fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Bahaya Berada di Zona Nyaman

Bahaya Berada di Zona Nyaman Fiqhislam.com - Salah seorang sahabat saya, Adri Istambul Gayo, pengusaha yang tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur, rajin mengirimkan pesan dan kata-kata bijak melalui smartphone.

Salah satunya pesannya yang menarik: "Tidak ada pertumbuhan di zona nyaman dan tidak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhan". Di akhir pesannya itu, sahabat saya ini selalu memberikan motivasi seperti layaknya seorang motivator: "Have a great day, sukses selalu. Kerja....kerja dan kerja keras. Tetap semangat. Merdeka !!!!".

Bagi mereka yang kerap berinteraksi dengan dunia bisnis dan manajemen atau siapapun yang benar-benar menghayati tentang arti sebuah nilai dalam kehidupan, pesan sahabat saya itu sungguh sangat memberi makna.

Saya kemudian teringat dengan pelajaran manajemen perusahaan saat belajar di Prasetya Mulya Business School (PMBS), jika suatu perusahaan sudah sangat mapan dan orang-orang yang ada di dalamnya sudah merasa hidup nyaman, maka perusahaan  akan cenderung berjalan stagnan dan flat.

Jika perusahaan seperti itu tidak melakukan perubahan dan terobosan melalui inovasi dan diversifikasi produk, tinggal menyongsong kematian saja. Karena itu tidak heran jika ada jargon yang berbunyi, change or die.

Persoalan klasik yang kerap dihadapi perusahaan mapan adalah karena orang-orangnya tidak mau berubah. Mereka sudah terlanjur hidup dan bekerja di zona nyaman (comfort zone).

Dalam benaknya, perubahan dikhawatirkan akan mengganggu dan mengurangi privelese serta fasilitas yang selama ini mereka dapatkan. Adalah almarhum Michael D Ruslim, Presdir PT ASTRA International Tbk (2005-2010), yang dinilai sebagai figur pemimpin yang konsisten mengingatkan tentang pentingnya perubahan dan mewanti-wanti para karyawannya agar tidak pernah puas dengan kejayaan yang telah diraih.

Bagi Michael, dalam bukunya "Lead by Heart", merupakan hal tabu ketika ada perasaan bahwa kejayaan masa kini akan menjamin kejayaan di masa mendatang. Di tengah segala aktivitasnya mendorong Astra memburu pertumbuhan, Michael D Ruslim juga giat menggelorakan spirit nasionalisme: Semangat kebangsaan serta persatuan di tubuh Astra.

Michael tidak hanya mencetak prestasi kuantitatif, tapi juga kualitatif, dengan menyeimbangkan antara pencapaian prestasi yang diraih perusahaan dengan kinerja sosial dan lingkungan.

Melalui program SATU Indonesia, Michael D Ruslim juga menggelorakan semangat nation and character building. Jadi bagaimana menjaga agar perusahaan bisa terus tumbuh? Selain tidak cepat merasa puas dengan hasil yang dicapai, seluruh shareholder dan stakeholder perusahaan memiliki komitmen dan kemampuan untuk melakukan perubahan.

Dalam zaman seperti sekarang, dibutuhkan orang-orang yang memilki karakter kuat untuk maju dan bersaing dalam kancah perubahan cepat di semua lini kehidupan. Pada saat sebuah perusahaan sedang tumbuh atau berada di puncak, harus disadari bahwa pada saat itu pula, akan banyak perusahaan pesaing dan follower di samping banyak juga yang ingin bergandengan tangan dan bekerja sama.

Ibarat pohon yang sudah tinggi,  agar tidak rontok atau roboh, perlu diciptakan pohon-pohon baru untuk memperkuat pohon tinggi itu. Dengan begitu, bisa dicegah adanya siklus seperti lahir-tumbuh-mati. Yang perlu dibangun kedepan adalah menciptakan banyak perusahaan yang bisa bertahan lama yang dikelola oleh pemimpin manajemen andal.

Nilai seorang pemimpin terletak pada kemampuannya memainkan banyak peran: membawa organisasi serta orang-orang yang ia pimpin menghasilkan sebesar-besarnya manfaat bagi semua pemangku kepentingan yaitu karyawan, pemegang saham, lingkungan, masyarakat luas bahkan bangsa dan negara. [yy/kompas]

Oleh Tjahja Gunawan Diredja

Tags: Zona Nyaman