fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

Tak Ingin Peluang Melayang, Angan Berwirausaha Jangan Ditunda!

http://3.bp.blogspot.com/_6VOrdk_8tlo/S7ob6TD9bJI/AAAAAAAAAdQ/W-wpQeRv8oE/s1600/online-marketing-graph.jpg

Anda pernah mendapat cobaan dihadapkan pada suatu keadaan sulit? Kebingungan mencari pekerjaan, atau tidak mampu membeli sebagian kebutuhan anda? Kala itu, anda hanya bisa melamun, berandai-andai dan membayangkan? Tidak jarang andapun berkata dan berjanji pada diri sendiri:

Andai aku mendapat pekerjaan, andai aku memiliki uang banyak...
Aku akan berbuat demikian dan demikian...

Bahkan mungkin tanpa kesulitanpun anda sering berandai-andai:

Andai aku memiliki harta yang lebih banyak...
Andai aku memiliki 10 toko, atau perusahaan saya menjadi besar dan go public, saya akan demikian dan demikian..
Andai aku punya waktu luang, andai aku punya kesempatan... Saya akan demikian dan demikian.

Coba anda kembali mengingat-ingat pengalaman masa lalu anda. Saya yakin anda pernah melakukan hal itu.
Tidak perlu malu saudaraku! Sayapun demikian juga, tidak beda dengan anda, selalu dibuai oleh "andai, kalau, dan lamunan."

Oleh karena itu, saya mengajak anda untuk mengenali jati diri kita masing-masing melalui lamunan dan andaian tersebut. Bila anda kuasa untuk membuktikan andaian dan lamunan anda dalam dunia nyata, maka anda adalah seorang yang benar-benar beriman, tapi sebaliknya... na'uzubillah.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu: bahwa ia mendengar Rasululah shallalahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ ثَلاَثَةً فِى بَنِى إِسْرَائِيلَ؛ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى. فَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا فَأَتَى الأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَىُّ شَىْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّى الَّذِى قَدْ قَذِرَنِى النَّاسُ. قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِىَ لَوْنًا حَسَنًا، وَجِلْدًا حَسَنًا. قَالَ: فَأَىُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: الإِبِلُ أَوْ الْبَقَرُ، -شك إسحَاق- فَأُعْطِىَ نَاقَةً عُشَرَاءَ، فَقَالَ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا.
قَالَ: فَأَتَى الأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَىُّ شَىْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: شَعَرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّى هَذَا الَّذِى قَذِرَنِى النَّاسُ. قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبَ عَنْهُ، وَأُعْطِىَ شَعَرًا حَسَنًا. قَالَ: فَأَىُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: الْبَقَرُ أو
الإبل، فَأُعْطِىَ بَقَرَةً حَامِلاً، فَقَالَ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا.

قَالَ: فَأَتَى الأَعْمَى، فَقَالَ: أَىُّ شَىْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: أَنْ يَرُدَّ اللَّهُ إِلَىَّ بَصَرِى، فَأُبْصِرَ بِهِ النَّاسَ . قَالَ: فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَىُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: الْغَنَمُ. فَأُعْطِىَ شَاةً وَالِدًا.
فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا. قَالَ: فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ الإِبِلِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَرِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ.
قَالَ: ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى الأَبْرَصَ فِى صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِينٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِىَ الْحِبَالُ فِى سَفَرِى، فَلاَ بَلاَغَ لِىَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِى أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحَسَنَ وَالْجِلْدَ الْحَسَنَ وَالْمَالَ، بَعِيرًا أَتَبَلَّغُ عَلَيْهِ فِى سَفَرِى. فَقَالَ: الْحُقُوقُ كَثِيرَةٌ. فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّى أَعْرِفُكَ، أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ، يَقْذَرُكَ النَّاسُ فَقِيرًا، فَأَعْطَاكَ اللَّهُ؟ فَقَالَ: إِنَّمَا وَرِثْتُ هَذَا الْمَالَ، كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ. فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا، فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ.

قَالَ: وَأَتَى الأَقْرَعَ فِى صُورَتِهِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَى هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا، فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ.
قَالَ: وَأَتَى الأَعْمَى فِى صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِينٌ، وَابْنُ سَبِيلٍ انْقَطَعَتْ بِىَ الْحِبَالُ فِى سَفَرِى، فَلاَ بَلاَغَ لِىَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِى رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِى سَفَرِى. فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ إِلَىَّ بَصَرِى، فَخُذْ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ، فَوَاللَّهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ شَيْئًا أَخَذْتَهُ لِلَّهِ. فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ، فَقَدْ رُضِىَ عَنْكَ وَسُخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ.

Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil: Orang pertama menderita penyakit kusta, orang kedua berkepala botak, dan orang ketiga buta. Allah hendak menguji mereka, maka Allahpun mengutus seorang Malaikat. Malaikat utusan Allah itupun mendatangi orang pertama yang terkena kusta, dan bertanya: apa yang paling engkau dambakan? Ia menjawab: Warna kulit yang bagus, dan sembuhnya penyakit yang aku derita dan menyebabkan orang lain memperolok-olokku. Spontan Malaikat tersebut mengusapnya, dan sekejap penyakitnya sembuh, dan ia diberi warna kulit yang bagus. Selanjutnya Malaikat itu kembali bertanya kepadanya: Harta apa  yang paling engkau sukai? Ia menjawab: Onta atau sapi, –Ishaq perawi hadits ini ragu- maka ia diberi seekor onta bunting, dan Malaikat itu berdoa untuknya: Semoga Allah memberkahi ontamu.

Selanjutnya Malaikat itu mendatangi orang yang berkepala botak, dan bertanya kepadanya: apa yang paling engkau dambakan? Ia menjawab: rambut yang indah, dan sembuhnya penyakit yang aku derita dan menyebabkan orang lain memperolok-olokku. Spontan Malaikat tersebut mengusapnya, dan sekejap penyakitnya hilang, serta ia dikarunia rambut indah. Selanjutnya Malaikat itu kembali bertanya: Harta apa yang paling engkau sukai? Ia menjawab: Sapi atau onta, maka ia diberi sapi bunting, dan Malaikat itu berdoa untuknya: Semoga Allah memberkahi sapimu.


Selanjutnya Malaikat itu mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: apa yang paling engkau dambakan? Ia menjawab: Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa melihat orang lain. Lalu Malaikat itu mengusapnya, dan Allah-pun mengembalikan penglihatannnya. Selanjutnya Malaikat itu bertanya kepadanya: Harta apa yang paling engkau dambakan? Ia menjawab: Kambing. Dan iapun segera diberi seekor kambing bunting.

Tidak selang berapa lama onta, sapi, dan kambing tersebut beranak pinak sehingga orang pertama memiliki satu lembah onta, orang kedua memiliki satu lembah sapi dan orang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan ceritanya dengan bersabda: “Selang beberapa lama, Malaikat itu dengan rupa yang sama dengan rupanya di saat mengobati ketiganya, orang yang dahulu menderita kusta, dan berkata: Aku adalah orang miskin, sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal, sehingga saat ini aku tidak mungkin dapat sampai ke tujuanku, kecuali dengan pertolongan Allah, lalu dengan pertolonganmu. Demi Dzat yang telah memberimu warna yang elok, kulit halus, dan harta yang melimpah, aku minta kepadamu seekor onta, untuk menjadi bekalku melanjutkan perjalanan. Orang itu menjawab: Tanggunganku banyak sekali. Mendengar jawaban lelaki itu, Malaikat tersebut berkata: Seakan aku pernah mengenalmu. Bukankah dahulu engkau menderita kusta, sehingga dijauhi oleh masyarakat, dan melarat. Selanjutnya Allah azza wa jalla mengaruniaimu kekayaan? Lelaki itupun menjawab: Sesungguhnya harta ini aku warisi secara turun-temurun dari nenek moyangku. Mendengar jawaban yang demikian, Malaikat itupun  berkata: Jikalau engkau berbohong, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.

Nabi melanjutkan ceritanya dengan bersabda: Kemudian dengan rupa yang sama dengan rupanya di saat mengobati ketiganya, Malaikat itu mendatangi orang yang dahulu berkepala botak. Iapun berkata seperti yang ia katakan kepada orang pertama, dan lelaki  itupun menjawab permintaan Malaikat seperti jawaban orang pertama, sehingga Malaikat itupun berkata: bila engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.


Selanjutnya dengan rupa yang sama dengan rupanya di saat mengobati ketiganya, Malaikat itu mendatangi orang yang dahulu buta, dan berkata: aku adalah orang miskin, yang sedang dalam perjalanan, dan kehabisan bekal, sehingga aku tidak bisa sampai pada tujuanku, kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolonganmu. Demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu, aku meminta seekor kambing untuk menjadi bekal perjalananku. Mendengar permintaan ini, lelaki itu menjawab: Dahulu aku buta, kemudian Allah kembalikan penglihatanku, maka ambillah dari kambingku sesuka hatimu, dan sisakan darinya sesuka hatimu. Sungguh demi Allah, aku tidak berkeberatan dengan kambing yang engkau ambil di jalan Allah. Mendengar jawaban santun ini, Malaikat itu berkata kepadanya: Jagalah hartamu, sesungguhnya kalian telah  diuji, dan sesungguhnya Allah telah meridhaimu, dan murka kepada dua sahabatmu.
” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)

Bagaimana nasib lamunan dan angan-angan anda saudaraku! Mungkinkah lamunan anda dahulu telah hanyut oleh lamunan dan angan-angan anda yang lebih baru? Semoga tidak.
Demikianlah salah satu cara untuk mengetahui siapa sejatinya diri kita. Semoga Allah Ta'ala mengampuni kekhilafan kita dan membimbing jalan hidup kita, sehingga hati kita selaras dengan lahir kita. Wallahu Ta'ala a'alam.

(Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.)

Untuk Anda yang ingin mencari tambahan penghasilan dengan membuka bisnis sendiri, namun modal tidak cukup. Atau, berencana memperluas usaha, tapi belum punya dana? Sebaiknya, keinginan itu jangan ditunda-tunda, karena bisa-bisa pupus di tengah jalan. Sayang kan, kalau ide kreatif berbisnis sudah bermunculan, tapi gagal terwujudkan. Padahal, supaya roda bisnis berputar, bisa kok, mengajukan kredit usaha ke bank.

Kenali jenis usaha

Mungkin, terbersit rasa tak rela di dalam hati, jika harus menyisihkan keuntungan untuk membayar cicilan dan bunga kredit setiap bulan. Apalagi, bisnis Anda yang masih 'bayi' pun belum tentu berjalan mulus. Terbayang pula ribet-nya prosedur peminjaman di bank, yang mau tak mau harus Anda jalani.

Jangan khawatir. Menurut Eko Endarto, perencana keuangan dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan, keengganan seperti itu wajar Anda alami. Tapi, sebaiknya lihat pula sisi positifnya. “Utang atau kredit sangat berguna, karena dapat dijadikan ‘pendongkrak’ bisnis. Jika digunakan secara tepat, kredit dapat mempercepat perkembangan usaha. Ujung-ujungnya, modal yang Anda tanamkan bisa kembali lebih cepat.”

Boleh saja Anda khawatir, pengajuan kredit bakal ditolak oleh bank, tapi sebaiknya jangan menyerah sebelum ‘bertarung’. Menurut Denny Admiral Nasir, Vice President - Head of Sales Department Bank Mandiri, meminjam modal usaha ke bank tak sesulit yang orang bayangkan. “Prinsipnya, asal persyaratan dan dokumen yang diperlukan sudah dipenuhi, dan usaha Anda dinilai memiliki prospek, bank dapat segera mencairkan pinjaman.”

Pinjaman lunak untuk pengusaha kecil (micro-banking), kata Denny, kini banyak dimanfaatkan ibu-ibu rumah tangga untuk membuka usaha sampingan. Jenis kredit ini memang terutama disediakan bagi mereka, dengan catatan: suaminya harus punya pendapatan tetap. Karena, pembayaran cicilan dilakukan dengan memotong gaji suami setiap bulan. Wanita lajang berusia 21 tahun ke atas juga bisa mendapatkan pinjaman ini, asalkan memiliki penghasilan tetap yang bisa menutupi besarnya cicilan kredit.

Sylva Riani (33), contohnya, pengusaha kafe dan katering di Jakarta. Bisnisnya telah berjalan mulus selama 2,5 tahun, namun ia ingin memperluasnya menjadi usaha jasa boga untuk pesta kecil dan acara kantor. Awalnya ia khawatir akan tersandung masalah di tengah jalan, namun, setelah mengukur kemampuan usaha, ia membulatkan tekad untuk mengambil kredit usaha mikro sebesar Rp25 juta, dengan masa pembayaran cicilan satu tahun.

“Saya berusaha disiplin membayar cicilan. Caranya, dengan membuat tabungan harian di bank, di tempat saya meminjam uang. Setiap hari, saya wajib mengisi tabungan itu sebesar Rp200.000 yang kemudian dipakai untuk membayar cicilan. Saya dan suami sepakat tidak mengutak-atik tabungan itu untuk keperluan lain, apalagi untuk belanja konsumtif. Jika bisnis ini terus meningkat keuntungannya, mungkin saya akan meminjam dengan jumlah yang lebih besar lagi ke bank,” kata Sylva.

Untuk memfasilitasi keperluan nasabah yang ingin meminjam dana, bank memiliki beberapa jenis kredit. Berdasarkan besarnya, menurut Eko, nilai kredit dibagi menjadi kredit mikro (di bawah Rp50 juta), kredit kecil (Rp51 juta – Rp500 juta), kredit menengah (Rp501 juta – Rp5 milliar), dan kredit korporasi (di atas Rp5 milliar). Sayangnya, jika Anda berniat mengambil kredit di bank untuk merintis usaha dari nol, hal itu agak sulit dilakukan.

“Ada memang beberapa bank pemerintah yang menyediakan kredit untuk pengusaha baru, namun kebanyakan bank hanya mau mengucurkan dana untuk usaha yang sudah terbukti berjalan lancar, setidaknya sudah berdiri dua hingga tiga tahun,” jelas Eko.

Ivan Sofwan Effendi, kepala divisi pinjaman modal untuk usaha kecil dan menengah Bank Internasional Indonesia (BII), menjelaskan, memulai usaha waralaba dengan modal kredit dari bank lebih mudah, sebab waralaba tak perlu lagi memulai usahanya dari nol. “Dengan membeli waralaba, Anda dapat menyandang nama atau merek terkenal. Walaupun usaha baru, tapi sistem bisnis yang dijalankan waralaba mengurangi risiko kegagalan usaha," ujar Ivan.

Kendati begitu, Anda jangan langsung patah arang. Masih ada cara lain untuk memulai usaha dari nol. Denny memaparkan, Anda bisa memanfaatkan kredit tanpa agunan (KTA) dari bank. Tapi, karena tujuannya untuk konsumsi, misal untuk renovasi rumah, pembelian alat elektronik atau mobil, bunganya menjadi tinggi. Jadi pinjaman ini lebih cocok untuk bisnis yang perputaran uangnya cepat, misalnya bisnis makanan. Dana yang ditawarkan bisa mencapai Rp5 juta – Rp200 juta, dengan jangka waktu pengembalian maksimal 5 tahun. Namun usahakan melunasi dalam 1-2 tahun , agar beban bunga tidak mencekik.

Jika sudah menentukan bank pilihan, simak syarat kredit yang diajukan. Untuk pengusaha yang butuh dana cukup besar, hampir semua bank mensyaratkan jaminan aset alias agunan, misalnya tanah, bangunan, kendaraan, mesin pabrik, atau perhiasan. Agunan itu harus memiliki surat-surat lengkap dan nilainya minimal 125-150% dari nilai kredit. Begitu pula, makin besar nilai kredit yang Anda ajukan, makin banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Contohnya, jika ingin mengambil pinjaman kredit Rp100 juta (kredit usaha kecil), Anda harus menunjukkan pembukuan usaha, akta usaha, saldo tabungan usaha, dan agunan yang memadai. Jadi, dari awal, sebagai calon peminjam, Anda mesti punya gambaran jumlah kredit yang akan diajukan.

‘Bekal’ Sebelum Berunding

Agar peluang mendapatkan kredit lebih besar, sertakan dokumen persyaratan yang lengkap, yaitu:

  • Proposal permohonan kredit disertai rencana usaha
  • Fotokopi identitas (KTP dan kartu keluarga)
  • NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) pribadi atau perusahaan
  • Fotokopi rekening koran/tabungan
  • Surat agunan (jika kredit dengan agunan), misalnya BPKP mobil jika Anda menjadikan mobil sebagai agunan, atau surat hak kepemilikan tanah jika tanah yang dijadikan agunan.
  • Keterangan domisili usaha (surat keterangan dari RT/RW)
  • Laporan keuangan, untuk perusahaan yang sudah berjalan. (fn/pm/wf/suaramedia.com)