fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Berkompetisi dengan Anggun

Fiqhislam.com - Pada salah satu film penjelajahan koral dan keindahan bawah laut yang saya tonton di salah satu teater IMAX beberapa hari lalu, digambarkan adanya ikan besar yang wajahnya mengerikan membiarkan mulutnya terbuka dan dilalui ikan-ikan kecil yang seperti tidak takut ditelan ikan besar.
 
Bisa jadi ikan besar tadi menjadi berwajah mengerikan karena kelewat serius memikirkan dirinya yang besar dan perlu banyak asupan makanan, selain  tentunya karena faktor umur yang relatif sudah sangat tua dan hidupnya di dasar laut yang sunyi. Ikan-ikan kecil santai berseliweran riang gembira keluar-masuk mulut ikan besar tanpa takut bahaya karena masih muda dan enerjik. 
 
Kondisi berbeda yang dipertontonkan di film tersebut menunjukkan adanya ratusan ikan hiu besar yang juga hidup di sekitar koral pada dasar laut dalam. Mereka berenang gesit bak berselancar kesana kemari beradu cepat tanpa ada sedikitpun terbersit adanya rasa permusuhan.
 
Sehari-hari kita mengenal ikan hiu sebagai ikan yang buas. Di tengah kerabatnya yang sama-sama buas, ternyata ikan hiu tidak beradu kuat atau 'sangar', melainkan beradu gesit.
 
Mutual Trust
 
Dalam riset TiiLEs atau Transforming into Large Enterprises yang dilakukan Arrbey terhadap 50 perusahaan dan koperasi terbesar Indonesia, nampak juga perilaku-perilaku perusahaan yang mirip dengan perilaku para ikan besar dengan wajah mengerikan atau hiu besar yang gesit.  Tentu saja kedua macam 'ikan' perusahaan besar tadi tetap saja menakutkan bagi yang belum mengenalnya dengan baik.
 
Keberhasilan menjadi perusahaan besar pada dasarnya menunjukkan keberhasilan perusahaan bersangkutan  bersaing sejak berskala masih kecil. Tanpa mampu bersaing tentunya tidak mungkin perusahaan kecil bisa menjadi berskala menengah dan lalu menjadi besar.
 
Untuk menjadi perusahaan berskala besar atau besar sekali, perusahaan 'wajib' mau dan mampu bersaing dengan tetap menjaga iklim persaingan yang sehat dan menginspirasi terpacunya kemajuan. Bersaing sebagai perusahaan besar berbeda dengan bersaing sebagai perusahaan kecil.
 
Ketika bersaing sebagai perusahaan kecil, situasinya bisa jadi 'hidup atau mati' karena situasi persaingan bisnis yang kian hari kian sengit. Hanya saja ketika perusahaan sudah berskala besar, tentu akan sangat mahal harganya kalau semangatnya masih "gairah membunuh". Siapapun yang kalah akan menimbulkan korban besar.
 
Dari inspirasi ikan besar di koral pada laut dalam di atas, setidaknya ada dua jenis karakter dan perilaku persaingan perusahaan besar yang bisa dimunculkan, yaitu Sejuk-Kalem dan Hangat-Gesit. Keduanya mencerminkan karakter pemilik, CEO, budaya perusahaan dan suasana persaingan di industri bersangkutan.
 
Perusahaan global seperti Chevron, BP, Mitsui, Sumitomo atau Walmart termasuk kelompok perusahaan besar bertipe kompetisi Sejuk-Kalem. Sementara Apple, Samsung, Google, Shell atau Toyota termasuk perusahaan-perusahaan global yang relatif Hangat-Gesit.
 
Kompetisi
 
Karakter dan perilaku persaingan perusahaan besar tidak hanya mencerminkan bagaimana perusahaan bersangkutan menyikapi kompetisi, tetapi juga menggambarkan kebijakan pertumbuhannya. Tentu saja karakter dan perilaku kompetisi perusahaan besar bisa berubah pada waktu yang berbeda. Perubahan pemilik, CEO dan strategi korporat bisa mengubah karakter dan perilaku kompetisi.
 
Tidak ada karakter dan perilaku kompetisi perusahaan besar yang paling pas. Baik Sejuk-Kalem maupun Hangat-Gesit keduanya baik, sejauh diterapkan dengan konsisten, dan tetap membuka pintu penyesuaian bila diperlukan.  Kedua jenis karakter dan perilaku kompetisi tersebut juga sama-sama punya sifat kompetisi yang mengedepankan keanggunan dan berkompetisi secara sehat.
 
Perusahaan besar semestinya memang tidak 'grusah-grusuh' samber kesana kemari yang biasanya masih sering dilakukan oleh perusahaan kecil dan menengah. Perilaku kompetisi perusahaan besar semestinya juga tidak membuat takut para 'ikan' kompetitor kecil dan menengah. Perusahaan besar semestinya juga 'ramah' dan bersahabat atau bermitra dengan yang kecil.
 
Jadi, kalau ada perusahaan besar punya perilaku kompetisi yang masih 'grasah-grusuh', tentu yang bersangkutan perlu berkaca diri dan bisa jadi perlu mempertimbangkan untuk 'turun kelas' lagi menjadi perusahaan menengah atau bahkan kecil.
 
Ada dua indikator untuk memetakan karakter dan perilaku kompetisi perusahaan sehingga bisa dikategorikan Sejuk-Kalem atau Hangat-Gesit, yaitu Karakter dan Perilakunya. Dari segi karakter kompetisi, perusahaan bisa dikategorikan sebagai panas, hangat, sejuk dan dingin. Dari segi perilaku kompetisi, perusahaan bisa dikategorikan sebagai progresif, gesit, kalem dan pasif. 
 
Perusahaan dengan karakter kompetisi panas dicirikan oleh sikapnya yang menganggap kompetitor sebagai lawan sehingga berlaku rumus kompetisi kill or to be killed.  Titik ekstrim satunya dari karakter kompetisi yaitu "dingin", yang bahkan ketika pesaing 'menjewer' perusahaan bersangkutan masih juga tidak bergeming dan bahkan bersikap 'emang gue pikirin'.
 
Perusahaan dengan karakter kompetisi "panas" biasanya dipimpin oleh CEO yang 'haus darah' sehingga sangat reaktif terhadap aktivitas pesaing. Karakter kompetisi Panas tidaklah identik sebagai karakter perusahaan baru.  Ada perusahaan yang sejak berdiri berkarakter kompetisi hangat atau sejuk karena pemilik dan CEO-nya berkarakter seperti itu.
 
Perilaku kompetisi dengan titik ekstrim "progresif" dan "pasif" tercermin dari aktivitas kompetisi yang dipengaruhi oleh strategi dan program tumbuh perusahaan.  Perusahaan berskala besar umumnya tidak mungkin tumbuh progresif 'menyambar' semua peluang bisnis sehingga bisa tumbuh di atas 100% per tahun.
 
Perusahaan besar juga tidak 'boleh' tumbuh "Pasif" yang ditandai dengan pertumbuhan bisnis di bawah tingkat pertumbuhan industri sejenis.  Tumbuh kalem di atas rata-rata industri, atau tumbuh gesit menjadi pilihan utama bagi perusahaan besar agar terus survive sebagai perusahaan besar dan semakin besar.
 
Handito Joewono