fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Syawal 1442  |  Jumat 14 Mei 2021

Benarkah Konsep Work-Life Balance Bisa Diwujudkan?

Benarkah Konsep Work-Life Balance Bisa Diwujudkan?

Fiqhislam.com - Work-Life Balance (WLB) selalu menjadi topik hangat dalam pembahasan kehidupan kerja. Boleh jadi memang ada jenis pekerjaan yang memungkinkan konsep WLB mudah untuk diwujudkan.

Namun, sebagian besar karyawan merasa bahwa mewujudkan WLB itu hanya sebatas jargon dan angan-angan belaka. Apalagi dalam suasana yang penuh persaingan, semakin banyaknya pekerjaan, maupun semakin memburuknya kemacetan di jalan raya. Apa iya kita bisa menyeimbangkan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi?

Banyak perusahaan yang telah melakukan berbagai macam usaha untuk mewujudkan WLB. Tidak sedikit pula yang membentuk gugus tugas, melakukan diskusi kelompok, bahkan mempekerjakan konsultan HRD; meskipun konsultannya sendiri belum tentu sudah mampu menyeimbangkan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadinya sendiri.

Faktanya, banyak program WLB yang hanya bagus diatas kertas, namun tidak berhasil diwujudkan dalam kenyataan kerja sehari-hari. Tidak aneh, karena kebanyakan program WLB tidak berhasil menyelesaikan akar masalahnya. Ijinkan saya mengungkapkan 5 akar masalah yang sering diabaikan oleh perusahaan, konsultan, maupun karyawan. Berikut ini uraiannya.

1. WLB itu 75%-nya tanggungjawab pribadi, bukan perusahaan.
Kita sering mengira bahwa perusahaan adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam mewujudkan WLB. Ini keliru sekali. Ada 2 komponen dalam WLB, yaitu; kehidupan kerja (50%), dan kehidupan pribadi (50%).

Perusahaan sama sekali tidak memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mencampuri urusan pribadi. Sedangkan kehidupan kerja, adalah tanggungjawab kedua pihak.

Oleh sebab itu, porsi tanggungjawab WLB itu sebenarnya pada karyawan sendiri (75%), dan perusahaan (25%). Program WLB yang hanya membebankan tanggungjawab kepada perusahaan pasti akan gagal. Dan itulah yang terjadi di dunia nyata, betul kan?

2. Mengefektifkan penggunaan waktu.
Penyebab utama tidak tercapainya WLB adalah tuntutan pekerjaan yang "terlalu banyak". Mungkin ada benarnya juga. Tetapi, coba periksa kembali, apakah memang pekerjaan Anda yang terlalu banyak atau Anda yang tidak mampu menggunakan waktu secara efektif?

Kalau waktu Anda tidak digunakan secara efektif maka tidak fair untuk melemparkan masalah kepada pekerjaan. Misalnya, berapa jam Anda bermain games? Berapa kali pekerjaan Anda diinterupsi oleh blackberry? Berapa lama ‘perpanjangan’ waktu makan siang?

Dan, apakah Anda selalu tepat waktu tiba dikantor? Kalau Anda ingin mewujudkan WLB, maka mengefektifkan penggunaan waktu menjadi kebutuhan mutlak, lho.

3. Menjalani kegiatan pribadi yang positif.
Kegiatan pribadi itu anugerah yang tidak ternilai harganya. Itu hak Anda, maka gunakanlah semaksimal mungkin. Tapi, sebaiknya diisi dengan kegiatan yang positif.

Misalnya, jika Anda terlalu sering menggunakan waktu pribadi untuk dugem sampai jam 2 pagi; mungkin besoknya tidak akan bisa bekerja dengan baik. Dalam jangka panjang, pasti Anda akan semakin keteteran.

Tetapi jika waktu pribadi Anda benar-benar digunakan untuk menikmati hidup bersama istri, suami, anak-anak, teman dan tetangga; maka Anda akan menemukan pemuasan kebutuhan mental, spiritual, dan sosial yang menyehatkan.  Saat kembali ke kantor, Anda benar-benar siap kembali bekerja secara lahir dan batin.

4. Kedewasaan dalam memegang amanah.
WLB itu bukanlah kondisi statis, melainkan pergerakan dinamis seperti timbangan yang naik-turun atau bergoyang di sisi kiri dan kanan.

Kadang-kadang berhadapan dengan beban kerja yang sangat tinggi sehingga harus focus sampai jam sebelas malam. Kadang-kadang, juga harus menjaga istri yang hendak melahirkan.

Mana yang paling berat timbangannya? Kiri atau kanan? Untuk bisa menyeimbangkannya kembali, dibutuhkan kedewasaan dalam memegang amanah.

Saat meminta izin mengurusi masalah keluarga, Anda mengambil prosi waktu yang sewajarnya bukan aji mumpung sehingga amanah pekerjaan tetap terselesaikan dengan baik.

Dengan cara itu, semua amanah tidak akan menjadi beban yang bertumpuk-tumpuk di kemudian hari.

5. Mengingat kehidupan sesudah kematian.
Tuntutan kerja yang berat bukanlah satu-satunya penyebab utama hilangnya WLB. Ada banyak professional yang kehilangan WLB karena dikendalikan oleh ambisi-ambisi pribadinya.

Demi mengejar ambisi itu, mereka mengorbankan hak-hak keluarganya, sambil terus mengira semuanya berjalan baik-baik saja.

Jabatan dan kekayaan itu memang bersifat adiktif alias menimbulkan ketagihan. Maka semakin sukses kita, semakin sering lupa kapan saatnya untuk jeda. Padahal, keluarga kita tidak hanya membutuhkan pemenuhan materi belaka.

Kalaupun memang benar demikian, kita perlu ingat bahwa hidup ini bukan hanya didunia saja. Ada saatnya mencari karunia didunia, sebanyak-banyaknya. Namun ada saatnya untuk berhenti dari perburuan materi agar bisa menabung bekal kehidupan diakhirat.

Mari berhenti dari kebiasaan melemparkan tanggungjawab mewujudkan WLB kepada perusahaan. Benar perusahaan harus memfasilitasi program-program pendukungnya.

Namun jika kita sendiri tidak memberdayakan diri, maka program sebaik apapun tidak akan pernah berhasil. Mengelola diri, itulah prasyarat mutlak WLB. Karena 75% porsi tanggungjawab itu, ada pada diri kita sendiri.

oleh Dadang Kadarusman
yy/motivatorindonesia.com