fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Perbedaan itu Indah

Fiqhislam.com - Perbedaan setajam apa pun tidak perlu membuat kita terpecah belah, apalagi bersengketa. Perbedaan dalam hal prinsip sekali pun, tetap bisa berjalan seiring tanpa perlu bersitegang, apalagi mengedepankan kekerasan.
 
Perbedaan itu Indah Itulah catatan indah yang bisa kita berikan untuk penentuan awal Ramadan 1433 H. Lagi-lagi umat Islam tidak bisa sepakat. Ada yang menetapkan awal Ramadan bertepatan dengan Jumat 20 Juli, ada yang sehari kemudian. Soal awal shiyam Ramadan adalah soal prinsip, menyangkut keyakinan. Siapa pun tidak bisa mengintervensi dan memaksakan keyakinannya diterima pihak lain, atau sebaliknya.
 
Toh di tengah perbedaan prinsip itu kita bisa menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman) ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan) tetap harmonis. Tanpa gejolak. Untuk ke sekian kalinya kita bisa membuktikan kedewasaan sikap, sehingga perbedaan yang ada menjadi rahmat, bukan laknat.
 
Untuk itu, kita perlu memberi apresiasi positif kepada para ulama dan umara, yang tidak henti-hentinya menyerukan pentingnya menerima perbedaan dengan lapang dada. Tidak memaksakan kehendak, mempertajam dan memperuncing perbedaan, apalagi mengedepankan kekerasan untuk menemukan solusi dan titik temu.
 
Sikap ulama dan umara itu telah ngayomi dan ngayemi kawula, sehingga makin terbiasa dengan perbedaan. Peran seperti itulah yang dijalankan Resi Sugriwa, ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat tajam di zamannya.
 
Kocap kacarita. Prabu Rama akhirnya mengetahui bahwa Dewi Shinta diculik oleh Prabu Rahwana dari Jatayu.  Paksi (burung) sakti ini sempat berupaya merebut Shinta dari cengkeraman Rahwana tapi gagal. Ia bahkan terluka parah. Sebelum ajal, Jatayu mengabarkan bahwa Shinta telah diculik dan dibawa kabur ke kerajaan Alengka.
 
Namun, informasi sepotong itu belum memadai bagi Rama untuk menentukan tindakan yag harus ditempuh. Dia tidak mau gegabah menuduh sesama raja bertindak adharma. Maka pada sidang terbatas para petinggi Pancawati, Rama menyampaikan niat untuk mengirim telik sandi guna memastikan keberadaan Shinta di Alengka. Dia menegaskan, semakin cepat informasi akurat didapat semakin baik.
 
Rapat itu dihadiri pula Resi Sugriwa, tetunggulaning sekaligus panutan para wanara  yang kini mengabdi kepada Rama.  Ia mengajukan dua sosok wanara pilihan untuk mengemban tugas mahapenting itu, yaitu Hanoman dan Anggada. Keduanya adalah wanara muda yang paling menonjol dan memiliki kesaktian di atas rata-rata.
 
Rama bisa menerima usulan itu, dan meminta keduanya dihadapkan untuk memastikan siapa yang bisa lebih lekas mendapatkan informasi keberadaan Shinta. Anggada yang lebih muda mendapat kesempatan pertama bicara. Ia menyatakan sanggup pulang pergi ke Alengka dalam rentang waktu dua pekan. Hanoman menyatakan butuh waktu satu pekan.
 
Setiap kali Anggada mengajukan waktu, Hanoman menyodorkan alternatif yang lebih singkat. Begitu seterusnya, sehingga biding penentuan waktu itu berlangsung panas. Puncaknya ketika Anggada menegaskan sanggup dalam tempo dua hari, Hanoman memastikan hanya butuh waktu sehari semalam.
 
Peserta sidang terperangah. Mulailah timbul perbedaan pendapat di antara mereka. Sebagian mendukung pilihan waktu Hanoman, sebagian lagi lebih memilih realistis dengan mendukung Anggada. Ketegangan pun menyeruak tak terelakkan.
 
Untunglah Rama dan Sugriwa tidak terpengaruh perbedaan tajam itu. Keduanya meminta mereka untuk tenang dan menerima perbedaan itu secara wajar. Hanoman harus diberi kesempatan untuk membuktikan ucapannya. Sikap ‘umara’ dan ‘ulama’ ini berhasil mendinginkan situasi, dan mengeliminasi kemungkinan perbedaan itu berkembang menjadi konflik terbuka.
 
Misi Bangsa
 
Tidak demikian halnya dengan Anggada dan Hanoman. Anggada merasa direndahkan dan dipermalukan. Di sisi lain Hanoman bangga telah berhasil memperoleh kepercayaan dari kerajaan. Maka Anggada pun mengajak Hanoman keluar istana untuk menyelesaikan persoalan ‘secara adat’. Hanoman tak menampik.
 
Terjadilah adu fisik dua wanara pilihan itu. Siapa yang menang dia yang akan menjadi duta Pancawati ke Alengka. Karena sama-sama punya kemampuan unggul, konflik fisik itu berlangsung imbang. Tidak bisa dipastikan kera mana yang akan memenangkan pertarungan.
 
Sugriwa segera turun tangan. Dia melerai dan memberi wejangan tentang pentingnya menerima perbedaan secara dewasa. Tidak pada tempatnya kekerasan dikedepankan untuk memaksakan pendapat dan keyakinan. Hanoman dan Anggada pun insaf. Bahkan Aggada bersedia bahu membahu dengan sepupunya itu untuk mensukseskan misi besar bangsa.
 
Misi Hanoman berjalan sukses. Dalam tempo sehari semalam, Hanoman telah kembali ke Pancawati dan berhasil memperoleh informasi valid dan akurat, bahwa Shinta memang diculik oleh Rahwana dan tengah disekap di Taman Argasoka. Informasi akurat ini memudahkan Rama menempuh strategi untuk membebaskan sang permaisuri.
 
Perbedaan adalah energi. Jika disalurkan secara positif dia akan menjadi kekuatan luar biasa untuk meyelesaikan persoalan dan problem serumit apa pun. Bangsa Indonesia sudah terlalu lama diombang-ambing konflik akibat perbedaan pendapat dan kepentingan para elite pemimpin. Konflik yang menyebabkan banyak persoalan terbengkelai penyelesaiannya, dan rakyat makin sengsara karenanya.
 
Alangkah indahnya negeri ini jika seluruh elemen bangsa, para pemimpin pemerintah, pemimpin parpol, ulama, tokoh ormas, bisa menepikan ego masing-masing, sehingga energi perbedaan yang ada bisa difokuskan untuk mengatasi persoalan rakyat. Semoga ini bukan mimpi Ki Dalang saja. Oye!
 
Rohmad Hadiwijoyo
Penulis: Dalang dan CEO RMI Group