pustaka.png
basmalah.png.orig


5 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 15 Juni 2021

Marketer Haruslah Spiritual

Marketer Haruslah SpiritualFiqhislam.com - Sehebat-hebatnya seorang marketer adalah trusted marketer. Seorang marketer haruslah dapat dipercaya oleh pelanggan saat memasarkan produknya. Harus sesuai apa yang diomongkan dengan apa yang diberikan ke pelanggan, tidak boleh over promise under deliver. Marketer harus jujur sejujur-sejujurnya, tak boleh sekali pun membohongi pelanggan dengan kata-kata yang manis nan indah. Anda akan dicintai pelanggan hanya jika Anda jujur dan trusted di mata mereka.


Hampir 15 belas tahun menekunidunia pemasaran, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa untuk mencapai sustainable success, ujung-ujungnya seorang marketer haruslah betul-betul mendasarkan praktik marketing-nya kepada prinsip-prinsip moralitas dan nurani. Saya melihat marketer haruslah memiliki tiga kualitas yang holistik mencakup tiga level intellectual quotient (IQ),emotional quotient (EQ), dan akhirnya level yang paling tinggi yaitu spiritual quotient (SQ).


Di level intelektual, marketer menyikapi marketing secara fungsional-teknikal menggunakan scientific marketing approach dengan tools seperti: segmentasi targeting, positioning, branding, dan sebagainya. Di level ini memang marketing menjadi seperti "robot" dengan mengandalkan kekuatan logika, konsep-konsep keilmuan, dan pengalaman eksekusi di lapangan.


Di level emosional, kemampuan si marketer dalam memahami emosi dan perasaan pelanggan menjadi penting. Di sini pelanggan dilihat sebagai manusia seutuhnya lengkap dengan emosi dan perasaannya. Kalau di level intelektual otak kiri si marketer paling berperan, maka di level emosional, otak kananlah yang lebih dominan. Kalau di level intelektual saya menggambarkan marketing layaknya sebuah "robot", maka di level emosional, marketing menjadi seperti "manusia" yang berperasaan dan empatetik.


Lalu bagaimana di level spiritual? Di level ini marketing sudah disikapi sebagai "bisikan nurani" dan "panggilan jiwa". Praktik marketing dikembalikan kepada fungsinya yang hakiki dan dijalankan dengan landasan moralitas yang kental. Seperti telah saya uraikan di depan, prinsip-prinsip kejujuran, empati, dan kepedulian sesama, dan cinta mendominasi sikap dan tingkah laku si marketer.


Kalau di level intelektual bahasa yang Anda gunakan adalah "bahasa logika", maka di level spiritual Anda harus menggunakan "bahasa hati", "bahasa nurani". Kata hati yang paling dalam dan nurani Anda adalah "lentera penerang" yang akan menunjukkan ke arah mana Anda akan menuju dan bersikap.


Nurani adalah "senjata pamungkas" Anda untuk memenangkan persaingan; kejujuran adalah core differentiation Anda; dan kasih kepada pelanggan adalah komponen utama daya saing Anda sebagai marketer. Dari sini menjadi jelas bahwa, SQ telah memberikan "roh" kepada praktik marketing.


Marketing bukanlah upaya mengejar keuntungan sepihak secara membabi-buta. Marketing bukanlah tipu muslihat. Marketing adalah aktivitas penciptaan nilai (value-creating activities) yang memungkinkan berbagai pihak yang menjadi pelakunya bertumbuh dan mendayagunakan kemanfaatan. Marketing haruslah dilandasi kejujuran, keadilan, keterbukaan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.


Marketing telah menjadi rahmat bagi dunia agar orang-orang mendapatkan produk- produk terbaik dan bisa memilih di antaranya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan mengonsumsi produk terbaik dan harga yang sesuai, orang akan benar-benar memperoleh manfaat dan menjadikan hidup mereka lebih baik. Alangkah indahnya marketing jika ia disikapi sebagai sebuah gerakan hati yang peduli. Kepedulian pada kebaikan dan kemanfaatan sesama.


Marketing begitu indah jika disikapi sebagai sebuah kepercayaan; sebagai sebuah gerakan moral, sebagai sebuah bisikan nurani.

Yuswohady (Pengamat Bisnis dan Pemasaran)
andriewongso.com