11 Safar 1443  |  Minggu 19 September 2021

basmalah.png

Pro Terhadap Problem Sosial

Fiqhislam.com - Pemasaran komersial terus membombardir konsumen dengan sejumlah produk beserta varian terbarunya yang bisa dianggap memberikan solusi pada kehidupan konsumen secara keseluruhan.
 
Bombardir produk, terlebih untuk produk konsumen, tidak berkesudahan karena didukung dengan strategi yang seakan-akan membuat konsumen tidak kuasa untuk menghindari. Strategi ini dianggap tepat oleh perusahaan karena dapat menyampaikan informasi yang mengena kepada konsumen sehingga konsumen dengan terpaksa tetapi juga senang untuk membeli produk atau jasa.
 
Tidak dipungkiri bahwa perilaku konsumen disebabkan salah satunya oleh aspek eksternal, yaitu strategi pemasaran. Bagi konsumen umumnya, strategi diskon besar-besaran, promosi yang menawarkan sejuta kenyamanan, iming-iming untuk bisa menikmati hidup dengan gaya hidup terkini menyebabkan konsumen menjadi konsumtif.
 
Konsumsi produk menjadi berlebihan, sehingga mau-tidak mau konsumen mendapatkan implikasi negatif pada hidupnya misalnya pemborosan, konsumsi hedonis, kurang memperhatikan keselamatan diri, kesehatan, maupun lingkungan, dan bahkan terjebak dalam perbuatan kriminal.
 
Pemasaran sosial dianggap sebagai salah satu solusi untuk menghindari dari implikasi negatif semua strategi pemasaran komersial.
 
Menurut Gerard Hastings (2011) dalam When is social marketing not social marketing?, yang diterbitkan pada Journal of Social Marketing,  strategi pemasaran sosial dianggap sebagai cara untuk memberikan kritikan  dan mencari solusi terbaik terhadap pemasaran komersial.
 
Pemasaran komersial hanya berorientasi untuk pencapaian profit semata. Orientasi pada profit ini memengaruhi pemasaran komersial untuk mengabaikan dampak negatif dari promosi produk pada konsumen. Oleh karena itu, bentuk kepedulian pada kesejahteraan konsumen sebagai entitas masyarakat secara keseluruhan diharapkan menjadi perhatian bagi perusahaan komersial, lembaga sosial dan pemerintah, keluarga sendiri, bahkan diri sendiri.
 
Perhatian pada masalah-masalah sosial membutuhkan intervensi. Perilaku konsumen yang sudah tertanam baik terkadang susah diubah untuk diarahkan pada perilaku positif. Masalah sosial nyata yang perlu diperhatikan akibat pemasaran komersial pada akhirnya akan menciptakan kehidupan masyarakat secara umum.
 
Salah satu akibat dari pemasaran sosial misalnya masalah kesehatan. Apabila konsumen melakukan konsumsi berlebihan dari sebuah produk dan tidak mampu mengontrolnya, maka akan terjadi masalah kesehatan. Selain itu, apabila masyarakat memiliki masalah kesehatan, maka tingkat produktivitas masyarakat akan terganggu, dan implikasi terbesar adalah kesehatan secara keseluruhan untuk sebuah entitas negara.
 

Transaksi Kebutuhan

Pemasaran komersial memang diperlukan karena mewujudkan sebuah transaksi yaitu transaksi kebutuhan dari perusahaan dan konsumen. Perusahaan membutuhkan profit sedangkan konsumen memiliki kebutuhan dan keinginan yang harus dipenuhi. Namun, bila konsumsi berlebihan dan memiliki implikasi negatif, maka perlu sebuah counteraction untuk menangani masalah negatif tersebut dan menyeimbangkan kehidupan ke arah lebih baik.
 
Sejumlah intervensi pemasaran sosial yang dilakukan diharapkan muncul dari berbagai sisi yang bersifat holistik. Pemasaran sosial tidak hanya penerapan strategi pemasaran umum, tetapi melibatkan sejumlah aspek untuk mendukung tercapainya solusi.
 
{AF}
Pertama, pemasaran dari perusahaan. Perusahaan bisa menerapkan pemasaran sosial melalui strategi produk yang menawarkan benefit utama pada konsumen yang tidak berorientasi pada profit. Produk-produk ini berupa misalnya produk yang mampu menunjang kesehatan, rendah lemak, dan tidak mengandung bahan pengawet.
 
Penetapan pajak atau denda tinggi bisa diterapkan untuk membuat konsumen agar mengikuti aturan misalnya tidak menggunakan sabuk pengaman atau helm. Aspek distribusi juga berperan memberikan kemudahan konsumen misalnya menyediakan tempat membuang produk yang bisa didaur ulang, larangan merokok, dan parkir sepeda. Untuk menguatkan informasi yang berupa pesan hidup sehat, perusahaan menggunakan promosi melalui media online dan offline.
 
Kedua, advokasi. Pemasaran sosial tidak bisa berjalan sendiri hanya melalui strategi pemasaran secara umum, namun membutuhkan advokasi lembaga sosial. Pemasaran sosial membutuhkan jejaring kerja agar turut menyampaikan pesan kepada konsumen untuk menjalankan kehidupan lebih baik.
 
Selain itu, kerja sama dengan pihak lain untuk mengadakan kegiatan yang berbasis komunitas diperlukan. Intervensi yang melibatkan kegiatan jangka panjang dianggap efektif untuk mengubah perilaku konsumen ke  arah lebih baik. Kegiatan komunitas ini berupa kegiatan yang mengajarkan nilai dan cara untuk menjalani kehidupan lebih baik.
 
Ketiga, pemerintah. Pemerintah dianggap sebagai aktor yang berperan untuk melembagakan kebijakan dalam mengatur perilaku bermasyarakat secara ideal. Kebijakan ini bisa berupa peraturan perilaku bermasyarakat.
 
Peraturan dianggap sebagai penguat untuk membuat konsumen berperilaku dan menghindari adanya hukuman dari tidak mematuhi peraturan. Kebijakan ini misalnya adanya lorongan merokok di tempat umum.
 
Keempat, keluarga. Peran keluarga tidak kalah penting untuk memengaruhi perilaku. Sosialisasi pendidikan keluarga mampu mengarahkan individu untuk menentukan perilaku terbaik dalam sepanjang hidupnya. Pola konsumsi yang diajarkan oleh orangtua mampu memengaruhi konsumsi pada anak yang nantinya dibawa sepanjang masa. Oleh karenanya, keluarga sangat berperan dalam memengaruhi pola konsumsi anggota keluarga.
 
Terakhir, kontrol diri. Terlepas dari strategi intervensi pada pemasaran sosial yang sudah dijelaskan sebelumnya, kontrol diri merupakan mekanisme terpenting dari diri sebagai pembuat keputusan untuk berperilaku atau tidak. Memahami konsumsi rokok misalnya sebagai konsumsi negatif, tentunya akan menghindari konsumsi produk tersebut.{/AF}
 
Memahami konsumsi produk instan menyebabkan masalah kesehatan, tentunya akan  mengurangi konsumsi atau tidak mengonsumsi. Kontrol diri ini membutuhkan pengetahuan dan pengalaman besar agar menghindari dari konsumsi yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Tentu saja, sebagai konsumen yang bermoral bisa menentukan terbaik untuk diri sendiri dan orang lain.(msb)
 
Oleh Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta
iin.mayasari@paramadina.ac.id