23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Kontribusi Prahalad bagi Pebisnis

Kontribusi Prahalad bagi PebisnisFiqhislam.com - Nama C.K. Prahalad barangkali tidak begitu mashur di sini dibandingkan dengan istilah core competency. Padahal, istilah core competency dipopulerkan dalam pengertiannya yang khas oleh Prahalad bersama Gary Hamel.

Nama mendiang guru manajemen ini mungkin kurang populer dibandingkan dengan, misalnya, Peter Drucker dan Stephen Covey. Padahal, ia juga memberi kontribusi yang sangat berharga bagi manajemen dan para manajer.

Dalam pandangan Prahalad dan Hamel, core competency—di sini ada yang menerjemahkannya menjadi kompetensi inti, ada pula yang menyebutnya potensi unggul—merupakan faktor spesifik paling utama bagi sebuah perusahaan dalam meraih keberhasilan bisnisnya. Wujudnya bisa beragam, umpamanya proses produksi, kultur perusahaan, atau strategi pemasaran yang unik. Produsen otomotif Toyota, umpamanya, mempunyai proses produksi unggul yang tidak mudah ditiru karena proses produksi ini terkait dengan kultur perusahaan.

Menurut Prahalad, suatu core competency setidaknya mencakup tiga kriteria. Pertama, tidak mudah ditiru oleh pesaing. Kedua, dapat digunakan-kembali secara luas untuk berbagai produk dan pasar. Ketiga, harus berkontribusi terhadap manfaat yang dirasakan oleh konsumen akhir.

Istilah core competency diciptakan oleh Prahalad dan Hamel guna menjelaskan beraneka ragam keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mampu bersaing secara unggul. Makalah mereka, The Core Competence of the Corporation, yang terbit di Harvard Business Review edisi Mei-Juni 1990, merupakan salah satu artikel yang paling sering dicetak ulang.

Dalam buku mereka yang lain, Competing for the Future, Prahalad dan Hamel seolah ingin mengatakan bahwa jika ada pertarungan, maka pertarungan itu adalah untuk memperebutkan masa depan. Para pemimpin bisnis akan kalah dalam pertempuran, atau malah peperangan, bila mereka menghabiskan seluruh waktunya untuk masalah-masalah masa kini. Keduanya meragukan bahwa perubahan kecil dan berjangka pendek, seperti restrukturisasi dan pengurangan tenaga kerja, adalah jawaban bagi pertumbuhan perusahaan.

Menciptakan perbedaan strategis justru hal yang sangat penting, dan untuk itu dibutuhkan kemampuan dalam memperkirakan masa depan. Seperti halnya pemikir lain, Prahalad menilai sangat penting peran pemimpin. “Jika tim manajemen puncak tidak mampu menjelaskan dengan gamblang mengenai lima atau enam trend industri yang paling mendasar dan paling mengancam kelestarian sukses perusahaannya, maka tim tersebut tidak mampu mengendalikan nasib perusahaannya,” begitu kata Prahalad.

Bagi perusahaan yang mampu mengetahui masa depannya dengan lebih baik, mereka akan mendapat manfaat yang begitu banyak, seperti mendapatkan investasi lebih dahulu dibandingkan pesaing mereka. Kemampuan untuk mengetahui arah trend menggambarkan keahlian yang akan dibutuhkan sebuah perusahaan untuk bersaing di masa depan.

Prahalad juga melahirkan buku yang memancing kontroversi, yakni Fortune at the Bottom of the Pyramid (2004). Dalam ekonomi, bottom of the pyramid adalah kelompok sosio-ekonomi terbesar tetapi paling miskin; mereka berada di dasar piramida. Frasa yang pertama kali digunakan oleh Franklin D. Roosevelt ini dipakai oleh Prahalad dan Stuart L. Hart untuk merujuk pada jutaan orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari $2 per hari.

Dalam bukunya tersebut, Prahalad menyatakan bahwa bisnis, pemerintah, dan badan-badan donor mesti berhenti menganggap kaum miskin sebagai korban. Ia menasihati mereka agar mulai melihat kelompok di dasar piramida ini sebagai entrepreneur kreatif dan ulet serta value-demanding consumers.

Bila perusahaan multinasional memilih untuk melayani pasar ini, kata Prahalad, mereka bisa memetik manfaat yang luar biasa. Pengurangan kemiskinan juga bisa dilakukan bila perusahaan multinasional mau bekerjasama dengan organisasi civil society dan pemerintah setempat untuk menciptakan model-model bisnis baru yang bersifat lokal. Langkah strategis ini dapat menolong mereka yang berada di dasar piramida.

Tatkala wafat April 2010, namanya dikenang sebagai guru manajemen yang mengusik kemapanan berpikir para manajer. Nama Prahalad menempati posisi paling tinggi dalam survei yang dilakukan di kalangan pebisnis AS mengenai pemikir manajemen yang berpengaruh pada 2009. Ia pemikir provokatif yang secara teratur memunculkan gagasan cemerlang yang mengagetkan para eksekutif bisnis. Salah satunya ialah co-creation, yang sering ditafsirkan sebagai upaya produsen bersama konsumen dalam menciptakan nilai pada produk atau jasa, walau ia memaknainya lebih dari itu. [yy/tempo/foto pdfpedia.com]

Oleh Dian R. Basuki