fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Culture Shock Bos Baru

http://4.bp.blogspot.com/_42_2KT0k6ik/S2xZGmfHFsI/AAAAAAAABQw/WCdMoubyJXk/s320/boss-employee-cartoon,F-N-194963-13.jpg"Jangan pernah kamu mengajak aku makan di tempat itu lagi. Dengan posisiku sebagai bos, aku terbiasa makan di restoran mahal dan hotel berbintang," demikian isi pesan singkat BlackBerry yang dikirim Mersi kepada Ermi pada suatu sore. Ermi pun hanya mengelus dada.

Setelah sahabatnya diangkat sebagai direktur di kantornya, Ermi merasa banyak yang berubah pada diri Mersi. Padahal Mersi, si gadis manis asal Surabaya, dulu seorang yang hangat, selalu berempati, dan sangat rendah hati. "Mungkin dia mengalami shock culture setelah menjadi bos atau pemimpin seperti 'kacang yang lupa kulit'," kata Ermi.

Lain lagi dengan Gusdja, seorang pengacara muda yang baru merintis karier. Meski baru seumur jagung, pria berusia 32 tahun ini sudah memiliki kemapanan ekonomi dan posisi gemilang di dunia pengacara. Toh, Gusdja, yang sehari-hari mengendarai Nissan X-Trail, tak pernah malu menikmati makanan di pinggir jalan dan tetap bersahaja bergaul dengan para tukang ojek sepeda motor di sekitar kantornya.

"Posisi, jabatan, dan mandat itu sebuah anugerah serta kesempatan yang diberikan Tuhan. Semuanya bisa berubah dan bukan menjadi suatu kekuasaan yang harus disikapi dengan sikap pongah dan semena-mena," tutur Gusdja, alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Sikap serupa diperlihatkan oleh Anita, pemilik sebuah biro perjalanan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Di kalangan pegawai dan mitra bisnisnya, ia dikenal sangat rendah hati, bersahaja, serta berempati kepada orang lain. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara itu mengatakan, "Berada di posisi puncak tidak perlu pongah atau sombong."

Menurut Anita, jabatan dan kekuasaan bukanlah segala-galanya. Seperti roda kehidupan, yang bisa berputar sebentar di atas, tapi lain waktu berada di bawah. "Saat kita diberi kepercayaan berada di atas, sebaiknya banyak bersyukur dan melakukan tugas lebih baik lagi yang bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya panjang-lebar.

Melly Manuhutu, artis dan pengusaha aneka produk organik, mengatakan seorang pemimpin atau berada di posisi puncak tidak mengubah seseorang bersikap sombong, pongah, dan jumawa. "Aku sih merasa baik-baik saja, tidak harus lupa diri. Sebab, semakin sederhana dan bersahaja seseorang, sekalipun menjadi bos, justru dia akan semakin lebih baik dan bisa diterima di masyarakat."

Psikolog Kassandra Putranto menuturkan, secara emosional, seseorang yang mendapat posisi atau jabatan tertinggi tentunya akan mengalami perubahan perilaku. "Perubahannya bisa positif dan negatif. Ada yang mengalami shock culture, tapi ada pula yang tetap nice, bahkan sangat low profile. Semua bergantung pada individunya," kata Kassandra dalam seminar gaya hidup bertema "Perilaku Berubah Ketika Menjadi Bos" di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kassandra menyebutkan sebuah pepatah yang mungkin bisa menjadi kendali seseorang saat berada di puncak. "Semakin tinggi pohon yang tumbuh, semakin kencang angin yang meniupnya. Semakin seseorang berada di puncak pimpinan, semakin besar ujian yang dihadapinya."

Kassandra tidak menyalahkan seseorang yang menjadi bos, lalu bersikap pongah dan mengalami shock culture. Menurut dia, hal itu wajar. Sebab, posisi demikian biasanya menuntut seseorang berada pada tingkatan, level atau standar hidup baru sesuai dengan posisinya. "Asalkan bermakna positif," tuturnya.

Misalnya, Kassandra menambahkan, harus memperbarui pemikiran, cara pandang, dan semangat kerja yang lebih baik lagi sebagai seorang bos, bukan bawahan. "Yang penting, bukan dalam hal negatif, apalagi berdampak buruk terhadap kehidupan dan interaksi sosialnya." (HADRIANI | tempointeraktif.com)