fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Pandangan yang Salah Mengenai "Calling"

Apapun pekerjaan Anda dan yang sedang dilakukan sekarang, Anda bisa langsung mengubahnya menjadi calling kalau melihatnya secara berbeda
 
Pandangan yang Salah Mengenai "Calling"Fiqhislam.com - Setiap berbicara mengenai calling dalam pekerjaan saya selalu mendapatkan banyak pertanyaan dari para hadirin. Bagaimana kalau pekerjaan yang saya tekuni sekarang ini ternyata bukan calling saya? Apakah saya perlu keluar dari pekerjaan ini dan mengejar calling saya tersebut?
 
Di lain pihak pertanyaan seperti ini juga memunculkan “kegelisahan” tersendiri di kalangan   para manajer dan direktur di departemen SDM. Mereka khawatir jangan-jangan pembicaraan saya telah menyadarkan banyak orang di dalam perusahaannya bahwa mereka selama ini telah “salah jalan”.
 
Bila demikian, maka ada dua skenario yang mungkin terjadi. Skenario pertama karyawan yang bersangkutan tetap tinggal di perusahaan. Skenario ini diambil oleh mereka yang tidak memiliki keberanian untuk keluar dari perusahaan atau tidak memiliki keahlian dan nilai jual yang tinggi.
 
Jadi dalam situasi ini pilihan bertahan dalam organisasi merupakan yang terbaik. Namun, baik bagi siapa? Sudah tentu baik bagi si karyawan tetapi  tidak baik bagi perusahaan. Bagaimana bisa baik kalau karyawan tersebut sudah merasa salah tempat dan salah pekerjaan? Sudah pasti mereka akan merasa terdemotivasi.
 
Skenario kedua, karyawan yang bersangkutan akan segera meninggalkan perusahaan untuk mengejar calling mereka masing-masing. Pilihan ini juga baik bagi karyawan tetapi kurang menyenangkan bagi perusahaan.
 
Bagaimana bisa menyenangkan kalau nantinya perusahaan akan direpotkan karena perginya banyak orang penting. Apalagi berbeda dengan skenario pertama, orang-orang pada skenario kedua ini biasanya adalah mereka yang berprestasi serta memiliki kompetensi dan nilai jual yang tinggi. Itulah sebabnya ketika sadar bahwa saat ini mereka bekerja di tempat dan pekerjaan yang salah mereka bisa segera “meloncat” keluar perusahaan.
 
Jadi apapun kondisi dan pilihan karyawan, perusahaan selalu berada di posisi yang tidak menguntungkan. Bagi perusahaan semuanya menjadi serba salah. Mempertahankan orang yang sudah terdemotivasi adalah masalah besar, tetapi melepaskan orang untuk mengejar calling mereka masing-masing juga menciptakan masalah baru. Lantas, apa yang masih bisa dilakukan perusahaan?
 
Sesungguhnya masalah di atas terjadi karena adanya pemahaman yang salah mengenai calling itu sendiri. Banyak orang yang memahami calling sebagai sebuah pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan bakat dan passion orang yang bersangkutan. Karena itu ketika mendengar istilah calling banyak orang yang segera membandingkan bakat dan passion yang mereka miliki ini dengan pekerjaan mereka saat ini.
 
Celakanya lagi, ternyata banyak orang yang memiliki bakat dan passion yang berbeda dengan yang dibutuhkan oleh pekerjaan mereka saat ini. Kalau demikian halnya mencari pekerjaan baru memang merupakan pilihan rasional yang terbaik.
 
Padahal berbicara mengenai calling sesungguhnya tidak selalu berarti menemukan pekerjaan baru. Calling adalah cara melihat yang baru. Calling adalah sebuah paradigma. Jadi apapun pekerjaan kita kalau kita bisa melihatnya sebagai cara untuk melayani orang lain, memudahkan hidup mereka dan membantu mereka mencapai keberhasilan dan kebahagiaan maka pekerjaan tersebut sudah berubah menjadi calling bagi kita.
 
Dengan demikian kita tidak harus keluar dari pekerjaan kita saat ini tetapi malah perlu lebih masuk lagi ke dalam dan menghayati seluruh dimensi dan kompleksitas permasalahan yang ada di dalamnya.
 
Dengan pemahaman seperti ini, bukankah diskusi mengenai calling akan menjadi diskusi yang paling menggembirakan bagi perusahaan? Bukankah memang itu yang diinginkan oleh perusahaan: mempunyai karyawan yang memiliki tujuan bekerja yang jelas yaitu untuk melayani orang lain (customer) dan membantu memuaskan kebutuhan setiap pelanggan. Bila semua karyawan memiliki motivasi  seperti ini maka hampir dapat dipastikan perusahaan akan untung dan berkesinambungan.
 
Sebuah cara pandang
 
Apapun pekerjaan Anda dan apapun yang sedang Anda lakukan sekarang Anda bisa langsung mengubahnya menjadi calling kalau Anda melihatnya secara berbeda. Kalau Anda melihat pekerjaan sebagai setumpuk tugas yang harus Anda selesaikan, itu namanya melihat pekerjaan sebagai job.
 
Bila menggunakan paradigma ini, Anda akan selalu merasa kesulitan dan terbebani. Anda juga akan merasa berat untuk datang ke kantor, karena siapa sih yang secara sukarela ingin menyelesaikan setumpuk tugas yang tak ada habis-habisnya?
 
Kalau Anda melihat pekerjaan sebagai sebuah karir maka Anda akan lebih bersemangat datang ke kantor. Ini karena Anda mempunyai mimpi dan target yang ingin Anda kejar. Melihat pekerjaan sebagai karir akan menghasilkan kesuksesan. Namun untuk bisa bahagia Anda harus naik ke level yang lebih tinggi lagi yaitu melihat pekerjaan sebagai sebuah calling.
 
Melihat pekerjaan sebagai karir bisa membuat Anda sukses tetapi tidak membuat Anda bahagia. Ini karena perbedaan orientasinya. Ketika berfokus pada karir, Anda sedang mementingkan diri sendiri. Namun ketika berfokus pada calling Anda sedang mementingkan orang lain. Karir bicara mengenai apa yang akan Anda dapatkan sementara calling bicara mengenai apa yang Anda berikan.
 
Calling adalah konsep melayani dengan memanfaatkan semua potensi yang ada pada diri kita. Ketika melayani orang lain maka kita akan mendapatkan perasaan bermakna yang begitu besar. Rasa bermakna ini sangat penting dan merupakan kebutuhan spiritual kita.
 
Lihatlah orang-orang yang memilih bunuh diri. Apakah mereka kekurangan uang? Kekurangan makanan? Tidak. Orang yang bunuh diri adalah mereka yang kehilangan perasaan bermakna. Ia merasa hidupnya sia-sia dan tak berguna. Rasa sia-sia dan tak berguna ini sesungguhnya adalah puncak dari ketidakbahagiaan.
 
Perasaan seperti ini tidak akan pernah dialami oleh orang yang melayani orang lain. Orang yang melayani orang lain akan disadarkan bahwa hidupnya sungguh mulia, bermakna dan berharga. Inilah hidup yang penuh, hidup yang spiritual.
 
Yang menarik, manifestasi pelayanan kita kepada orang itu adalah melalui pekerjaan kita, bukan hal yang lain. Pekerjaanlah yang mendefinisikan siapa kita. Maka dalam konsep ini pekerjaan sesungguhnya adalah cara terindah dalam menikmati kehidupan.
 
Calling adalah melihat pekerjaan secara berbeda. Ketika kita bisa melihat pekerjaan melebihi aspek fisiknya maka pekerjaan itu sudah berubah menjadi sebuah pelayanan. Kalau demikian sasarannya sudah bukan pada customer satisfaction tetapi pada god satisfaction. Di sini pekerjaan sudah mencapai tempat yang tertinggi sebagai sarana pengabdian kita kepada Sang Pencipta. [yy/bisnis/foto hdgnews.com]
 
Oleh Arvan Pradiansyah
Happiness Inspirer & Penulis Buku “I Love Monday”