jarak jauh.  Berbagai aplikasi free yang tersedia di gerai aplikasi iPhone, Blackberry, dan Android untuk meningkatkan produktivitas dan koordinasi dapat mulai dipergunakan.  

Sebagai contoh, Yammer bisa dipergunakan sebagai aplikasi microblogging internal untuk perusahaan.  Yammer mempermudah karyawan berdiskusi dan berkoordinasi dari jarak jauh, berkat fasilitas diskusi kelompok yang mudah dipergunakan.

Selain itu, aplikasi chatting semacam Whatsapp bisa dipergunakan untuk koordinasi antara sesama karyawan.  Whatsapp layak dipilih karena ia bersifat multiplatform, dan bisa dipergunakan oleh mereka yang menggunakan iOS, Blackberry, maupun Android.

Aplikasi lain, Viber, bisa dipergunakan untuk berkomunikasi menggunakan suara (voice) dengan menggunakan VOIP secara gratis.  Ongkos teleconference bisa ditekan secara signifikan.

Perusahaan, bersama-sama melalui asosiasi, juga dapat melakukan lobi kepada pemerintah agar ada insentif maupuan kebijakan publik yang bisa meningkatkan akses dan kualitas Internet di Jakarta.  Tentunya, ada kebutuhan yang mendesak agar ada akses Internet yang memadai untuk bekerja.  

Adanya jaringan yang baik antara kluster-kluster perumahan, misalnya antara Bintaro, BSD, dengan daerah Sudirman, menjadi mutlak.  Perusahaan tidak bisa tinggal diam dalam hal ini.  Ia sudah harus menjadi kelompok penekan yang secara terbuka peduli atas kebijakan pemerintah Jakarta.

Ketiga, berikan pelatihan dan ciptakan lingkungan yang mendorong karyawan bekerja lebih cerdas.  Dalam hal ini lebih penting untuk bekerja lebih cerdas daripada lebih keras.  Daripada bekerja dari pukul 6 pagi hinggal 11 malam, untuk menghindari kemacetan, misalnya, karyawan didukung dan diberi pelatihan untuk mengatur jadwalnya dengan lebih baik.  

Selain itu, karyawan juga bisa diberi pelatihan agar dapat berkoordinasi dengan lebih baik dari jauh.  Misalnya, karyawan bisa diberi pelatihan untuk menggunakan email dan teknologi informasi secara lebih efektif.  Para manajer juga bisa diberi pelatihan kepemimpinan terbuka (open leadership) yang akan dapat membantu mereka mengatasi berbagai macam masalah di era transparan dan keterbukaan ini.

Keempat, coba untuk tingkatkan pelayanan pelanggan melalui telepon dan media sosial.  Hal ini akan membantu mengurangi perlunya pelanggan untuk melakukan perjalanan ke tempat layanan.  Ini juga berarti berkurangnya kebutuhan untuk menempatkan karyawan dalam jumlah besar di perusahaan untuk customer service.  Berikan insentif kepada pelanggan untuk melakukan transaksi dan interaksi melalui telepon dan Internet.  Bahkan, jika perlu, intensifkan penggunaan jasa kurir untuk pengiriman dan penerimaan barang.  

Kelima, ciptakan budaya bertanggung jawab yang tinggi.  Salah satu kekhawatiran yang sering terjadi pada inovasi di bidang human resources yang demikian adalah seputar unintended consequences berupa karyawan yang tidak produktif.  Dengan berada di luar pengawasan visual, dikhawatirkan karyawan tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik.  Perusahaan dapat menciptakan rambu-rambu yang jelas agar karyawan dapat tetap mengerjakan tugasnya di mana saja.  Insentif dan disinsentif harus diperkenalkan dan diterapkan dengan baik.  Tetapi, lebih penting lagi, harus ada perubahan paradigma.

Oleh M. Ari Margiono
Faculty Member, Binus Business School | mmargiono@binus.edu

bisnis.com