20 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 26 Oktober 2021

basmalah.png

Menciptakan Model Bisnis Baru

Menciptakan Model Bisnis Baru Fiqhislam.com - Dalam suatu pertemuan sejumlah petinggi di sebuah perusahaan induk swasta (holding company), dibahas tentang keberhasilan salah satu anak perusahaan yang bergerak dalam industri hiburan.

Unit bisnis tersebut mampu memberikan kontribusi keuntungan hingga 70 persen. Kemudian masing-masing direksi aktif memberikan saran dan rekomendasi, dari analisa usaha yang dibuatnya.

Sharing knowledge di antara jajaran menejemen tersebut, dilakukan untuk menjawab pertanyaan, apakah sukses usaha dan model bisnis di industri hiburan bisa diterapkan di unit bisnis lain yang berbeda di dalam satu perusahaan induk itu?

Pada dasarnya setiap jenis usaha dan bisnis bersifat unik. Sistem copy paste (copas) atau mirroring suatu bisnis model, hanya dilakukan untuk usaha atau industri sejenis. Oleh karena itu, model bisnis yang terbilang sukses di satu bidang usaha belum tentu bisa diterapkan di jenis usaha lainnya.

Dalam bukunya Business Model Generation, Alex Osterwalder menuliskan tentang perlunya sembilan kerangka bisnis yang terintegrasi.

Pertama, pengusaha harus mengetahui profil pelanggannya.

Kedua, jenis usaha apa yang hendak ditawarkan kepada konsumen.

Ketiga, jaringan distribusi. Apapun jenis bisnisnya, seorang pengusaha harus bisa menentukan sistem distribusi penjualan produknya, agar bisa sampai ke pelanggan.

Keempat, menentukan pola promosi. Sebuah bisnis baru harus diketahui oleh calon pelanggan karena itu perlu promosi baik secara online maupun offline.

Promosi secara offline dilakukan melalui kegiatan yang bersifat fisik, misalnya mengadakan even atau gathering, membagikan brosur, memasang spanduk atau baliho di jalan. Promosi produk secara online diyakini lebih murah bahkan seringkali gratis, antara lain melalui blog, facebook atau twitter, hingga memasang iklan di Google Adwords.

Kelima, menentukan pendapatan. Jangan pernah membuat bisnis tanpa memikirkan rencana pendapatan atau berpikir bagaimana nanti. Sejak awal harus sudah ditentukan jenis-jenis pendapatan yang akan diperoleh.

Jika akan mendirikan media online, harus dapat diperkirakan perhitungan pendapatan yang akan bisa diraih dari iklan. Kalau mendirikan toko, sebaiknya bisa memperkirakan penghasilan dari volume penjualan/omset. Putuskan dan tentukan target pendapatan per bulan.

Keenam, menentukan mitra bisnis. Nyaris tidak ada sukses dalam berbisnis tanpa bekerja sama dengan pihak lain. Tentukan dari awal apakah bisnis baru itu memerlukan investor untuk permodalan atau tidak. Apakah perlu mengadakan perjanjian kerja sama khusus dengan distributor?

Bahkan untuk jenis usaha tertentu, perlu ada endorsement dari orang-orang yang memiliki pengalaman dan atau orang berpengaruh di dunia bisnis. Menggandeng mitra bisnis yang tepat dapat menambah kemampuan yang kita miliki sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan bisnis.

Ketujuh,  kegiatan-kegiatan apa saja yang akan anda lakukan untuk menghasilkan uang? Apakah Anda akan mengadakan even, mengumpulkan uang lalu mendapatkan dana dari sponsor? Apakah Anda akan mengadakan kursus web design yang akan berlangsung setiap hari?

Kedelapan, membuat dan menjalankan bisnis umumnya tidak bisa sendirian. Anda memerlukan staf. Sejak awal tentukan berapa banyak dan jenis keahlian apa yang diperlukan oleh karyawan Anda? Misalnya dalam sebuah toko: Berapa banyak tenaga sales diperlukan? Berapa banyak tenaga kasir diperlukan? Berapa banyak tenaga administrasi seperti accounting diperlukan?

Selain soal SDM, juga diperlukan sumber daya non manusia. Berapa sewa toko/kantor perbulan? Berapa komputer dan berapa harga totalnya? Apakah Anda perlu membuat meja counter atau display untuk penjualan.

Kesembilan, semua hal yang dilakukan dari poin nomor 6 hingga 9 memerlukan biaya, lakukan perhitungan secara seksama, lalu putuskan apakah rencana rencana bisnis menguntungkan atau tidak ?

Mengetahui menguntungkan/tidaknya sebenarnya sederhana saja, apakah penghasilan yang akan diperoleh akan lebih besar dari pengeluaran atau tidak? Jika tidak, berarti akan merugi dan bisnis ini tidak layak dijalankan.

Dalam dunia bisnis, profitabilitas hanya cukup dibuat di atas kertas, tetapi harus benar-benar diwujudkan secara nyata.  [yy/kompas/foto jeffreykrames.com]

Tjahja Gunawan Diredja