fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Beraliansi, Bersinergi

Fiqhislam.com - Dalam timbulnya niatan untuk memperbesar perusahaan, baik dengan melihat peluang pasar lebih besar terbuka ataupun disebabkan perusahaan tidak lagi mempunyai kemampuan jika berjalan sendiri, khususnya bagi pemegang saham.

Maka perlu ditempuh berbagai cara dan salah satu yang biasa ditempuh adalah dengan cara merger dan akuisisi yang membawa konsekuensi dan dampak perubahan besar secara menyeluruh.

Ada yang berhasil namun tidak sedikit pula yang gagal dan di kemudian hari membawa penyesalan karena mengalami hal-hal tidak diduga sebelumnya yang merugikan lebih daripada keuntungan yang diperoleh, selain dalam segi finansial juga dalam segi atau faktor lainnya. Ketika pemilik saham tidak bergairah lagi untuk meneruskan maka terjadilah transaksi penjualan, pengambilalihan baik oleh pemegang saham yang lain maupun kepada pihak ketiga.

Sebetulnya sebelum tiba pada keputusan untuk merger dan akuisisi ada sebuah cara yang dapat ditempuh dalam rangka memperbesar perusahaan yaitu dengan beraliansi. Dalam beraliansi tidak terjadi transaksi jual-beli saham dan masing-masing perusahaan yang beraliansi tidak perlu kehilangan hak dengan melepas saham.

Dalam beraliansi masing-masing pihak bersinergi untuk meningkatkan volume penjualan maupun keuntungan. Aliansi lebih didorong oleh adanya peluang yang terbuka melalui penggabungan kekuatan masing-masing perusahaan, secara matematis bukan satu ditambah satu menjadi dua, akan tetapi menjadi tiga sebagai hasil dari aliansi tersebut.

Belum lagi diperoleh berbagai keuntungan lainnya walaupun tidak dalam hitungan moneter, salah satunya pertambahan jumlah pelanggan dan konsumen. Juga ketika aliansi dianggap cukup dan tidak perlu diteruskan, bisa dihentikan, tanpa merasa dirugikan dan selanjutnya kembali mengurus urusan masingmasing dengan pengalaman berharga yang diperoleh yang dapat dimanfaatkan untuk berjalan sendiri.

Ketika masing-masing pihak merasakan manfaat besar dari aliansi yang ditempuh beberapa lama, maka tidak mustahil keduanya enggan berpisah bahkan ingin diteruskan ke dalam ikatan yang lebih erat termasuk merger.

Seperti halnya pasangan yang bertunangan sekian lama akhirnya memutuskan untuk menikah,dan bersama-sama selamanya.Atas dasar suka sama suka bukan karena terpaksa. Tiga konsultan dari McKinsey: John D Cook,Tammy Halevy dan C Brant Hastie mengamati bahwa banyak perusahaan- perusahaan besar dan global menempuh cara beraliansi khususnya dalam meningkatkan penjualan, menangkap peluang pasar yang terbuka dan sekaligus membendung laju pesaing dari salah satu atau kedua-duanya.

Dalam pengamatan mereka ada empat cara atau jenis aliansi yang dilakukan oleh para perusahaan besar tersebut, yaitu:

1. Innovation (inovasi).
Melalui aliansi dilahirkan produk- produk baru yang menjadi milik dua perusahaan dan masing- masing perusahaan ikut memasarkan produk hasil inovasi bersama tersebut, dengan program pemasaran yang diatur siapa melakukan apa tidak tumpang tindih akan tetapi saling mengisi. Perusahaan minuman pernah melakukan itu: Pepsi’s dengan Starbuck.

2. Extension (perluasan).
Memperluas ruang lingkup pemasaran dan segmentasi pasar guna menjangkau konsumen dari berbagai tingkatan. Coca-Cola dan Danone pernah melakukan untuk menjangkau konsumen kelas atas dan bawah.

3. Geographic expansion (perluasan secara geografis).
Memasuki pasar baru untuk masing-masing produk yang tidak dapat dilakukan jika berjalan sendiri, sedangkan salah satu dari kedua perusahaan yang beraliansi sangat menguasai pasar di lokasi yang diinginkan. General Mill’s dan Nestle pernah melakukan itu.

4. Performance improvement (peningkatan performa atau kinerja).
Mencakup efisiensi operasional, sementara meningkatkan kinerja, memperbesar kapital baik langsung maupun tidak langsung, dan beberapa cara lainnya baik dalam produksi dengan memanfaatkan mesin-mesin yang tersedia, armada penjualan. Secara intern maupun juga dalam menjangkau keluar. ConAgra Foods dan Hicks, Muse, Tate & Furst pernah melakukan itu.

Dari 77 perusahaan beraliansi yang disurvei, 10 di antaranya melakukan aliansi secara tertata dengan baik dan hasilnya memberikan return kepada pemegang saham empat kali lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya ketika berjalan sendiri.

Agar ada keseimbangan dalam beraliansi tentunya harus ada beberapa hal menonjol yang menjadi daya tarik bagi perusahaan lainnya, untuk itulah perlu dilakukan pengamatan yang cukup jeli terhadap perusahaan lain yang akan diajak beraliansi selain kita sendiri melakukan inventarisasi terhadap kekuatan yang menjadi kelebihan kita dan yang akan mengisi kekurangan pada pihak lain. Sukses! [yy/okezone/foto: orbit.bg]

ELIEZER H. HARDJO PH.D.CM
Anggota Dewan Juri ReBi & Institute of Certified Professional Managers.