24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Kepercayaan Tak Pernah Instan

Fiqhislam.com - Sebutlah namanya Ramzi. Dia pekerja ulet yang menginspirasi banyak orang. Sebagai ahli di bidang komputer, pekerjaannya di Divisi Informasi dan Teknologi selalu terselesaikan dengan baik.
 
Namun, itu dulu, setidaknya satu-dua bulan yang lalu. Ramzi yang sekarang adalah pekerja yang kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan. Ibarat kekasih yang patah hati, Ramzi yang tadinya bersemangat penuh bunga-bunga, kini menjadi kelam. Dia kehilangan kepercayaan.
 
Kasus seperti Ramzi yang kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan seperti ini sering terjadi. Alih-alih memperhatikan, banyak manajer yang justru menganggapnya biasa saja. “Maklum, dia kan sudah lama bekerja, sudah senior…” Atau, “Dia sudah dewasa, tentu sudah bisa menata diri sendiri...” Bahkan, menurut mitos yang ada, kehilangan kepercayaan seperti itu tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Ibarat hati yang telah patah, tidak ada lagi kesempatan kedua untuk kembali seperti sedia kala.
 
Simpan kata-kata penuh romansa itu. Jangan segera menilai begitu saja. Kebanyakan kesalahan tidaklah bersungguh-sungguh. Jangan pula bertindak seperti Tuhan yang bisa mengerti isi hati orang lain. Salah satu pondasi dari kepercayaan adalah pemberian maaf. Walaupun begitu, menurut Stephen M. R. Covey, pemberian maaf dan kepercayaan itu tidaklah sama.
 
Anda bisa memaafkan seseorang tanpa memperkaya smart trust kepada orang itu. Walaupun begitu, pemberian maaf memberi kesempatan kepada Anda. Hal ini akan membebaskan Anda dari pikiran-pikiran yang selalu mengarah kepada kesalahan, kelemahan, dan segala pilihan-pilihan celaka yang lain.
 
Empat kredibilitas
 
Manakala Anda kehilangan kepercayaan, di mana pun itu, segera perhatikan Empat Inti Kredibilitas (integritas, kesungguhan, kapabilitas, dan hasil) yang disarankan oleh Stephen M. R. Covey dalam buku Smart Trust. Bersiap pula menggunakan matriks dan tiga langkah untuk memulihkan kepercayaan.
 
Pertama, definisikan keadaan sekarang (current situation). Kedua,  jelaskan apa yang menjadi keinginan atau desired outcome Anda. Ketiga, susun rencana kerja (action plan). Di sinilah Anda menentukan langkah-langkah yang akan diambil secara praktis, ringkas, dan jelas.
 
Bila melihat contoh kasus Ramzi di atas sebagai dasar pembuatan skenario rencana kerja, di langkah pertama, kita perlu melihat situasi sekarang yakni mendeskripsikan apa yang sedang terjadi.
 
Ramzi adalah pekerja senior di bidang IT. Dia jago dalam pekerjaannya tetapi sedang bosan sehingga tidak produktif lagi. Empat kali sudah ia mangkir kerja. Dua pekerjaan terakhir tidak diselesaikan tepat waktu sehingga divisi lain harus menanggung akibatnya. Beberapa pekerjaannya bahkan tidak dikerjakan sama sekali sehingga rekan kerjanya harus menanggung beban kerja yang ia tinggalkan. Dia pun terancam untuk dimutasi atau bahkan diberhentikan.
 
Langkah kedua adalah membuat gambaran apa yang diharapkan. Sebagai manajer, Anda menginginkan Ramzi untuk bisa menata dirinya sendiri. Ramzi juga diharapkan bisa lebih produktif. Sebagai pegawai senior, ia memiliki kemampuan untuk mengarahkan rekan kerjanya serta membuat pengembangan di bidangnya. Secara kapabilitas dan integritas, ia sudah teruji lama. Kesungguhan dan hasil? Ia telah lama pula membuktikannya cuma akhir-akhir ini saja ia tidak bagus performanya.
 
Kemudian, lakukan langkah ketiga, membuat rencana kerja. Apa yang akan Anda lakukan dalam tahapan ini? Menunjukkan kesetiaan. Ramzi adalah sosok berdedikasi tinggi yang setia terhadap perusahaan. Anda perlu menunjukkan kepada Ramzi bahwa ia sebenarnya memiliki kesetiaan yang tinggi. Bahkan, mungkin lebih dari Anda sendiri.
 
Lebih dari kebanyakan orang di perusahaan. Hal ini semancam “reminder” terhadap masa-masa indah. Sama seperti mengatasi seorang kekasih yang sedang jenuh atau “ngambek," strategi yang umum dilakukan adalah mengingatkan akan kenangan-kenangan indah terlebih dahulu.
 
Ingat, jangan menilai orang lain terlalu cepat. Anda bukan Tuhan yang tahu segala hal. Bukan pula nabi yang mendapat mandat dari Tuhan untuk menjadi orang suci di tanah yang dijanjikan.
 
Luangkan waktu
 
Tanyakan apa yang terjadi padanya. Luangkan waktu untuk mendengarkan.  Bersiap-siap untuk diam manakala ia sudah bercerita. Tahan segala pendapat Anda dan biarkan ia berkisah tentang hidupnya. Gunakan sesi ini untuk mulai mendapatkan kepercayaan dari Ramzi.
 
Setelah menunjukkan kesetiaan dan mendengarkan cerita versinya, saatnya untuk berterus-terang. Ya, berterus teranglah. Stephen M. R. Covey selalu mewanti-wanti agar kita menempatkan transparansi sebagai perkara yang harus dijaga.
 
Kadang, kejujuran itu pahit. Apalagi budaya di Indonesia sering menjadi penghalang dalam hal berterus-terang ini. Akan tetapi, nilai-nilai baik dari kepercayaan adalah universal. Setiap orang ingin dipercayai dan memercayai. Itu sudah kodrati dan keterusterangan adalah pintu menuju saling percaya yang hakiki.
 
Segera bicara kepada Ramzi tentang fakta-fakta yang ada. Ia harus tahu bahwa ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dihadapi akibat tingkah lakunya selama ini. Walau begitu, tunjukkan pula bahwa masih ada jalan lapang untuk kembali menang. Jangan berhenti di titik ini. Saat inilah Anda harus menunjukkan bahwa Anda siap mendukungnya apabila ia bisa mengubah perilakunya. Ia harus segera menentukan sikap agar tidak berlarut-larut sehingga tak tertolong lagi.
 
Bukan tidak mungkin ia akan menolak habis-habisan usul Anda. Namun, kepercayaan adalah sebuah proses yang tidak instan. Mungkin Anda melewatkan beberapa detail penting dalam pembicaraan itu. Atau, Anda mengabaikan fakta bahwa sebenarnya Ramzi adalah seorang pemalu yang sulit mengemukakan isi hati dan kesediaannya.
 
Apabila ia sudah bersedia, buatlah rencana yang lebih mapan. Akuntabilitasnya harus dijaga. Anda bisa menjadwalkan untuk rapat dengannya dua kali seminggu. Hal ini berguna untuk semakin menguatkan kepercayaan di kedua belah pihak: Anda dan Ramzi.
 
Itu adalah skenario sederhana. Kisah-kisah serupa sering terjadi dalam keseharian kita dalam variasi yang berbeda. Segera buat matriksnya dan atur langkah-langkah pemulihannya segera, manakala Anda menemukannya. [bisnis]
 
Oleh Satyo Fatwan