fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Saat Atasan Menjadi Orang Menyebalkan

http://3.bp.blogspot.com/_SkBxfPQYeEg/TPUYLVQe6-I/AAAAAAAAAFU/Cda_oLmYVWE/s320/i-hate-my-job.jpgDi dunia pekerjaan, seakan tak pernah ada waktu untuk lengah. Saat Anda sudah merasa nyaman, akan ada hal-hal di luar dugaan. Yang tadinya keadaan aman dan tenteram, datanglah kompetitor, saat Anda sudah bisa menerima keberadaan ancaman, atasan Anda berulah. Hm, yang satu itu memang agak sulit dihadapi. Padahal Anda tidak bisa semena-mena bertingkah melawan atasan atau pindah kerja. Tak semudah itu mencari pekerjaan di luar sana.


Siapa pun yang memiliki posisi tinggi, baik itu manager, supervisor, ataupun kepala departemen, akan selalu merasa tertekan untuk membuktikan nilai mereka. Selain harus membuktikan kinerja mereka, mereka juga harus membuktikan bahwa bawahannya bekerja dengan baik dan menghasilkan. Tak sedikit dari mereka (para atasan), bekerja dengan tekanan tinggi tetapi dengan segala keterbatasan. Bekerja di bawah kondisi yang penuh tekanan bisa membuat si bos berlaku kurang adil atau malah menyebalkan. Bisa saja atasan yang tadinya Anda hormati kredibilitasnya berubah dan melakukan hal-hal seperti ini:
- Memberi pesan berbeda-beda yang membuat Anda bingung.
- Mencari-cari kesalahan yang Anda lakukan, padahal cuma sekali saja.
- Memaki atau mengeluarkan kata-kata yang tak nyaman didengar.
- Seakan tidak menganggap Anda ada.
- Mengambil pujian atas hasil kerja Anda.
- Berbohong atau mengubah fakta.
- Bersikukuh selalu paling benar.
- Mengadu atau membandingkan bawahan.
- Mengabaikan stafnya.
- Menolak mengambil keputusan.

Sebagai respon terhadap sikap bos yang kurang mengenakkan itu, secara alami, Anda akan lari ke satu titik kenyamanan Anda. Anda mungkin akan menghindari si bos, mengeluhkan tentang sikapnya yang tidak mengenakkan ke orang lain, atau bahkan tiba di satu titik Anda tak lagi sanggup menghadapi bos Anda dan menolak untuk bekerja sama.

Wajar saja, reaksi defensif semacam ini merupakan upaya Anda untuk mengambil kontrol dalam diri Anda untuk mengerti apa maksud atasan Anda. Katherine Crowley dan Kathi Elster, pengarang "Working for You Isn't Working for Me: The Ultimate Guide to Managing Your Boss," memberikan 5 taktik menghadapi masalah yang umum dihadapi karyawan dengan atasannya.

1. Obsesi
Anda tak mengerti sikap bos Anda yang memberi pesan-pesan tidak jelas. Tidak bicara, tapi memberikan gestur tubuh, dan lain sebagainya. Otak Anda terus menerus menerka-nerka apa yang ia coba katakan dan mengerti apa yang sedang terjadi. Anda me-review dan mengulang-ulang isi pembicaraan atau SMS dari bos Anda, bahkan berulang-ulang membaca e-mail darinya atau selalu mengulang kata-kata Anda untuk dikirimkan kepadanya. Anda terus menerus mencoba mencari cara menghadapi masalah dengan bos Anda.

Coba: Lakukan suatu hal yang membuat Anda terobsesi akan suatu hal, dan tanyakan pada diri Anda, "Apakah hal seperti ini akan membantu memperjelas situasi?" Jawablah diri Anda, "Tidak!" Lalu, lakukan kegiatan fisik, seperti berolahraga, berjalan kaki, main, atau hal fisik lain. Gunakan kegiatan fisik yang melelahkan untuk mengeluarkan kemarahan dan menenangkan pikiran Anda supaya solusi bisa terwujud.

2. Penghindaran

Tak mengerti bagaimana cara menghadapi bos, Anda pun mencoba menghindari kontak langsung dengannya. Anda menahan kebiasaan untuk berbasa-basi, diam saja di rapat, dan cenderung bersembunyi.

Coba: Hadapi keinginan Anda untuk bebas dengan komitmen bisa berdiri tegak dengan pendirian Anda. Menghindari masalah dengan bersembunyi saat ada bos Anda hanya membuat Anda terlihat seperti pengecut. Fokuskan diri pada profesionalisme, tetap kerjakan tugas Anda, simpan semua aktivitas pembicaraan dengannya, dan tetap langsungkan komunikasi itu meski menyakitkan.

3. Membayangkan "kepergian" si bos
Ini merupakan bentuk fantasi balas dendam. Anda membayangkan bos Anda tertabrak bus, keracunan di kantin, atau ditangkap polisi. Apa pun fantasi Anda, intinya si bos pergi dan tak ada lagi di kantor. Karena kalau bukan karena dia, kantor adalah tempat kerja yang jauh lebih nyaman dan menyenangkan.

Coba: Ketimbang mengisi pikiran dengan bos Anda terus menerus, coba perluas jaringan profesionalitas Anda dan bangun kredibilitas Anda. Katakan pada diri sendiri, bahwa dipromosi atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik adalah balas dendam terbaik yang bisa Anda lakukan.

4. Menjelek-jelekkan

Ini berkaitan dengan mencari kesempatan untuk mengeluhkan dan menjelek-jelekkan atasan di depan orang lain atau siapa pun yang mau mendengarkan Anda. Anda mencoba menyakiti atasan dengan menodai reputasinya. Aktivitas semacam ini sangat umum terjadi dan amat sulit untuk diredam.

Coba: Saat "godaan" untuk menjelek-jelekkan atasan Anda muncul, hentikan diri Anda. Fokuskan diri Anda untuk mencari saluran lain untuk menyalurkan energi Anda. Ketimbang seperti kebakaran jenggot, ciptakan kesempatan lain. Misal, bangun jejaring, menjaga kontak profesional Anda, dan meng-update resume Anda.

5. Berdiam diri
Segala interaksi antara Anda dan bos seakan menegang. Anda tak lagi menghadapi manager Anda secara langsung dan merespon akan segala tugas yang ia berikan dengan diam. Saat rapat, Anda tidak melakukan kontak mata, dan segala sikap Anda kepadanya cenderung terkesan "jijik" atau kesal.

Coba: Siapa pun yang menunjukkan sikap-sikap semacam ini biasanya merasakan sakit emosional yang luar biasa. Strategi terbaik yang bisa Anda lakukan, antara lain adalah dengan bersikap seanggun dan seprofesional mungkin. Coba cari bantuan profesional untuk menghadapi frustasi Anda dan merencanakan masa depan Anda.


Nadia Felicia/kompas/careerbuilder