28 Sya'ban 1444  |  Selasa 21 Maret 2023

basmalah.png

Memulai Wirausaha, Lebih Muda Beri Kesempatan Belajar Lebih Dini

http://icha09.student.umm.ac.id/files/2010/01/Enthusiasm.JPG

”Kapan waktu yang tepat untuk menjadi entrepreneur?”. Menjadi entrepreneur bisa di segala usia. Ada yang memulainya sejak kuliah. Yang lain memulainya segera setelah lulus. Sebagian memulainya setelah sekitar 10 tahun jadi pegawai.

Saya pribadi memulai nya setelah 24 tahun bekerja. Pak Teddy Rachmat (kebetulan saya baru saja bertemu beliau), menjadi entrepreneur setelah lebih dari 30 tahun menjadi profesional. Colonel Sanders memulai bisnis Kentucky Fried Chickens pada usia 65 tahun.

Menjadi entrepreneur bisa dimulai pada usia berapa pun. Keputusan untuk menjadi atau tidak menjadi entrepreneur sangat personal sifatnya. Demikian pula tentang waktu yang tepat untuk beralih jalur, dari pegawai menjadi entrepreneur. Keputusan ini perlu didiskusikan dengan keluarga dan sahabat. Keputusan ini akan sangat tergantung pada selera kita akan risiko. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, juga tidak ada waktu yang benar atau salah. Dasar-dasar pengambilan keputusan itu harus datang dari diri sendiri.

Yang sangat penting adalah, ketika memutuskan untuk beralih jalur, kita siap menghadapi tantangan-tantangan yang akan menghadang. Menjadi pegawai, kita punya penghasilan tetap, ada jaminan kesehatan dan berbagai fasilitas lainnya. Ketika kita memutuskan untuk menjadi entrepreneur, fasilitas ini langsung hilang. Menjadi entrepreneur memang penuh risiko. Sejalan dengan risiko yang tinggi, bila berhasil, manfaat yang diperoleh pun jauh lebih besar.

Karenanya, penting kita membangun pondasi yang kuat di atas mana kita akan membangun bisnis kita. Itu artinya kita perlu membereskan hidup kita terlebih dahulu. Biasakan untuk menyisihkan sebagian penghasilan sebagai pegawai, untuk diinvestasikan. Kombinasi antara investasi properti, reksadana, dan deposito bisa menjadi pilihan. Aset ini akan sangat berguna ketika kita beralih jalur.

Selain membangun aset materi, bangun pula aset yang lain: pengalaman kerja, jejaring dan mulai memikirkan ide-ide bisnis, dan segmen pasar yang akan dituju nantinya. Timbalah ilmu dari para entrepreneur yang sudah lebih dulu terjun. Pelajari sisi sukses dan gagalnya. Tuangkan ide bisnis dalam suatu business plan sederhana. Buatlah satu business plan untuk tiap ide bisnis utama. Lakukan sedikit riset tentang pasar yang akan dituju, buat proyeksi penjualan dan gambaran laba ruginya agar kita punya bayangan ide yang mana yang lebih menjanjikan.

Beberapa kawan langsung menjadi entrepreneur begitu lulus, bahkan sambil kuliah. Memulai bisnis sendiri dalam skala kecil dan ketika belum punya tanggungan, punya keuntungan tersendiri. Suatu bisnis biasanya mengalami beberapa kegagalan sebelum berhasil. Dari setiap kegagalan kita akan belajar banyak. Memulainya lebih awal memberikan kesempatan belajar secara lebih dini. Mengambil analogi tulang muda yang lebih mudah pulih ketika patah atau retak, gagal pada usia muda biasanya lebih mudah untuk bangun lagi.

Jalur yang mana yang paling tepat untuk kita? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, termasuk bila ternyata menjadi entrepreneur bukan merupakan pilihan. ”Memulai bisnis di saat krisis ekonomi begini? Bukannya terlalu berisiko?” Mungkin begitu pendapat mereka yang berpandangan pesimis terhadap krisis. Padahal, memulai bisnis saat ini justru menjanjikan. Begitu kata pakar pemasaran Rhenald Kasali, pembicara pertama dalam Seminar Wirausaha Taklukkan Krisis! Gali Potensi Lokal untuk Sukses Berwirausaha, di Balai Kartini, Jakarta.

”Sekarang ini saat yang tepat bila ingin memulai usaha. Tak perlu khawatir karena umumnya grafik perekonomian itu seperti gunung. Setelah turun, pasti akan naik lagi. Jadi, jika Anda mulai ’menanam’ sekarang, nantinya bisa ’memanen’ di saat ekonomi mulai membaik,” ungkapnya optimistis.

Namun, sukses berbisnis tentu tidak datang dengan sendirinya. Piawai membaca keinginan konsumen yang selalu berubah merupakan kunci penting memenangi pasar. Jadi, produk yang dijual harus disesuaikan dengan selera dan tren yang ada. Dalam berjualan juga diperlukan cara-cara baru, karena terjadi perubahan dalam cara-cara pembelian. Selain itu, agar bisa bertahan, pengusaha harus bisa menekan struktur biaya produksi. Sebab, kemugkinan sebagian bahan baku akan meningkat harganya. Misal dengan mencari bahan baku lokal yang lebih murah tanpa menurunkan kualitas, serta memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk.

Untuk sukses berbisnis, pengusaha harus mampu bersahabat dengan ketidakpastian. Sebab dalam berbisnis, umumnya orang selalu melihat untungnya lebih dulu. Padahal yang mesti dipikirkan adalah risikonya. “Ketidakpastian itu akan makin bertambah jika Anda berbisnis di bidang yang tidak Anda kenal,“ kata Rhenald. “Karena itu, bila ingin berbisnis dengan risiko yang kecil, mulailah dari bidang yang Anda akrabi. Yang tak kalah penting, tetaplah menyediakan ’payung cadangan’. Jangan jor-joran menghabiskan uang Anda ke dalam satu usaha. Buatlah alternatif lain. Atau jika hanya punya satu rumah, jangan diagunkan untuk memulai bisnis Anda. (fn/qb/wf/suaramedia.com)