fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Melihat Persoalan dari Kacamata Orang Lain

Melihat Persoalan dari Kacamata Orang LainFiqhislam.com - Ketika menggarap sebuah proyek, seorang manajer bersikukuh bahwa tim yang ia pimpin harus mengikuti cara standard operating procedur yang sudah ditetapkan perusahaan.

Tidak boleh ada penyimpangan. Ketika dua pekan sudah berjalan, standar tersebut menghadapi tantangan dari situasi lokal, tempat proyek itu dilaksanakan. Sang manajer mulai pusing tapi ia bergeming dari posisinya.

Seorang senior expert, yang juga anggota timnya, mencoba membantu manajernya. Ia, yang lebih kenyang pengalaman bekerja dalam situasi yang berbeda-beda, menawarkan jalan keluar. “Bagaimana kalau kita melihat persoalan ini dari perspektif (orang) lain?” kata senior ini. Mula-mula si manajer enggan beranjak dari sikapnya, namun kemudian ia merasa perlu mendengar saran seniornya ini. “Oke, seperti apa konkretnya?” tanyanya.

“Keteguhan dalam mempertahankan sikap memang bagus, tapi memahami sikap orang lain sangatlah penting,” kata senior expert ini. Ketika perundingan dengan masyarakat setempat nyaris mentok, senior expert ini menyarankan agar tim ‘meminjam’ perspektif masyarakat dalam melihat persoalan: apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka inginkan. Dari sinilah, tim mengetahui dan memahami mengapa masyarakat bersikap demikian. Agar titik temu dapat diperoleh, tim kemudian melunakkan sikapnya dan proyek mulai berjalan seperti yang diharapkan.

 

Seringkali kita merasa keterlibatan orang di luar tim, konsultan atau penasihat, misalnya, bukan hal penting. Banyak pemimpin tim yang kurang berkenan menerima kehadiran orang yang fungsinya memberi saran karena beranggapan hal itu mengurangi wibawanya. Namun umumnya pemimpin tim segera menyadari bahwa kehadiran orang lain dapat memberikan perspektif yang sama sekali berbeda dalam melihat suatu masalah dibandingkan dengan anggota tim. Agar proyek berjalan lancar, senior expert menyarankan mererut orang di luar perusahaan yang berpengalaman dalam menggarap proyek serupa.

Senior expert juga menawarkan saran lain yang dapat dicoba, yakni agar manajer mengundang orang dari departemen lain yang dibutuhkan untuk bekerja bersama tim selama 2 bulan. Menempatkan seseorang dari departemen lain ke departemen tertentu tidak selalu mudah. Mula-mula akan muncul semacam perasaan tidak nyaman di antara kedua belah pihak. Jika ‘orang baru’ ini mulai diajak untuk mengikuti pertemuan di departemen barunya, ia akan merasa ‘mulai diterima’.

Pemimpin tim yang bijak semestinya dapat membuka jalan bagi partisipasi ‘orang baru’ ini dan memberinya kesempatan untuk mengutarakan pandangannya. Mungkin saja setelah itu, anggota tim akan berseru, “Wow, kenapa ya saya nggak pernah berpikir seperti itu?” Partisipasi karyawan satu perusahaan tapi bukan anggota tim bisa sangat bermanfaat untuk memberi perspektif baru bagi tim dalam memandang persoalan.

Mempertimbangkan situasi di lapangan, senior expert juga menyarankan agar manajer tim melakukan adaptasi terhadap cara kerja tim. Bukan menurunkan standar, melainkan membuat penyesuaian agar cocok dengan kondisi tempat proyek berlangsung. Saran ini ditindaklanjuti oleh manajer tim dengan meminta izin kepada perusahaan agar memberinya otonomi secukupnya dalam menjalankan proyek. Sebagai orang yang berada di lapangan, ia dan timnya membutuhkan keluwesan dalam mengatasi persoalan. [yy/tempo/foto zenfs.com]

Dian R. Basuki