12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Jangan Abaikan Konflik

Kondisi itu ibaratnya seperti bom waktu yang suatu ketika siap meledak, apalagi terus-menerus dibiarkan
 
Fiqhislam.com - Ketika kita mengalami konflik dengan seseorang, apakah yang biasanya dilakukan? Ketika pertanyaan ini saya ajukan di kelas saya, banyak di antaranya yang mengatakan cenderung akan berusaha untuk menghindari konflik.
 
Istilahnya mereka, “Sing waras ngalah aja” (yang waras, mengalah saja). Namun, tidak selamanya suatu konflik bisa diatasi dengan cara demikian. Khususnya, kalau kita bicara soal orang yang setiap harinya kita harus berinteraksi. Misalkan, pasangan, anak, karyawan, rekan kerja, sahabat bahkan dengan bos.
 
Misalkan saja, ketika ada orang tua yang merasa putrinya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan band-nya sehingga pelajarannya terbengkalai. Ketika membicarakan hal ini, putrinya dengan sengit berkata, “Masih mending aku nge-band, bukannya ngegele (candu) atau ke diskotik!”.
 
Begitu pula, kejadian juga terjadi di sebuah organisasi dimana ada seorang atasan yang baru berusaha mengingatkan seorang karyawan seniornya soal perilaku kerjanya yang malas. Namun, bukannya ditanggapi dengan positif, si karyawan senior ini malah berujar, “Ya udah. Kalau mau pecat ya pecat aja!”
 
Begitulah, dalam kejadian sehari-hari, kita mengalami situasi konflik dalam berkomunikasi dengan seseorang. Kebanyakan orang, ketika mengalami kebuntuan semacam itu, biasanya akan mundur atau malah justru menyerang. Sebenarnya, kedua-duanya sama-sama tidak menyelesaikan masalah. Salah satu sarannya adalah melakukan non-existence formula. Nah, apa itu non-existence formula ini?
 
Non existence formula sebenarnya bicara soal konflik yang seringkali diabaikan. Biasanya, konflik semacam ini dibiarkan ataupun ditinggalkan. Atau dengan kata lain, dianggap tidak ada.
 
Namun, kondisi itu ibaratnya seperti bom waktu yang suatu ketika siap meledak, apalagi terus-menerus dibiarkan. Karena itulah, non-existence formula ini disarankan untuk mengatasi kebuntuan ataupun konflik sehingga tidak dibiarkan berlarut-larut dan berkepanjangan, khususnya jika Anda merasakan ada sesuatu yang ‘tidak beres’.
 
Bagaimanakah prinsip non-existence formula? Proses kerjanya terdiri dari empat tahapan. Pertama, adalah dengan membuka kembali sebuah jalur komunikasi. Kedua, mengungkapkan diri Anda dan perasaan Anda. Ketiga, dengan berusaha menggali apa keinginan dan maksud orang lain tersebut. Keempat, mencoba melakukan sesuatu ataupun menyepakati sesuatu yang akan dilakukan ke depannya, sebagai bentuk solusi.
 
Mengaplikasikan Non Existence Formula
 
Sebagai contoh mengadapi si putri yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan band-nya. Maka hal pertama yang disarankan adalah dengan membuka suatu jalur komunikasi ataupun pembicaraan khususnya.
 
Misalkan setelah makan malam, si orang tua masuk ke kamar putrinya dan mulai mengajaknya bicara baik-baik. Inilah langkah membuka jalur komunikasinya. Kedua, orang tua memulai denga mengatakan secara terus-terang apa yang menjadi kepribatinannya serta alasannya tanpa menghakimi, tetapi mengutarakan apa yang dirasakannya sehubungan dengan aktivitas band putrinya yang terlalu sering.
 
“Mama melihat aktivitas band-mu dalam seminggu bisa tiga kali misalkan saja minggu ini. Terus, mama mulai khawatir karena nilai-nilai prestasi di sekolah mulai pas-pasan. Mama merasa waktumu untuk nge-band terlalu banyak sehingga mengganggu pelajaranmu. Kamu tahu bagaimanapun mama berpikir masa depanmu  akan banyak tergantung pada studimu. Makanya, mama ingin bicara”.
 
Dengan langkah ini, orang tua membuat dirinya dipahami apa yang sebenarnya dia inginkan. Namun, bisa saja si putrinya tidak melihat kenyataan seperti itu. Bisa saja si putri melihat justru kalau dia bisa sukses jadi musisi, maka masa depannya akan lebih baik.
 
Lantas, berikutnya, tugas si Mama dan si anak adalah menyepakati sesuatu yang mungkin bisa menjadi langkah kesepkatan keduanya. Misalkan saja, jadwal nge-band hanya dua kali seminggu atau hanya di akhir pekan saja. Ini disepakati bersama. Yang jelas, untuk mendapat kesepakatan ini, si Mama tidak boleh egois dan si anak juga mau mengalahkan sedikit keinginannya.
 
Begitu pula apabila ada persoalan dengan karyawan senior di kantor. Ada baiknya, daripada membiarkan ataupun membalas dendam kepada si karyawan senior itu, si pimpinan baru ini memanggilnya, lantas mengambil waktu untuk bicara dengan si karyawan ini.
 
Misalkan saja dengan memanggilnya ke kantor. Inilah langkah pertama-nya, yakni membuka jalur komunikasi. Lantas berikutnya, si pimpinan perlu mulai dengan mengutarakan perasaan serta apa yang dirasakannya sehubungan dengan sikap si karyawan itu.
 
“Pada saat saya menegur soal perilaku kerjamu dan jawabanmu adalah “Silahkan pecat saja” saya pikir itu tidak menyelesaikan masalah. Saya ingin kamu mengkontribusikan hasil yang lebih baik. Saya sendiri yakin bahwa di lubuk hatimu yang terdalam, juga ingin memberikan andil bukan?” Dengan begitu, si atasan megungkapkan perasaan yang dia rasakan.
 
Langkah berikutnya adalah menggali dari si bawahan senior itu. Dalam hal ini, memang tidak mudah untuk menggali dari si karyawan senior itu. Khususnya jika si karyawan itu sudah terlanjur tidak percaya. Namun, intinya, si atasan itu tidak boleh berputus asa dengan masalah ini, berani menghadapi risiko dengan mengkonfrontasikan masalah ini serta mengajaknya bicara blak-blakan.
 
Setelah itu, jika si karyawan senior itu akhirnya mau bicara, maka penting bagi si atasan untuk menunjukkan suatu etiket baik dengan berkata, bersikap ataupun melakukan tindakan tertentu untuk menghargai apa yang telah dikatakan oleh karyawan senior tersebut.
 
Prinsip non existence formula sebenarnya mengajarkan sebuah pembelajaran yang sederhana, kalau ada masalah jangan diabaikan. Usahakan untuk menghadapinya. Hal terpenting tatkala mempunyai masalah adalah keberanian untuk mengkonfrontasikan masalah ini. Namun, adalah penting untuk tidak mengkonfrontasikan masalah ini dengan penuh emosi kemarahan tetapi berusaha untuk terbuka.
 
Pertama, Anda terbuka dengan perasaan yang Anda rasakan. Namun, di sisi lain, Andapun terbuka dengan kebutuhan dan pandangan orang lain. Dan akhirnya, tujuan dari non existence formula ini bukanlah untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi mencari solusi yang memenuhi kebutuhan kedua belah pihak. Ayo, belajar atasi konflik dengan orang di sekitar kita secara sehat dan dewasa! [yy/bisnis/foto facebook.com]
 
Oleh Anthony Dio Marti